Translate

Jumat, 26 Desember 2014

Makalah Penelitian Tindakan Kelas materi logaritma

Penelitian tindakan adalah sebuah proses di mana para peserta (participants) menguji praktik pendidikan mereka sendiri secara sistematik dan hati-hati dengan menggunakan teknik-teknik penelitian untuk melakukan perbaikan terhadap sistem, cara kerja, proses, isi atau situasi pembelajaran yang lebih efektif sehinggan profesionalitas mereka berkembang. Meskipun ada beberapa tipe penelitian tindakan yang dapat dilakukan oleh seorang guru, penelitian tindakan sebaiknya secara khusus merujuk pada melakukan penelitian sesuai dengan keahlian seorang guru. Penelitian tindakan yang dilakukan dengan bermaksud memberitahu dan mengubah praktik-praktik pembelajarannya di masa mendatang. Penelitian tindakan ini berpengaruh pada lingkungan guru bekerja yaitu siswa-siswa dan sekolah di mana guru bekerja. Ketika orang menyebut seorang guru professional, berarti guru tersebut sudah mampu merubah minimal lingkungan kerjanya menjadi lebih efektif dan efisien dari pada keadaan sebelumnya 
Berikut ini akan diberikan contoh masalah, model dan cara menerapkan model tersebut kedalam suatu penelitian tindakan kelas, dalam bentuk makalah.
Semoga bermanfaat...


Materi                          : Logaritma
Identifikasi Masalah   :
Pada umumnya para siswa kurang berminat terhadap mata pelajaran matematika karena dianggap sebagai pelajaran yang sangat sulit karena harus menghitung dan menghafalkan rumus. Beberapa masalah yang terjadi dalam pembelajaran, yaitu :
1. Siswa mempunyai anggapan bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang   sukar untuk dipelajari
2. Siswa tidak berani bertanya dan cenderung pasif
3. Pengetahuan dan informasi yang diterima siswa masih sebatas produk hafalan
4. Rendahnya tingkat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran
5. Guru sering tidak menggunakan metode pembelajaran yang sesuai
Rendahnya penguasaan siswa pada materi logaritma dan yang menjadi fokus pada penelitian ini adalah tidak efektifnya pengajaran yang dilakukan oleh guru dalam mengajarkan materi logaritma. Tidak efektifnya pengajaran yang dilakukan guru tersebut diduga akibat kurang tepatnya guru dalam menggunakan strategi pembelajaran. Hal ini ditandai adanya kecenderungan guru dalam mengajarkan materi tersebut dengan metode ceramah secara klasikal. Dilandasi keinginan untuk mencari strategi pembelajaran yang tepat dan efisien untuk meningkatkan hasil nilai penguasaan materi logaritma. Peningkatan hasil belajar pada materi logaritma dan efektifitas pembelajaran yang diharapkan oleh peneliti adalah dengan langkah mengarahkan pembelajaran siswa aktif secara kelompok besar maupun dalam kelompok kecil. Selain harapan yang telah disampaikan diatas penelitian ini diharapkan dapat merubah paradigma guru dalam melakukan pembelajaran dari guru sebagai pusat belajar agar beralih ke siswa.
Treatment        : Model Active Learning ( Pembelajaran Aktif) tipe Jigsaw Learning. Guna mewujudkan harapan yang diinginkan oleh peneliti maka peneliti menerapkan strategi pembelajaran aktif dengan menggunakan teknik pembelajaran kelompok besar dan pembelajaran kelompok kecil.
Judul               : “Meningkatkan Efektifitas Pengajaran Guru Pada Siswa Kelas X di SMAN Dengan Menerapkan Strategi Pembelajaran Aktif Pada Materi Logaritma”.















BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Salah satu regulasi peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah diberlakukannya Kurikulum 2013. Implementasi kurikulum 2013 di sekolah menuntut para guru dan peserta didik untuk lebih kreatif,aktif dan memiliki inovasi dalam pelaksanaan pembelajaran dengan materi pelajaran yang kontekstual di kelas. Kurikulum 2013 lebih menekankan pada pencapaian kompetensi peserta didik, penerapan strategi/metode pembelajaran yang berbasis saintifik dan penerapan teknik penilaian autentik,ini berarti dalam pembelajaran matematika berpusat kepada peserta didik (student oriented) dan bukan lagi bersumber pada guru (teacher oriented). (M-EDUKASI.WEB,2014:07) Fokus proses pembelajaran diarahkan pada pengembangan keterampilan siswa dalam memproseskan pengetahuan, menemukan dan mengembangkan sendiri fakta, konsep, dan nilai-nilai yang diperlukan.
Karakteristik pembelajaran matematika lebih menekankan pada membangun atau mengkonstruksi pengetahuan tentang konsep yang sedang dibahas. Proses mengkonstruksi pengetahuan ini memerlukan kreatifitas guru untuk menciptakan “PAIKEM-GEMBROT” (pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, menyenangkan, gembira dan berbobot) sehingga peserta didik dapat berpartisipasi aktif yang pada akhirnya mereka memiliki pengalaman belajar yang bermakna dan menyenangkan, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan motivator.
Sehingga pada pelaksanaan pengajaran yang dilakukan perlu adanya penelitian  agar didapatkan  pengajaran yang paling efektif untuk digunakan baik pada kesempatan yang sekarang maupun yang akan datang. Pada kesempatan ini peneliti mengadakan penelitian tentang rendahnya penguasaan siswa pada materi logaritma , dan yang menjadi fokus pada penelitian ini adalah tidak efektifnya pengajaran yang dilakukan oleh guru dalam mengajarkan materi logaritma tersebut. Tidak efektifnya pengajaran yang dilakukan guru tersebut diduga akibat kurang tepatnya guru dalam menggunakan strategi pembelajaran. Hal ini ditandai adanya kecenderungan guru dalam mengajarkan materi tersebut dengan metode ceramah secara klasikal.
Peningkatan hasil belajar pada materi logaritma dan efektifitas pembelajaran yang diharapkan oleh peneliti adalah dengan langkah mengarahkan pembelajaran siswa aktif secara kelompok besar maupun dalam kelompok kecil.  Selain harapan yang telah disampaikan diatas  penelitian ini  diharapkan dapat merubah paradigma guru dalam melakukan pembelajaran dari  guru sebagai pusat belajar  agar beralih ke siswa. Guna mewujudkan harapan yang diinginkan oleh peneliti seperti di atas maka peneliti menerapkan strategi pembelajaran aktif dengan menggunakan teknik pembelajaran kelompok besar dan pembelajaran kelompok kecil.
1.2.Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dikaji pada penelitian ini adalah :
1        Apakah melalui strategi pembelajaran aktif  dapat meningkatkan penguasaan materi logaritma bagi siswa kelas  X di SMA Negeri?
2        Apakah strategi pembelajaran aktif merupakan pembelajaran yang efektif untuk mengajarkan materi logaritma bagi siswa kelas X di SMA Negeri ?

1.3.Tujuan Penelitian
Tujuan dari pada penelitian yang dilakukan pada kelas X di SMA Negeri  adalah :
1        Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan penguasaan materi logaritma bagi siswa kelas X di SMA Negeri.
2        Mencari pengajaran yang efektif untuk mengajarkan materi logaritma bagi siswa kelas X di SMA Negeri.
3        Meningkatkan penguasaan materi logaritma bagi siswa kelas X di SMA Negeri dengan menggunakan strategi pembelajaran aktif.

1.4.Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian yang dilakukan ini adalah :
  1. Siswa dapat meningkatkan penguasaan materi logaritma  melalui strategi pembelajaran aktif.
  2. Siswa dapat mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan penguasaan materi logaritma tersebut dengan secara aktif  dalam pembelajaran.
  3. Guru mendapatkan suatu strategi pembelajaran yang efektif untuk mengajarkan materi logaritma bagi siswa kelas X di SMA Negeri.

















BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Strategi Belajar dan Mengajar
Pada setiap pengajaran ada tujuan yang harus dicapai dan untuk pencapaian tujuan tersebut kita perlu menyampaikan topik – topik yang  didalamnya ada konsep – konsep yang harus sampai pada siswa, dan untuk itu diperlukan pendekatan tertentu seperti pemecahan masalah , latiahan soal, dan mungkin dengan pendekatan yang lainnya.  
Andi Hakim Nasution ( 1988 : 243 dalam ptk01,2010 : 04 ) menyatakan bahwa dalam suatu pengajaran yang berkaitan dengan suatu materi kurikulum tertentu prinsip keterlaksanaan dipenggaruhi oleh empat komponen pokok yaitu pembawa materi , penyaji materi , pendekatan dan penerima materi. Pengaturan materi kurikulum tersebut dinamakan strategi belajar mengajar. Pada pengajaran matematika sampai sekarang ini masih menggunakan strategi belajar mengajar langsung dan sempit. Maksudnya adalah materi pelajaran yang dibawakan guru itu sempit           (dikumpulkan oleh guru itu sendiri ) , penyajinya guru itu sendiri pendekatan yang digunakan deduktif dan siswa yang menerimanya adalah kelompok besar, padahal bila dilihat dari kombinasi yang ada dalam strategi pembelajaran paling tidak ada 81 kombinasi yang dapat dilaksanakan dalam pengajaran.
2.2.Strategi Pembelajaran Aktif
a.      Pengertian Strategi Pembelajaran Aktif
Strategi merupakan istilah lain dari pendekatan, metode atau cara. Di dalam kepustakaan pendidikan istilah-istilah tersebut di atas sering digunakan secara bergantian. Menurut Udin S. Winataputra & Tita Rosita ( 1995: 124 dalam ptk01,2010 : 04) istilah strategi secara harfiah adalah akal atau siasat. Sedangkan strategi pembelajaran diartikan sebagai urutan langkah atau prosedur yang digunakan guru untuk membawa siswa dalam suasana tertentu untuk mencapai tujuan belajarnya. Sedangkan pembelajaran aktif menurut Hisyam Zaini, Bermawy Munthe & Sekar Ayu Aryani (2007:xvi dalam ptk01,2010 : 04 ) adalah suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif. Ketika peserta didik belajar dengan aktif, berarti mereka yang mendominasi aktifitas pembelajaran. Aktifitas siswa belajar di kelas terwujud bila terjadi interaksi antar warga kelas.  Boakes dalam Mar’at (1984:110) menyatakan bahwa di dalam interaksi ada aktifitas yang bersifat resiprokal (timbal balik) dan berdasarkan atas kebutuhan bersama, ada aktifitas daripada pengungkapan perasaan, dan ada hubungan untuk tukar-menukar pengetahuan yang didasarkan take and give, yang semuanya dinyatakan dalam bentuk tingkah laku dan perbuatan. Lebih lanjut, Syamsu Mappa dan Anisa Basleman (1994:46) menyatakan hubungan timbal balik antar warga kelas yang harmonis dapat merangsang terwujudnya masyarakat kelas yang gemar belajar. Dengan demikian, upaya mengaktifkan siswa belajar dapat dilakukan dengan mengupayakan timbulnya interaksi yang harmonis antar warga di dalam kelas. Interaksi ini akan terjadi bila setiap warga kelas melihat dan merasakan bahwa kegiatan belajar tersebut sebagai sarana memenuhi kebutuhannya. Dalam kaitannya dengan proses pembelajaran, berdasarkan teori kebutuhan Maslow, Silberman (2006:30) menyatakan kebutuhan akan rasa aman harus dipenuhi sebelum bisa dipenuhinya kebutuhan untuk mencapai sesuatu, mengambil resiko, dan menggali hal-hal baru.
Dari pembahasan di atas,ada hal - hal yang dapat digunakan guru untuk mengarah pada strategi pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dalam  belajar:
1)      Selalu berpenampilan menarik dan penuh wibawa.
      Kesan pertama siswa saat bertemu gurunya adalah fisik dari guru tersebut. Dengan penampilan yang menarik dan penuh wibawa akan membuat kesan yang positif dari siswa, sehingga dengan mudah guru akan dapat membawa siswa kedalam suasana belajar yang guru inginkan.
2)      Manfaatkan pertemuan pertama dengan siswa untuk perkenalan antar warga kelas, tunjukkan cara-cara belajar matematika yang baik, buatlah kesepakatan (kontrak) terkait norma-norma yang harus dipatuhi oleh warga kelas. 
3)      Buatlah formasi tata letak meja, kursi, pajangan dinding, dan perabot kelas yang lain sesuai dengan kesepakatan warga kelas dan kebutuhan. 
4)      Siapkan semua peralatan  yang akan digunakan di dalam ruang kelas sebelum memulai pembelajaran.
5)      Mulailah proses belajar mengajar dengan materi yang ringan  tetapi menantang yang dapat merangsang siswa turut aktif berpikir. Kemudian masuk pada materi yang akan kita ajarkan dengan senantiasa melibatkan siswa dalam proses belajar mengajar. Misalkan senantiasa mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang materi yang kita ajarkan agar siswa lebih mudah memahami materi yang kita berikan.
6)      Selalu memulai dan mengakhiri pembelajaran tepat waktu serta dengan salam yang menghangatkan, yaitu salam penuh kasih dan hormat.
7)      Gunakan bahasa yang santun, hormat, dan dengan nada bicara yang lembut.
8)      Memahami dan menghormati berbagai perbedaan yang ada.
9)      Menghormati kerahasiaan setiap siswa
10)  Tidak merendahkan dan mencemooh siswa
11)  Memberi kesempatan yang sama kepada semua siswa untuk bicara
12)  Bila seorang siswa mengemukakan pendapat, jadilah pendengar yang baik dan selanjutnya berikan kesempatan kepada  siswa lain untuk memahaminya dan memberikan komentarnya.
13)  Memahami dan menghormati pendapat setiap siswa, bila perlu melancarkan kritik: gunakan bahasa yang mengayomi, dan bila kritik bersifat pribadi seharusnya dilakukan di ruang khusus.
14)  Sekali waktu, berilah kesempatan kepada siswa untuk memberikan saran atau kritik guna perbaikan proses pembelajaran. 
15)  Sediakan waktu untuk berkomunikasi dengan siswa di luar kelas.

b.      Prosedur Pembelajaran Aktif
            Proses pembelajaran di kelas dapat dipandang sebagai tiga bagian kegiatan yang terurut, yaitu: kegiatan awal (pendahuluan), kegiatan inti, dan kegiatan akhir (penutup). Dengan demikian, strategi pembelajaran aktif dapat dirumuskan sebagai prosedur kegiatan yang mengaktifkan siswa pada setiap bagian kegiatan secara terurut. Prosedur tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
1)      Prosedur Mengaktifkan Siswa Belajar Matematika Pada Awal Pembelajaran
Dimensi pertama dalam peristiwa belajar matematika adalah membangun sikap dan persepsi positif terhadap belajar dan matematika sebagai obyek belajar. Kesiapan mental untuk terlibat dalam pembelajaran mutlak dicapai dalam mengaktifkan siswa belajar matematika, oleh karenanya kegiatan membangunkan sikap dan persepsi positif siswa harus dilakukan sejak awal dimulainya pembelajaran. Hal yang harus dilakukan guru pada awal pembelajaran adalah membangunkan minat, membangunkan rasa ingin tahu, dan merangsang siswa untuk berpikir. Bila minat siswa, rasa ingin tahu siswa telah bangkit, serta  siswa telah terangsang untuk berpikir ini berarti siswa telah siap secara mental untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran matematika,  dan bila terjadi sebaliknya berarti secara mental siswa belum siap terlibat dalam pembelajaran. Dengan memodifikasi strategi berbagi pengetahuan secara aktif, mengawali kegiatan pembelajaran aktif dengan prosedur sebagai berikut:
a)      Tentukan rentang waktu yang pasti untuk kegiatan awal pembelajaran.
b)      Ucapkan salam pembuka yang menghangatkan siswa.
c)      Sediakan daftar pertanyaan yang terkait dengan materi pelajaran matematika yang akan diajarkan. Misalnya:
(1)   Kata-kata untuk didefinisikan,
(2)   Soal-soal sederhana dari aplikasi rumus yang telah dikenal,
(3)   Pertanyaan tentang aplikasi matematika sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
b)      Perintahkan siswa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sebaik yang mereka bisa dan dalam waktu yang telah ditentukan.
c)      Perintahkan siswa untuk menyebar di kelas, menanyakan kepada temannya jawaban pertanyaan yang dia sendiri tidak tahu jawabannya, Doronglah siswa untuk saling membantu.
d)     Perintahkan untuk kembali ke tempat semula dan gunakan teknik tanya jawab untuk membahas jawaban yang mereka dapatkan.
e)      Gunakan pertanyaan-pertanyaan arahan sebagai upaya merangsang berpikir siswa menjawab pertanyaan yang tak satupun siswa bisa menjawab.
f)       Gunakan informasi-informasi yang diperoleh dalam kegiatan ini sebagai sarana untuk memperkenalkan topik-topik penting materi pelajaran dalam kegiatan inti.
Secara umum, manusia tidak menyukai suatu kegiatan yang kurang bervariasi. Oleh karena itu perlu dipilih kegiatan lain sebagai variasi kegiatan di atas. Berikut ini dapat menjadi alternatif pilihan.
(1)      Daftar pertanyaan dapat diganti dengan menyediakan kartu indeks dan perintahkan siswa untuk menuliskan satu informasi yang menurut siswa akurat tentang materi yang akan diajarkan.
(2)      Kegiatan menyebar dapat diganti dengan merotasi pertukaran pendapat antar kelompok belajar di kelas.
2)                  Prosedur Mengaktifkan Siswa Belajar Matematika Pada Kegiatan Inti Pembelajaran
Telah dikemukakan di atas bahwa pendidikan matematika di segala jenjang dimaksudkan untuk membangun pengetahuan, keterampilan dan sikap terkait dengan matematika. Pembelajaran aktif dalam pendidikan matematika dapat berlangsung dalam proses penyelidikan atau proses bertanya. Siswa dikondisikan dalam sikap mencari (aktif) bukan sekedar menerima (reaktif). Kondisi ini terjadi jika siswa dilibatkan dalam tugas dan kegiatan yang secara halus mendesak mereka untuk berpikir, bekerja, dan merasakan. Berdasarkan pendapat di atas, upaya yang harus dilakukan guru untuk mengaktifkan siswa belajar matematika adalah: (1) mengkondisikan situasi belajar matematika menjadi kegiatan siswa mengupayakan pemecahan masalah atau mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan, baik masalah atau pertanyaan yang diajukan guru maupun siswa; (2) mendorong ketertarikan siswa untuk mendapatkan informasi atau menguasai keterampilan melalui pemecahan masalah atau mencari jawaban atas pertanyaan; (3) mendesak siswa secara halus untuk bergerak mengkaji atau menilai suatu jawaban pertanyaan, suatu pendapat (gagasan),  atau suatu penyelesaian masalah. Guru dapat menggunakan berbagai strategi dengan berbagai teknik untuk mengaktifkan siswa dalam kegiatan inti. Strategi yang dapat digunakan guru untuk mengaktifkan siswa belajar matematika:
a)            Menstimulir rasa ingin tahu siswa
          Prosedur
1.      Pertanyaan/masalah yang kompleks atau yang mempunyai beberapa kemungkinan jawaban untuk menstimulasi keingintahuan siswa tentang materi yang akan diajarkan. Pertanyaan yang disajikan haruslah merupakan pertanyaan yang menurut guru ada beberapa siswa yang mengetahui jawabannya atau bagian dari jawaban. Pertanyaan dapat berupa pertanyaan sehari-hari, cara melakukan sesuatu, definisi, cara kerja (prosedur).
2.      Doronglah siswa untuk berpikir, membuat skema atau diagram, dan membuat dugaan umum. Gunakan frase semisal “ coba tebak” atau “coba jawab”
3.      Jangan buru-buru memberikan tanggapan. Tampung semua dugaan siswa. Ciptakan rasa penasaran tentang jawaban yang sesungguhnya. Sebagai variasi, buatlah siswa berpasangan dan membuat dugaan secara kolektif.
4.      Gunakan pertanyaan itu untuk mengarahkan siswa kepada apa yang hendak diajarkan. Anda perlu memastikan bahwa siswa lebih menaruh perhatian terhadap pelajaran dibanding biasanya.
b). Menstimulir siswa untuk belajar mandiri
      Prosedur
1.      Bagikan kepada siswa bahan ajar, disertai beberapa pertanyaan/masalah yang terurut dari yang sederhana sampai yang kompleks.
2.      Perintahkan siswa untuk mempelajari bahan ajar secara mandiri atau berpasangan.
3.      Perintahkan siswa untuk membubuhkan tanda tanya pada materi yang belum mereka pahami. Anjurkan untuk menyisipkan tanda tanya sebanyak mungkin. Perintahkan siswa untuk menyusun pertanyaan sebanyak mungkin terkait dengan tanda tanya yang mereka bubuhkan
4.      Perintahkan siswa untuk mengemukakan pertanyaan secara tertulis. Beri kesempatan siswa lain untuk menanggapinya. Lakukan seterusnya sehingga semua pertanyaan siswa dibahas.
5.      Berikan penjelasan sebagai sarana pemantapan dari jawaban atas pertanyaan siswa.
6.      Perintahkan siswa menyelesaikan masalah dalam bahan ajar secara mandiri atau berpasangan.
7.      Perintahkan siswa untuk mengemukakan jawaban masalah. Berikan kesempatan siswa lain memberikan komentar atau mengemukakan kemungkinan jawaban lain.
8.      Berikan pemantapan jawaban atas pertanyaaan
9.      Jika guru merasa bahwa siswa akan mengalami kesulitan mempelajari sendiri bahan ajar, berikan sejumlah informasi yang mengarahkan mereka.
c). Menstimulir siswa untuk belajar bersama dalam kelompok.
    Prosedur
   1.                     Perintahkan siswa secara mandiri mempelajari bahan ajar
   2.                     Perintahkan untuk menuliskan hal yang belum diketahui dalam bentuk pertanyaan.
   3.                     Perintahkan untuk membentuk kelompok. Perintahkan masing-masing kelompok memberi nama kelompok dengan nama dalam matematika, misalnya: kelompok aljabar, kelompok Phytagoras dan sebagainya.
   4.                     Diskusikan pertanyaan-pertanyaan dari masing-masing anggota kelompok.
   5.                     Berikan tugas memecahkan masalah, dengan petunjuk yang jelas. misalnya: tuliskan rumus, gambarkan, buat skema atau diagram yang kamu gunakan untuk menjawab.
   6.                     Berikan peran pada anggota kelompok. Misalnya: fasilitator, pencatat, juru bicara, pengatur waktu.
   7.                     Berikan kesempatan masing-masing kelompok untuk menyajikan hasil diskusi di depan kelas.
   8.                     Perintahkan siswa untuk kembali ke posisi semula dan lakukan salah salah satu berikut:
1.               Membahas materi secara bersama
2.               Dapatkan pertanyaan dari siswa
3.               Beri siswa pertanyaan kuis
4.               Sediakan latihan penerapan atau kuis bagi siswa untuk menguji pemahaman mereka.
d). Belajar berpasangan
     Prosedur:
(1)      Berikan kepada siswa, satu atau beberapa permasalahan yang memerlukan perenungan dan pemikiran.
(2)      Perintahkan siswa untuk menyelesaikan masalah secara perseorangan.
(3)      Setelah semua siswa menyelesaikan masalah, aturlah menjadi sejumlah pasangan dan perintahkan mereka untuk berbagi jawaban satu sama lain.
(4)      Perintahkan pasangan untuk membuat jawaban baru bagi tiap masalah, memperbaiki tiap jawaban perseorangan
(5)      Bila semua pasangan telah menuliskan jawaban baru, bandingkan jawaban dari tiap pasangan dengan pasangan lain di dalam kelas.
(6)      Perintahkan seluruh siswa untuk memilih jawaban yang tepat untuk tiap pertanyaan. Untuk menghemat waktu, bagilah seluruh siswa dalam 4 kelompok besar berilah nama kelompok. Berikan permasalahan yang berbeda pada masing-masing kelompok Pada akhir sesi, perintahkan masing-masing kelompok untuk menyajikan jawaban terbaiknya. Berikan hadiah pada jawaban terbaik.
e)         Turnamen belajar
       Prosedur:
(1)   Bagilah siswa menjadi sejumlah tim beranggotakan 2 hingga 8 siswa. Pastikan bahwa tim memiliki jumlah anggota yang sama. Perintahkan untuk memberi nama kelompok masing-masing.
(2)   Berikan bahan ajar kepada tim untuk dipelajari bersama.
(3)   Buat beberapa pertanyaan yang dapat menguji aspek ingatan dan pemahaman terhadap materi yang diberikan. Gunakan format yang memudahkan penilaian sendiri. Misalnya: pilihan ganda, melengkapi, benar-salah, atau definisi istilah, menyatakan rumus atau teorema.
(4)   Perintahkan siswa untuk menjawab secara perseorangan. Pastikan hal ini dilakukan oleh masing-masing siswa.
(5)   Setelah semua siswa menyelesaikan jawaban mereka, aturlah menjadi sejumlah pasangan dan perintahkan mereka untuk berbagi jawaban satu sama lain.
(6)   Lakukan diskusi kelas untuk menentukan jawaban dari pertanyaan.
(7)   Perintahkan siswa untuk menghitung jumlah pertanyaan yang mereka jawab dengan benar, dan mintalah mereka untuk memberikan skor.
(8)   Perintahkan siswa untuk menyatukan skor mereka dengan anggota tim mereka untuk mendapatkan skor tim. Umumkan skor dari tiap tim. Berikan hadiah atau berilah tepuk tangan pada tim yang memperoleh skor tertinggi. Sebutlah ini sebagai “ronde satu”.
(9)   Perintahkan mereka untuk belajar lagi untuk ronde ke dua dalam turnamen.  Kemudian ajukan pertanyaan tes lagi sebagai bagian dari “ronde kedua”. Perintahkan siswa dengan prosedur seperti ronde satu. Turnamen ini dapat dilakukan dengan jumlah ronde bervariasi dan waktu  tiap ronde dapat dilakukan bervariasi, namun pastikan bahwa setiap ronde siswa menjalani sesi belajar. Dengan kesepakatan siswa, guru dapat memberikan pinalti (hukuman) kepada siswa yang memberikan jawaban salah dengan pengurangan nilai (misal -1 atau -2) dan memberikan nilai 0 pada siswa yang tidak menjawab.
f)          Menstimulir pembelajaran antar siswa
       Prosedur
(1)            Bentuklah kelompok dengan jumlah kelompok sesuai dengan topik (sub pokok bahasan) yang akan dipelajari siswa. Topik dipilih yang saling terkait.
(2)            Beri setiap kelompok sejumlah informasi, konsep, atau keterampilan untuk diajarkan kepada siswa lain.
(3)            Perintahkan setiap kelompok untuk menyusun cara dalam menyajikan atau mengajarkan topik mereka kepada siswa lain. Sarankan mereka untuk menghindari cara ceramah atau semacam pembacaan laporan. Doronglah mereka untuk menjadikan pengalaman belajar sebagai pengalaman yang aktif bagi siswa
(4)            Kemukakan beberapa saran berikut ini:
(a)       Sediakan media visual
(b)      Berikan kesempatan temanmu untuk membaca materi terlebih dahulu.
(c)       Gunakan contoh atau analogi untuk menyajikan poin-poin pengajaran
(d)      Libatkan temanmu dalam diskusi atau tanya jawab.
(e)       Berikan kesempatan pada temanmu untuk bertanya
(f)       Berikan waktu yang cukup untuk merencanakan dan mempersiapkan (baik di dalam maupun di luar kelas). Kemudian perintahkan tiap kelompok untuk menyajikan pelajaran mereka. Beri tepuk tangan atas usaha mereka. Sebagai alternatif dari pengajaran model ini adalah perintahkan siswa untuk mengajarkan atau memberi bimbingan kepada siswa lain secara individual atau dalam kelompok kecil.

3)                     Strategi menutup pembelajaran matematika
Pada kegiatan menutup pembelajaran dapat dimanfaatkan guru untuk:
a)         Memberikan kesempatan bagi siswa merangkum atau membuat ikhtisar dari pelajaran pada hari itu,
b)         Memotivasi siswa untuk mempelajari ulang bahan ajar dan atau menyelesaikan tugas rumah secara mandiri atau kelompok,
c)         Memberikan informasi bahan ajar pertemuan berikutnya,
d)        Mendapatkan penilaian dari siswa guna perbaikan proses pembelajaran, dan
e)         Memberikan salam penutup.
Cara yang baik untuk membelajarkan membuat ikhtisar bahan ajar adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk membuat ikhtisar dan menyajikan ikhtisar kepada siswa lain. Strategi berikut dapat digunakan guru:
Prosedur
a)      Jelaskan kepada siswa bahwa bila guru yang membuat ikhtisar pelajaran, itu bertentangan dengan prinsip belajar aktif.
b)      Bagilah siswa menjadi kelompok beranggotakan dua hingga 4 orang.
c)      Perintahkan setiap kelompok untuk membuat ikhtisar pelajaran pada hari itu. Doronglah setiap kelompok untuk membuat uraian singkat guna disampaikan pada kelompok lain. Gunakan pertanyaan panduan, misalnya:
(1)   Apa judul materi yang baru saja dipelajari?
(2)   Tuliskan definisi atau rumus yang baru saja dipelajari secara terurut!
(3)   Digunakan dalam masalah apa saja rumus yang baru di pelajari?
c. Strategi Pembelajaran Aktif  Tipe Jigsaw Learning
1. Pengertian Jigsaw Learning(rofayuliaazhar,2012:06)
Jigsaw Learning dapat diartikan sebagai sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bekerjasama dengan sesama peserta didik dalam kelompok untuk mengerjakan tugas-tugas yang terstruktur. Guru diharapkan mampu menggunakan model-model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan. Model Jigsaw Learning yang penuh dengan bentuk aktivitas peserta didik tentunya menekankan pentingnya peserta didik membangun sendiri pengetahuan mereka dalam proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar lebih diwarnai student centered daripada teacher centered, arah pembelajaran tidak hanya berasal dari guru tetapi peserta didik juga dapat belajar dengan sesamanya. Selain itu, peserta didik tidak hanya mempelajari materi saja tetapi juga keterampilan kooperatif. Keterampilan kooperatif ini berfungsi untuk melancarkan hubungan kerja dan tugas yang dapat dibangun dengan mengembangkan komunikasi antara anggota kelompok. Sedangkan peranan tugas dilakukan dengan membagi tugas antar anggota kelompok selama kegiatan pembelajaran.
Teknik mengajar Jigsaw dikembangkan oleh Aronson dan teman-temannya di Universitas Texas, kemudian diadaptasi oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkins. Teknik ini menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara. Dalam teknik ini guru memperhatikan latar belakang pengalaman peserta didik dan membantu peserta didik aktif dalam belajar. Model pembelajaran Jigsaw Learning tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. Ada unsur-unsur dalam pembelajaran Jigsaw Learning yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Pelaksanaan prosedur model Jigsaw Learning dengan benar akan memungkinkan pendidik mengelola kelas dengan lebih efektif sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai. Dari beberapa penjelasan tersebut, Jigsaw Learning dapat diartikan sebagai model pembelajaran yang menerapkan sistem pengelompokan atau tim kecil, antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang berbeda untuk bekerjasama dengan sesama peserta didik dalam mengerjakan tugas-tugas yang terstruktur. Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompok yang lain. Dengan demikian, “siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan”.
Pada model pembelajaran tipe Jigsaw terdapat kelompok asli dan kelompok ahli. Kelompok asli yaitu kelompok induk siswa yang beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa kelompok ahli. Kelompok ahli yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal.
2.      Ciri-ciri Jigsaw Learning(rofayuliaazhar,2012:06)
a.    Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
b.   Kelompok dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
c.    Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, jenis kelamin berbeda beda.
d.   Penghargaan lebih berorientasi kelompok dari pada individu.
3.      Model-model Jigsaw Learning(rofayuliaazhar,2012:06)
Dalam pembelajaran Jigsaw Learning terdapat dua pengelompokkan, yaitu :
a.    Kelompok jangka pendek, artinya jangka waktu untuk bekerja dalam kelompok tersebut hanya pada saat itu saja, jadi sifatnya insidental.
b.   Kelompok jangka panjang, artinya proses kerja dalam kelompok itu bukan hanya pada saat itu saja, mungkin berlaku untuk satu periode tertentu sesuai dengan tugas atau masalah yang akan dipecahkan.
4.      Langkah-langkah Jigsaw Learning(rofayuliaazhar,2012:06)
Langkah-langkah melaksanakan teknik Jigsaw dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.    Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok sesuai dengan segmen yang ada.
b.   Sebelum bahan pelajaran dibagikan guru memberikan pengenalan mengenai topik yang akan dibahas.
c.    Guru membagi materi yang berbeda pada setiap kelompok untuk dipelajari, didiskusikan dan dipahami.
d.   Setelah selesai, setiap kelompok mengutus delegasi kekelompok lain untuk menjelaskan materi yang telah dipelajari dan didiskusikan.
e.    Guru mengembalikan suasana kelas seperti semula kemudian menanyakan seandainya ada persoalan-persoalan yang tidak terpecahkan dalam kelompok.
f.    Guru memberikan pertanyaan pada peserta didik untuk mengecek pemahaman mereka terhadap materi yang telah dipelajari.
g.   Guru melakukan kesimpulan, klarifikasi dan tindak lanjut.
5. Kelebihan dan Kelemahan Model Belajar Aktif Tipe Jigsaw Learning(rofayuliaazhar,2012:06)
Kelebihan model belajar aktif tipe Jigsaw Learning:
a.  Siswa lebih aktif karena siswa diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan menjelaskan materi pada masing-masing kelompok.
b.  Siswa lebih memahami materi yang diberikan karena dipelajari lebih dalam dan sederhana dengan anggota kelompoknya.
c.   Siswa lebih menguasai materi karena mampu mengajarkan materi tersebut kepada teman kelompok belajarnya.
d.   Materi yang diberikan dapat merata.
e.   Meningkatkan kerja sama kelompok.
Kelemahan model belajar aktif tipe Jigsaw Learning:
a.     Waktu yang dibutuhkan dalam pembelajaran relatif lama.
b.   Jika tidak di dukung dengan kondisi kelas yang mumpuni (luas) metode sulit di jalankan mengingat siswa harus beberapa kali berpindah dan berganti kelompok.

2.3.Pembelajaran  Efektif
Dalam proses belajar mengajar agar didapatkan suatu hasil yang maksimal maka diperlukan suatu teknik pembelajaran yang efisien dan efektif sehingga tidak mengahabiskan waktu yang lama dan bertele-tele yang kadang hasilnya kurang memuaskan. Oleh karena itu perlu diketahui dalam tanya jawab yang efektif  dan interaksi yang efektif dalam pembelajaran. Tanya jawab dapat digunakan untuk memeriksa pemahaman siswa untuk memberikan dasar pada pembelajaran siswa, untuk membantu siswa dalam mengklarifikasikan dan memverbalisasikan pikiran mereka, dan membantu siswa mengembangkan sense of mastery ( perasaan menguasai sesuatu ). Tanya jawab yang efektif  dapat terjadi bila penguasaan diri yang solid tentang strategi – strategi mana yang paling efektif.
Di dalam pembelajaran yang mengunakan pembelajaran langsung , berbagai pertanyaan perlu dilontarkan pada awal pelajaran, ketika topik dari pelajaran sebelumnya diulas. Agar tanya jawab efektif tercapai maka seorang pengajar perlu mencampur pertanyaan tingkat tinggi dan tingkat rendah mencakup produk dan proses serta pertanyaan terbuka dan tertutup , namun seorang pengajar harus memastikan bahwa ada cukup banyak pertanyaan proses tingkat tinggi dan terbuka. Dalam tanya jawab yang efektif dalam pembelajaran langsung bila siswa  menjawab benar diberikan respon positif namun impersonal dan bila seorang siswa memberikan jawaban yang kurang sepenuhnya benar , maka pengajar perlu memberikan kisi - kisi kepadanya untuk menemukan jawaban yang benar.
Bentuk interaksi lain yang efektif dalam pembelajaran adalah diskusi kelas, namun suatu diskusi agar efektif perlu disiapkan dengan seksama. Pengajar perlu memberikan pedoman yang jelas kepada siswa tentang apa yang didiskusikan. Selama diskusi siswa perlu dipastikan untuk tetap pada tugasnya, dan guru perlu menuliskan poin – poin utama yang muncul selama diskusi. Setelah diskusi poin-poin utama ( produk diskusi ) ini dapat dirangkum dan siswa diminta untuk meberikan komentar tentang seberapa baik diskusi itu tersebut berjalan ( proses diskusi ). Agar pembelajaran efektif guru juga harus memastikan bahwa siswa – siswa yang pemalu yang mungkin kurang aktif  untuk diberikan kesempatan dalam keterlibatannya dalam proses belajar mengajar.
2.4.Hasil belajar Matematika
            Penekanan pembelajaran matematika lebih diutamakan pada proses dengan tidak melupakan pencapaian tujuan. Proses ini lebih ditekankan pada proses belajar matematika seseorang. Tujuan yang paling utama dalam pembelajaran matematika adalah mengatur jalan pikiran untuk memecahkan masalah bukan hanya menguasai konsep dan perhitungan walaupun sebagian besar belajar matematika adalah belajar konsep struktur ketrampilan menghitung dan menghubungkan konsep-konsep tersebut. Gagne dan Briggs (1978:49-55 dalam ptk01,2010:04) menerangkan bahwa hasil belajar yang berkaitan dengan lima kategori tersebut adalah : (1) ketrampilan intelektual adalah kecakapan yang berkenaan dengan pengetahuan prosedural yang terdiri atas deskriminasi jamak, konsep konkret dan terdefinisi kaidah serta prinsip, (2) strategi kognitif adalah kemampuan untuk memecahkan masalah–masalah baru dengan jalan mengatur proses internal masing – masing individu dalam memperlihatkan, mengingat dan berfikir, (3) informasi verbal adalah kemampuan untuk mendiskripsikan sesuatu dengan kata-kata dengan jalan mengatur informasi –informasi yang relevan, (4) ketrampilan motorik adalah kemampuan untuk melaksanakan dan mengkoordinasikan gerakan–gerakan yang berhubungan dengan otot, (5) sikap merupakan kemampuan internal yang berperan dalam mengambil tindakan untuk menerima atau menolak berdasarkan penilaian terhadap obyek tersebut. Bloom (1976:201-207 dalam Erman : 2003) membagi hasil belajar menjadi kawasan yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Kawasan kognitif berkenaan dengan ingatan atau pengetahuan dan kemampuan intelektual serta keterampilan- keterampilan. Kawasan afektif menggambarkan sikap-sikap, minat dan nilai serta pengembangan pengertian atau pengetahuan dan penyesuaian diri yang memadai. Kawasan  psikomotor adalah kemampuan–kemampuan menggiatkan dan mengkoordinasikan gerak. Kawasan kognitif dibagi atas enam macam kemampuan intelektual mengenai lingkungan yang disusun secara hirarki dari yang paling sederhana  sampai kepada yang paling kompleks, yaitu (1) pengetahuan adalah kemampuan mengingat kembali hal-hal yang telah dipelajari, (2) pemahaman adalah kemampuan menangkap makna atau arti suatu hal, (3) penerapan adalah kemampuan mempergunakan hal – hal yang telah dipelajari untuk menghadapi situasi–situasi baru dan nyata, (4) analisis adalah kemampuan menjabarkan sesuatu menjadi bagian–bagian sehingga struktur organisasinya dapat dipahami, (5) sintesis adalah kemampuan untuk memadukan bagian–bagian menjadi satu keseluruhan yang berarti, (6) penilaian adalah kemampuan memberi harga sesuatu hal berdasarkan kriteria intern atau kelompok atau kriteria ekstern ataupun yang ditetapkan lebih dahulu. Dengan hasil belajar matematika  dalam penelitian ini adalah hasil dari seorang siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar matematika yang diukur dari kemampuan siswa tersebut dalam menyelesaikan suatu permasalahan matematika
B.     Kerangka Pemikiran
Dengan menerapkan strategi pembelajaran aktif maka seorang siswa akan selalu terlibat secara langsung dalam pembelajaran , sehingga dengan keterlibatan ini materi yang dibahas akan selalu teringat dalam pemikirannya dan konsep yang harus dikuasai siswa akan mudah diterimanya hal ini sesuai dengan prinsip learning by doing yang menyatakan bahwa pembelajaran akan cepat dikuasai siswa dengan siswa tersebut ikut aktif dalam pembelajaran.  Bertolak dari pemikiran bahwa membawa siswa aktif dalam pembelajaran akan memudahkan siswa menerima konsep yang harus dikuasainya maka secara otomatis langkah membawa siswa aktif dalam belajar ini merupakan suatu langkah yang efektif untuk menyampaiakan suatu materi ajar.
C.    Logaritma
Logaritma yang akan dibahas pada penelitian kali ini adalah
Standar Kompetensi :  1. Memecahkan masalah yang berkaitan dengan pangkat, akar dan logaritma.
 Kompetensi Dasar      : 1.1 Menggunakan aturan pangkat, akar dan logaritma.
Materi logaritma terdapat pada SMA. Dalam penelitian kali ini akan dibahas mengenai sifat – sifat logaritma.
SIFAT – SIFAT LOGARITMA
Sifat – sifat logaritma dapat digunakan untuk mengubah bentuk – bentuk logaritma kedalam bentuk–bentuk yang diinginkan.

a. Sifat Perkalian Logaritma
Perkalian logaritma sama dengan penjumlahan logaritma dengan basis tetap.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGAb-d30Vjh7L4wRwNj8IQZd4IyaGC8kUtc1MI3ssGzw4bB0WiitYMjIiRagjql5HtX922i4ZPisGq5l0Jxp3Dc19shAjlBkoCH24AQCWq3827iqkFC9iLpgKzsaDD4rY3DXP9cQi358LE/s320/equationF.png

b.Sifat Pembagian Logaritma
Jika hasil logaritma merupakan pembagian,hasilnya dapat diuraikan menjadi operasi pengurangan bilangan logaritma dengan basis tetap.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjcr9m3OwecygSrYiEZmlmxHoPtSEmHLyMoyRRBQ0wRLpEvCxP9XGWoB_quHHaqyIJ9ajNJM6yWeA9AbqlDLH_R2ViR9H2DqxBZmo4n0hNXloHhAhXZ5g4Ht-4rNCl9UFXCShW_spEYFz3I/s320/equationG.png.

c. Sifat Perpangkatan Logaritma
Hasil operasi berupa bilangan logaritma berpangkat, dapat diuraikan sebagai berikut:

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXSW-PpJkmxoUJuRzLJALJv5BsNCRxkt1tG00sE4QNpWfyiDGCgT9adO1Hx_gXaKAm_WduXy2OPaWtixLWDRD7w2XxbACwPsmqx2sYR5FlZIGOZPwPbYV18aq-s6Xas25Du7-VGoiJ7GLo/s320/equationH.png

d. Sifat Penarikan Akar
Jika ada hasil operasi logaritma yang berbentuk akar, ubahlah terlebih dahulu menjadi bentuk pangkat untuk mempermudah penyelesaianya.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4WCSq7Sh8KzkzAiPolkpsECnkYew1-YFzEMViBG8gvrVT2bOgvQErGZP6vYgNagmD57q8YDypIZDfEmA5lAtC33fIVUH-CiETv9APOibpsMCNkrRH02yc9zgytxqpBSkBO5Dk9CG1IsC5/s320/equationI.png
Beberapa Sifat Logaritma yang lain:
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjpAWWRrYel34GALcbxZjCKbyR39prPZBuo8UgDtORVDmRHCg6tHuXgx2WotT6pB0GvwT7RlW-j5aGusfQI021t6el3KAeughfL3lABujb9DSm9sRFgPTxkmt2jCHZNt5z1VgES2Pd9jtWd/s320/equationJ.png 
·         Solusi untuk lebih memahami sifat – sifat logaritma
Ada beberapa jenis permasalahan logaritma. Tetapi yang sering kita jumpai adalah   menyederhanakan dan menghitung nilai suatu logaritma dengan diketahui nilai beberapa logaritma. Untuk menyelesaikan kedua jenis permasalahan tersebut, pertama kita harus tahu sifat-sifat logaritma, dan menurut penelitian cara mudah mengingatnya dengan cara.
Misal:
1. 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSTvK0Cfz24jNo6ABXT3z6md5HYA5Al0NHs_vjFwZvsTtCd030-S4mK1lBN0DY8YhdG50kjMaQMAjeo4WHbq3L1V1AsYY342bN1y7MNx738xMNksviX7ZZrQIcVOEAqQX3ZqToxDR8BWw/s1600/image001.png dapat diingat jika  ditambahkan menjadi dikalikan.

2. 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEieeHfmrvqF2p679632GYrsG7Tw36E5KlOCZmsBNCo6KBJy5yaLnhl-pm00NDyanBxzBZuHm66rdSA7-oNmaQ2PiQDrep3FS_33iCy5zSAcfVjgXgUmyO0Ugr3EiikIDZVp66eH81x1pIM/s1600/image003.png  dapat diingat jika dikurangkan menjadi dibagi.

3. 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhQ-1b5xjidiikSyuTs8SQ_stdTF-rdSOldNgHO64y1z5S8IqnEuTeC0Cpn_Qq7TH2QuB_CHvzKxKKUbJCvtOx-AG1wtsPRB9N5g5GgQW4-4PhRvlnQ9P6MwIzQQX-PFsabaOG2ZhxtG9o/s1600/image005.png dapat diingat jika pangkat didepan maju menjadi dibawah, dan pangkat dibelakang maju menjadi diatas.
 Atas menunjukkan pembilang dan bawah menunjukkan penyebut.

4. 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1vB7GHYdtcHfwziXbmBVCGvX5sKse696vciqNph3vdhdzKDiZ6gedIaQU0QS2lFx93pF6M2Rv6fPXnkGoEdo3uzr-KWZ1xN3khnNkgpu5tqMKuIaasOmv5vpuPS-7IvuUVt2mpkPDi40/s1600/image007.png  dapat diingat dengan logaritma yang dibelakang menjadi logaritma diatas dan didepan menjadi logaritma dibawah, dan p menyesuaikan dengan soal.
5.      https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjvjb2C0hKDHBBm8U98J26yQdMukLIrgEH1qRLSfLqQM8GBuxLNkbW9xtO-6Crge2oF6Los_YSLUQCvQGI35cMdcv3nlwe0UJl5IFuBPZ429MOblBpROudN6aYCSshkDvaxyrta_bNRMXc/s1600/image010.gif dapat diingat dengan logaritma jika ingin dibalik penyebutnya.
 Untuk sifat yang pertama ini seharusnya semua siswa SMA sudah bisa. Misal
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjFKTAlmxOMPu96mscl1h5oC2U_SoQBVCqw76URJi6guplhsvd6W3na-99kOzexNbyC6_DAO-cVAYFgRylhuw9HnrxYAOKUiimvoD-aXbViepYoxlUg1XEHETZ3v9EM1tme-GN8IbthEkk/s1600/image011.png. Hal ini juga berlaku sebaliknya, yaitu https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjQz_4WLg27eq6vRxhRZn0UEedS8IjqjwCKdVIF7UnqMM8F6pz6y5z45lztL4onrol9T2treqmPSqyo1iFhCAwGAFUnm1RrX0ayoyLyRTg-NNTAJvA1vo59bLTdQuapZql0hWGI-miROm4/s1600/image013.png. Ingat bahwa semua sifat itu berlaku sebaliknya.Kedua permasalahan tersebut, langkah pertama untuk menyelesaikannya adalah  membuat semua bilangannya menjadi bilangan berpangkat. Misal https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjmvoRylK-HjRDrKo9XpKxLIUmD-Jh_LLO9T5sLChe-mykxw0J5ApsPdI9RZ1zKiH9GA2CkMbGChRkSSFDuHl3npp-LJsVQnVVCUO7LL6LytC1oZ_J0LVYMwzJw1FWoIacEuXvV4McuUI/s1600/image015.png kita buat menjadi https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiqqBJaU6NTCH2RhebS4CrPIcXFJwtPjL29B9PPT2KQohTDoUwyEXdtFk6pEJNrblT1aokGcIfzupbLcDkcEgTnS9ktzviZTgOdnmDUTJAt_38H3IjWU7ZqRl0BOBfMFzsumhukwzE5Y_s/s1600/image017.png. Kemudian dengan menggunakan sifat 3, pangkatnya kita ‘majukan’, sehingga diperolehhttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivx32lpaFrA0v1w7HdwWXf2c0F81VTRy-pe_Dbubb7h2jK30a5jIwsrd2fvXsJrzlWf2PIIlmcKMOJ0y5rMEvK4eWzqi9UsYEEHt6czeT6FyjxzaH-mponTcdEScKN_fBu-uduPSj_ekY/s1600/image019.png.Apabila ada bilangan yang tidak bisa dipangkatkan, ubah menjadi bentuk perkalian . Misal https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhWWHL0gaVjUq8GLRlDho-glxEVdUSX662tHCBrSG5aatT4UrnNz9ZPV6_Ch91YQazLX7N4AF7bYTNIwvsRDHFB5XjSa1TnddGTVDYZTET6GUxAL28n5dkeLXjqj8fD2XvO4ojn8rsASvQ/s1600/image021.png kita ubah menjadi https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg2aO5Q6ehAKaJEXFXIgLi5qBx2ncAHQNBLnZ4isPz2KmZLVGENe3gdEY1ZAfluF4N9ISKhC0ZLzGgeIFlDX1RFnKnJUqP1t5ZYxZsVwC0ER9uvhw4Z5LibF-s6NpItFkFOTbydeXAoJks/s1600/image023.png. Kemudian, karena kalau ditambah menjadi dikali maka dikali menjadi ditambah. Sehingga https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8e5rkgahBHIjVvCLQ9hdip1LOhG-vw5vN5s8wlTXjSCxgRcxQXS6unlben4Zkg1T8D5AnXr42VuccZRGi7PXoDdDjiOXCq1PM88ys85XDY-xz4kpwMDSAi7clRj3J7Y9Kgz_ZCG7bAQI/s1600/image025.png. Dan selanjutnya, dengan sifat 3, diperoleh 2.https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgDNSitsG96jesmYgxRMAxz09_XdUlCVwBc-T8VR66jfzddiQositsfesp5Z0DKpR34vTuJen1zL9obuahZB-buH9ewb_I0fAs6EGojmQW-K3kN3mW8A2cIWN8UbqErM6ZzV3mbuckfic4/s1600/image027.png. Tetapi, jika bilangan didepan tidak bisa dipangkatkan, misalhttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZ19Y31xmSasAbwFbfDPTlQ6Wdeh3FSBS24eapvePBStZhXysFEwwhfjBHhyOGs5pCB9X1JjEdF2AVHCBuzBFdJ91yY-OgSE6vn4LglmJQ2ZecGW9ViU8qyG8EJnC7kddsqDlZXBHhYJ0/s1600/image029.pngmaka kita tetap jadikan bentuk perkalian, yaitu https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzCa8Erv7gLrdAbRtVuBXFtMzN_Fc92FAUkjXi8B2a3o6puCyHrfXY3JzxIZC5revovlakpoACWk9eOehORyuZIRFdzCzfxahBV42mCZFjPz_-DnoBTSuwJWKgqdoCFX3icEz5zPzrCv0/s1600/image031.png. Kemudian, kita gunakan sifat 4, sehingga diperoleh https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj_eOtBHk3Gx5gxB62RZz97nD-0GjqU4_hLgQlcKPyK1Qq8GzRmRzgaM0ow_WQkMD4APO2ILBWz5W6MbXG-bq9TcT8hkuIwX6nZP4KxYfxcxPHty3-eUcjIM_gncqRXa43AqS4jUTfkPzc/s1600/image033.png dengan nilai p yang nanti akan kita ganti sesuai dengan ‘kebutuhan soal’.
Selanjutnya dengan sifat 1 dan 3 diperoleh https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGzxOXwyOKKj1HJLlJ0-8B2kEXXB1BlVsPD_TrqcLC28lVfnT8NVohoPx-BQvD9xz5LJt6TlXosJ5mgJzszme5RJRkrxyY9vOYWszDofDk4ECMkT8_fBOaShI_C9Xn7rsc__p0wNmaUtM/s1600/image035.png


D.    Hipotesis Tindakan
Dari uraian pada kajian teori yang telah dipaparkan maka dapat disusun hipotesis tindakan sebagai berikut: ” Melalui strategi pembelajaran aktif  dapat meningkatkan efektifitas pengajaran guru pada siswa terhadap pembelajaran materi logaritma bagi siswa kelas X di SMA Negeri  ”.
E.     Kesimpulan
Dari penelitian tindakan kelas  pada peserta didik kelas X SMA Negeri, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.      Dengan membawa peserta didik aktif dalam pembelajaran akan dapat meningkatkan penguasaan materi logaritma dari peserta didik yang bersangkutan.
2.      Pembelajaran aktif merupakan strategi yang efektif untuk menyampaikan materi logaritma bagi peserta didik.
3.      Pembelajaran dalam kelompok kecil dapat meningkatkan kemampuan penguasaan  materi matematika dari peserta didik, selain itu dengan kelompok kecil ini  kerjasama diantara peserta didik dapat tercipta dengan lebih baik.
4.      Penggunaan lembar kerja untuk membawa peserta didik agar aktif dalam belajar merupakan langkah yang efektif  bagi peserta didik karena peserta didik dapat bersosialisai dan saling tukar informasi dan ide atau langkah – langkah kerja untuk menyelesaikan suatu masalah dengan teman sebayanya, hal ini sesuai dengan pendapat dari Vygotsky , aktivitas kalaboratif (perpaduan) di antara anak-anak akan mendukung dan membantu dalam pertumbuhan mereka, karena anak-anak yang seusia lebih senang bekerja dengan orang yang satu zone (zone of proximal development, zpd) dengan yang lain, artinya proses muncul ketika ada ketertarikan antar sesama anggota kelompok yang seusia.
5.      Pembelajaran aktif dapat menaikkan hasil belajar peserta didik.
                                                     







                                                      Daftar Pustaka
Erman.2003.Evaluasi Pembelajaran Matematika.Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia
http://hernakuncoro.blogspot.com/2009/03/logaritma.html diakses pada tanggal 13 Desember 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar