Penelitian tindakan adalah sebuah proses di mana para peserta (participants) menguji praktik pendidikan mereka sendiri secara sistematik dan hati-hati dengan menggunakan teknik-teknik penelitian untuk melakukan perbaikan terhadap sistem, cara kerja, proses, isi atau situasi pembelajaran yang lebih efektif sehinggan profesionalitas mereka berkembang. Meskipun ada beberapa tipe penelitian tindakan yang dapat dilakukan oleh seorang guru, penelitian tindakan sebaiknya secara khusus merujuk pada melakukan penelitian sesuai dengan keahlian seorang guru. Penelitian tindakan yang dilakukan dengan bermaksud memberitahu dan mengubah praktik-praktik pembelajarannya di masa mendatang. Penelitian tindakan ini berpengaruh pada lingkungan guru bekerja yaitu siswa-siswa dan sekolah di mana guru bekerja. Ketika orang menyebut seorang guru professional, berarti guru tersebut sudah mampu merubah minimal lingkungan kerjanya menjadi lebih efektif dan efisien dari pada keadaan sebelumnyaBerikut ini akan diberikan contoh masalah, model dan cara menerapkan model tersebut kedalam suatu penelitian tindakan kelas, dalam bentuk makalah.
Semoga bermanfaat...
Materi : Logaritma
Identifikasi
Masalah :
Pada umumnya para siswa
kurang berminat terhadap mata pelajaran matematika karena dianggap sebagai
pelajaran yang sangat sulit karena harus menghitung dan menghafalkan rumus. Beberapa
masalah yang terjadi dalam pembelajaran, yaitu :
1. Siswa mempunyai anggapan bahwa matematika
merupakan mata pelajaran yang sukar
untuk dipelajari
2. Siswa tidak berani bertanya dan cenderung
pasif
3. Pengetahuan dan informasi yang diterima siswa
masih sebatas produk hafalan
4. Rendahnya tingkat penguasaan siswa terhadap
materi pelajaran
5. Guru sering tidak menggunakan metode
pembelajaran yang sesuai
Rendahnya
penguasaan siswa pada materi logaritma dan yang menjadi fokus pada penelitian
ini adalah tidak efektifnya pengajaran yang dilakukan oleh guru dalam
mengajarkan materi logaritma. Tidak efektifnya pengajaran yang dilakukan guru
tersebut diduga akibat kurang tepatnya guru dalam menggunakan strategi
pembelajaran. Hal ini ditandai adanya kecenderungan guru dalam mengajarkan
materi tersebut dengan metode ceramah secara klasikal. Dilandasi keinginan
untuk mencari strategi pembelajaran yang tepat dan efisien untuk meningkatkan
hasil nilai penguasaan materi logaritma. Peningkatan hasil belajar pada materi
logaritma dan efektifitas pembelajaran yang diharapkan oleh peneliti adalah
dengan langkah mengarahkan pembelajaran siswa aktif secara kelompok besar
maupun dalam kelompok kecil. Selain harapan yang telah disampaikan diatas
penelitian ini diharapkan dapat merubah paradigma guru dalam melakukan
pembelajaran dari guru sebagai pusat belajar agar beralih ke siswa.
Treatment : Model Active Learning ( Pembelajaran
Aktif) tipe Jigsaw Learning. Guna mewujudkan harapan yang diinginkan oleh
peneliti maka peneliti menerapkan strategi pembelajaran aktif dengan
menggunakan teknik pembelajaran kelompok besar dan pembelajaran kelompok kecil.
Judul :
“Meningkatkan Efektifitas Pengajaran
Guru Pada Siswa Kelas X di SMAN Dengan Menerapkan Strategi Pembelajaran Aktif Pada
Materi Logaritma”.
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.Latar
Belakang
Salah
satu regulasi peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah diberlakukannya
Kurikulum 2013. Implementasi kurikulum 2013 di sekolah menuntut para guru dan
peserta didik untuk lebih kreatif,aktif dan memiliki inovasi dalam pelaksanaan
pembelajaran dengan materi pelajaran yang kontekstual di kelas. Kurikulum 2013
lebih menekankan pada pencapaian kompetensi peserta didik, penerapan
strategi/metode pembelajaran yang berbasis saintifik dan penerapan teknik
penilaian autentik,ini berarti dalam pembelajaran matematika
berpusat kepada peserta didik (student oriented) dan bukan lagi
bersumber pada guru (teacher oriented). (M-EDUKASI.WEB,2014:07) Fokus proses pembelajaran
diarahkan pada pengembangan keterampilan siswa dalam memproseskan pengetahuan,
menemukan dan mengembangkan sendiri fakta, konsep, dan nilai-nilai yang
diperlukan.
Karakteristik
pembelajaran matematika lebih menekankan pada membangun atau mengkonstruksi
pengetahuan tentang konsep yang sedang dibahas. Proses mengkonstruksi
pengetahuan ini memerlukan kreatifitas guru untuk menciptakan “PAIKEM-GEMBROT”
(pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, menyenangkan, gembira dan
berbobot) sehingga peserta didik dapat berpartisipasi aktif yang pada akhirnya
mereka memiliki pengalaman belajar yang bermakna dan menyenangkan, sedangkan
guru berperan sebagai fasilitator dan motivator.
Sehingga
pada pelaksanaan pengajaran yang dilakukan perlu adanya penelitian agar didapatkan pengajaran yang paling efektif untuk
digunakan baik pada kesempatan yang sekarang maupun yang akan datang. Pada
kesempatan ini peneliti mengadakan penelitian tentang rendahnya penguasaan
siswa pada materi logaritma , dan yang menjadi fokus pada penelitian ini adalah
tidak efektifnya pengajaran yang dilakukan oleh guru dalam mengajarkan materi
logaritma tersebut. Tidak efektifnya pengajaran yang dilakukan guru tersebut
diduga akibat kurang tepatnya guru dalam menggunakan strategi pembelajaran. Hal
ini ditandai adanya kecenderungan guru dalam mengajarkan materi tersebut dengan
metode ceramah secara klasikal.
Peningkatan
hasil belajar pada materi logaritma dan efektifitas pembelajaran yang
diharapkan oleh peneliti adalah dengan langkah mengarahkan pembelajaran siswa
aktif secara kelompok besar maupun dalam kelompok kecil. Selain harapan yang telah disampaikan
diatas penelitian ini diharapkan dapat merubah paradigma guru dalam
melakukan pembelajaran dari guru sebagai
pusat belajar agar beralih ke siswa. Guna
mewujudkan harapan yang diinginkan oleh peneliti seperti di atas maka peneliti
menerapkan strategi pembelajaran aktif dengan menggunakan teknik pembelajaran
kelompok besar dan pembelajaran kelompok kecil.
1.2.Rumusan
Masalah
Rumusan
masalah yang akan dikaji pada penelitian ini adalah :
1
Apakah melalui strategi pembelajaran
aktif dapat meningkatkan penguasaan
materi logaritma bagi siswa kelas X di SMA
Negeri?
2
Apakah strategi pembelajaran aktif
merupakan pembelajaran yang efektif untuk mengajarkan materi logaritma bagi siswa
kelas X di SMA Negeri ?
1.3.Tujuan
Penelitian
Tujuan dari pada penelitian yang
dilakukan pada kelas X di SMA Negeri adalah :
1
Secara umum tujuan dari penelitian ini
adalah untuk meningkatkan penguasaan materi logaritma bagi siswa kelas X di SMA
Negeri.
2
Mencari pengajaran yang efektif untuk
mengajarkan materi logaritma bagi siswa kelas X di SMA Negeri.
3
Meningkatkan penguasaan materi logaritma
bagi siswa kelas X di SMA Negeri dengan menggunakan strategi pembelajaran
aktif.
1.4.Manfaat
Penelitian
Manfaat
yang diharapkan dari penelitian yang dilakukan ini adalah :
- Siswa
dapat meningkatkan penguasaan materi logaritma melalui strategi pembelajaran aktif.
- Siswa
dapat mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan penguasaan materi
logaritma tersebut dengan secara aktif
dalam pembelajaran.
- Guru
mendapatkan suatu strategi pembelajaran yang efektif untuk mengajarkan
materi logaritma bagi siswa kelas X di SMA Negeri.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Strategi Belajar dan Mengajar
Pada setiap pengajaran ada tujuan yang harus dicapai dan
untuk pencapaian tujuan tersebut kita perlu menyampaikan topik – topik
yang didalamnya ada konsep – konsep yang
harus sampai pada siswa, dan untuk itu diperlukan pendekatan tertentu seperti
pemecahan masalah , latiahan soal, dan mungkin dengan pendekatan yang lainnya.
Andi Hakim Nasution ( 1988 : 243 dalam ptk01,2010 : 04 )
menyatakan bahwa dalam suatu pengajaran yang berkaitan dengan suatu materi
kurikulum tertentu prinsip keterlaksanaan dipenggaruhi oleh empat komponen
pokok yaitu pembawa materi , penyaji materi , pendekatan dan penerima materi.
Pengaturan materi kurikulum tersebut dinamakan strategi belajar mengajar. Pada
pengajaran matematika sampai sekarang ini masih menggunakan strategi belajar
mengajar langsung dan sempit. Maksudnya adalah materi pelajaran yang dibawakan
guru itu sempit (dikumpulkan
oleh guru itu sendiri ) , penyajinya guru itu sendiri pendekatan yang digunakan
deduktif dan siswa yang menerimanya adalah kelompok besar, padahal bila dilihat
dari kombinasi yang ada dalam strategi pembelajaran paling tidak ada 81
kombinasi yang dapat dilaksanakan dalam pengajaran.
2.2.Strategi
Pembelajaran Aktif
a. Pengertian
Strategi Pembelajaran Aktif
Strategi merupakan istilah lain dari pendekatan, metode
atau cara. Di dalam kepustakaan
pendidikan istilah-istilah tersebut di atas sering digunakan secara bergantian.
Menurut Udin S. Winataputra & Tita Rosita ( 1995: 124 dalam ptk01,2010 : 04)
istilah strategi secara harfiah adalah akal atau siasat. Sedangkan strategi
pembelajaran diartikan sebagai urutan langkah atau prosedur yang digunakan guru
untuk membawa siswa dalam suasana tertentu untuk mencapai tujuan belajarnya.
Sedangkan pembelajaran aktif menurut Hisyam Zaini, Bermawy Munthe & Sekar
Ayu Aryani (2007:xvi dalam ptk01,2010 : 04 ) adalah suatu pembelajaran yang
mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif. Ketika peserta didik belajar
dengan aktif, berarti mereka yang mendominasi aktifitas pembelajaran. Aktifitas
siswa belajar di kelas terwujud bila terjadi interaksi antar warga kelas. Boakes dalam Mar’at (1984:110) menyatakan
bahwa di dalam interaksi ada aktifitas yang bersifat resiprokal (timbal balik)
dan berdasarkan atas kebutuhan bersama, ada aktifitas daripada pengungkapan perasaan,
dan ada hubungan untuk tukar-menukar pengetahuan yang didasarkan take and give, yang semuanya dinyatakan
dalam bentuk tingkah laku dan perbuatan. Lebih lanjut, Syamsu Mappa dan Anisa
Basleman (1994:46) menyatakan hubungan timbal balik antar warga kelas yang
harmonis dapat merangsang terwujudnya masyarakat kelas yang gemar belajar.
Dengan demikian, upaya mengaktifkan siswa belajar dapat dilakukan dengan
mengupayakan timbulnya interaksi yang harmonis antar warga di dalam kelas.
Interaksi ini akan terjadi bila setiap warga kelas melihat dan merasakan bahwa
kegiatan belajar tersebut sebagai sarana memenuhi kebutuhannya. Dalam kaitannya
dengan proses pembelajaran, berdasarkan teori kebutuhan Maslow, Silberman
(2006:30) menyatakan kebutuhan akan rasa aman harus dipenuhi sebelum bisa
dipenuhinya kebutuhan untuk mencapai sesuatu, mengambil resiko, dan menggali
hal-hal baru.
Dari pembahasan di atas,ada hal - hal yang dapat
digunakan guru untuk mengarah pada strategi pembelajaran yang dapat
mengaktifkan siswa dalam belajar:
1)
Selalu
berpenampilan menarik dan penuh wibawa.
Kesan pertama siswa saat bertemu gurunya
adalah fisik dari guru tersebut. Dengan penampilan yang menarik dan penuh
wibawa akan membuat kesan yang positif dari siswa, sehingga dengan mudah guru
akan dapat membawa siswa kedalam suasana belajar yang guru inginkan.
2)
Manfaatkan
pertemuan pertama dengan siswa untuk perkenalan antar warga kelas, tunjukkan
cara-cara belajar matematika yang baik, buatlah kesepakatan (kontrak) terkait
norma-norma yang harus dipatuhi oleh warga kelas.
3)
Buatlah
formasi tata letak meja, kursi, pajangan dinding, dan perabot kelas yang lain
sesuai dengan kesepakatan warga kelas dan kebutuhan.
4)
Siapkan
semua peralatan yang akan digunakan di
dalam ruang kelas sebelum memulai pembelajaran.
5)
Mulailah
proses belajar mengajar dengan materi yang ringan tetapi menantang yang dapat merangsang siswa
turut aktif berpikir. Kemudian masuk pada materi yang akan kita ajarkan dengan
senantiasa melibatkan siswa dalam proses belajar mengajar. Misalkan senantiasa
mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang materi yang kita ajarkan agar siswa
lebih mudah memahami materi yang kita berikan.
6)
Selalu
memulai dan mengakhiri pembelajaran tepat waktu serta dengan salam yang
menghangatkan, yaitu salam penuh kasih dan hormat.
7)
Gunakan
bahasa yang santun, hormat, dan dengan nada bicara yang lembut.
8)
Memahami
dan menghormati berbagai perbedaan yang ada.
9) Menghormati
kerahasiaan setiap siswa
10) Tidak
merendahkan dan mencemooh siswa
11) Memberi
kesempatan yang sama kepada semua siswa untuk bicara
12) Bila
seorang siswa mengemukakan pendapat, jadilah pendengar yang baik dan
selanjutnya berikan kesempatan kepada
siswa lain untuk memahaminya dan memberikan komentarnya.
13) Memahami
dan menghormati pendapat setiap siswa, bila perlu melancarkan kritik: gunakan
bahasa yang mengayomi, dan bila kritik bersifat pribadi seharusnya dilakukan di
ruang khusus.
14) Sekali
waktu, berilah kesempatan kepada siswa untuk memberikan saran atau kritik guna
perbaikan proses pembelajaran.
15) Sediakan waktu untuk berkomunikasi dengan siswa di luar
kelas.
b. Prosedur
Pembelajaran Aktif
Proses
pembelajaran di kelas dapat dipandang sebagai tiga bagian kegiatan yang
terurut, yaitu: kegiatan awal (pendahuluan), kegiatan inti, dan kegiatan akhir
(penutup). Dengan demikian, strategi pembelajaran aktif dapat dirumuskan
sebagai prosedur kegiatan yang mengaktifkan siswa pada setiap bagian kegiatan
secara terurut. Prosedur tersebut dapat dirumuskan
sebagai berikut:
1)
Prosedur
Mengaktifkan Siswa Belajar Matematika Pada Awal Pembelajaran
Dimensi
pertama dalam peristiwa belajar matematika adalah membangun sikap dan persepsi
positif terhadap belajar dan matematika sebagai obyek belajar. Kesiapan mental
untuk terlibat dalam pembelajaran mutlak dicapai dalam mengaktifkan siswa
belajar matematika, oleh karenanya kegiatan membangunkan sikap dan persepsi
positif siswa harus dilakukan sejak awal dimulainya pembelajaran. Hal yang
harus dilakukan guru pada awal pembelajaran adalah membangunkan minat,
membangunkan rasa ingin tahu, dan merangsang siswa untuk berpikir. Bila minat
siswa, rasa ingin tahu siswa telah bangkit, serta siswa telah terangsang untuk berpikir ini
berarti siswa telah siap secara mental untuk terlibat secara aktif dalam
pembelajaran matematika, dan bila
terjadi sebaliknya berarti secara mental siswa belum siap terlibat dalam
pembelajaran. Dengan memodifikasi strategi berbagi pengetahuan secara aktif,
mengawali kegiatan pembelajaran aktif dengan prosedur sebagai berikut:
a) Tentukan
rentang waktu yang pasti untuk kegiatan awal pembelajaran.
b)
Ucapkan
salam pembuka yang menghangatkan siswa.
c) Sediakan daftar pertanyaan yang terkait dengan materi
pelajaran matematika yang akan diajarkan. Misalnya:
(1) Kata-kata
untuk didefinisikan,
(2) Soal-soal
sederhana dari aplikasi rumus yang telah dikenal,
(3) Pertanyaan
tentang aplikasi matematika sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
b) Perintahkan
siswa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sebaik yang mereka bisa dan
dalam waktu yang telah ditentukan.
c) Perintahkan
siswa untuk menyebar di kelas, menanyakan kepada temannya jawaban pertanyaan
yang dia sendiri tidak tahu jawabannya, Doronglah siswa untuk saling membantu.
d) Perintahkan
untuk kembali ke tempat semula dan gunakan teknik tanya jawab untuk membahas
jawaban yang mereka dapatkan.
e) Gunakan
pertanyaan-pertanyaan arahan sebagai upaya merangsang berpikir siswa menjawab
pertanyaan yang tak satupun siswa bisa menjawab.
f) Gunakan
informasi-informasi yang diperoleh dalam kegiatan ini sebagai sarana untuk
memperkenalkan topik-topik penting materi pelajaran dalam kegiatan inti.
Secara
umum, manusia tidak menyukai suatu kegiatan yang kurang bervariasi. Oleh karena
itu perlu dipilih kegiatan lain sebagai variasi kegiatan di atas. Berikut ini
dapat menjadi alternatif pilihan.
(1) Daftar
pertanyaan dapat diganti dengan menyediakan kartu indeks dan perintahkan siswa
untuk menuliskan satu informasi yang menurut siswa akurat tentang materi yang
akan diajarkan.
(2) Kegiatan
menyebar dapat diganti dengan merotasi pertukaran pendapat antar kelompok
belajar di kelas.
2)
Prosedur Mengaktifkan Siswa Belajar Matematika Pada
Kegiatan Inti Pembelajaran
Telah dikemukakan di atas bahwa pendidikan matematika di
segala jenjang dimaksudkan untuk membangun pengetahuan, keterampilan dan sikap
terkait dengan matematika. Pembelajaran aktif dalam pendidikan matematika dapat
berlangsung dalam proses penyelidikan atau proses bertanya. Siswa dikondisikan
dalam sikap mencari (aktif) bukan sekedar menerima (reaktif). Kondisi ini
terjadi jika siswa dilibatkan dalam tugas dan kegiatan yang secara halus
mendesak mereka untuk berpikir, bekerja, dan merasakan. Berdasarkan pendapat di
atas, upaya yang harus dilakukan guru untuk mengaktifkan siswa belajar
matematika adalah: (1) mengkondisikan situasi belajar matematika menjadi
kegiatan siswa mengupayakan pemecahan masalah atau mencari jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan, baik masalah atau pertanyaan yang diajukan guru maupun
siswa; (2) mendorong ketertarikan siswa untuk mendapatkan informasi atau
menguasai keterampilan melalui pemecahan masalah atau mencari jawaban atas
pertanyaan; (3) mendesak siswa secara halus untuk bergerak mengkaji atau
menilai suatu jawaban pertanyaan, suatu pendapat (gagasan), atau suatu penyelesaian masalah. Guru dapat
menggunakan berbagai strategi dengan berbagai teknik untuk mengaktifkan siswa
dalam kegiatan inti. Strategi yang dapat digunakan guru untuk mengaktifkan
siswa belajar matematika:
a)
Menstimulir rasa ingin tahu siswa
Prosedur
1.
Pertanyaan/masalah
yang kompleks atau yang mempunyai beberapa kemungkinan jawaban untuk
menstimulasi keingintahuan siswa tentang materi yang akan diajarkan. Pertanyaan
yang disajikan haruslah merupakan pertanyaan yang menurut guru ada beberapa
siswa yang mengetahui jawabannya atau bagian dari jawaban. Pertanyaan dapat
berupa pertanyaan sehari-hari, cara melakukan sesuatu, definisi, cara kerja
(prosedur).
2.
Doronglah
siswa untuk berpikir, membuat skema atau diagram, dan membuat dugaan umum. Gunakan frase semisal “ coba tebak” atau “coba jawab”
3.
Jangan
buru-buru memberikan tanggapan. Tampung semua dugaan siswa. Ciptakan rasa
penasaran tentang jawaban yang sesungguhnya. Sebagai variasi, buatlah siswa
berpasangan dan membuat dugaan secara kolektif.
4.
Gunakan
pertanyaan itu untuk mengarahkan siswa kepada apa yang hendak diajarkan. Anda
perlu memastikan bahwa siswa lebih menaruh perhatian terhadap pelajaran dibanding
biasanya.
b). Menstimulir siswa untuk belajar mandiri
Prosedur
1.
Bagikan
kepada siswa bahan ajar, disertai beberapa pertanyaan/masalah yang terurut dari
yang sederhana sampai yang kompleks.
2.
Perintahkan
siswa untuk mempelajari bahan ajar secara mandiri atau berpasangan.
3.
Perintahkan
siswa untuk membubuhkan tanda tanya pada materi yang belum mereka pahami.
Anjurkan untuk menyisipkan tanda tanya sebanyak mungkin. Perintahkan siswa
untuk menyusun pertanyaan sebanyak mungkin terkait dengan tanda tanya yang
mereka bubuhkan
4.
Perintahkan
siswa untuk mengemukakan pertanyaan secara tertulis. Beri kesempatan siswa lain
untuk menanggapinya. Lakukan seterusnya sehingga semua pertanyaan siswa
dibahas.
5.
Berikan
penjelasan sebagai sarana pemantapan dari jawaban atas pertanyaan siswa.
6.
Perintahkan
siswa menyelesaikan masalah dalam bahan ajar secara mandiri atau berpasangan.
7.
Perintahkan
siswa untuk mengemukakan jawaban masalah. Berikan kesempatan siswa lain memberikan
komentar atau mengemukakan kemungkinan jawaban lain.
8. Berikan
pemantapan jawaban atas pertanyaaan
9. Jika
guru merasa bahwa siswa akan mengalami kesulitan mempelajari sendiri bahan
ajar, berikan sejumlah informasi yang mengarahkan mereka.
c). Menstimulir siswa untuk belajar
bersama dalam kelompok.
Prosedur
1.
Perintahkan siswa secara mandiri
mempelajari bahan ajar
2.
Perintahkan
untuk menuliskan hal yang belum diketahui dalam bentuk pertanyaan.
3.
Perintahkan
untuk membentuk kelompok. Perintahkan masing-masing kelompok memberi nama
kelompok dengan nama dalam matematika, misalnya: kelompok aljabar, kelompok
Phytagoras dan sebagainya.
4.
Diskusikan
pertanyaan-pertanyaan dari masing-masing anggota kelompok.
5.
Berikan
tugas memecahkan masalah, dengan petunjuk yang jelas. misalnya: tuliskan rumus,
gambarkan, buat skema atau diagram yang kamu gunakan untuk menjawab.
6.
Berikan
peran pada anggota kelompok. Misalnya: fasilitator, pencatat, juru bicara,
pengatur waktu.
7.
Berikan
kesempatan masing-masing kelompok untuk menyajikan hasil diskusi di depan
kelas.
8.
Perintahkan
siswa untuk kembali ke posisi semula dan lakukan salah salah satu berikut:
1.
Membahas materi secara bersama
2.
Dapatkan pertanyaan dari siswa
3.
Beri siswa pertanyaan kuis
4.
Sediakan latihan penerapan atau kuis bagi
siswa untuk menguji pemahaman mereka.
d).
Belajar berpasangan
Prosedur:
(1) Berikan
kepada siswa, satu atau beberapa permasalahan yang memerlukan perenungan dan
pemikiran.
(2) Perintahkan
siswa untuk menyelesaikan masalah secara perseorangan.
(3) Setelah
semua siswa menyelesaikan masalah, aturlah menjadi sejumlah pasangan dan
perintahkan mereka untuk berbagi jawaban satu sama lain.
(4) Perintahkan
pasangan untuk membuat jawaban baru bagi tiap masalah, memperbaiki tiap jawaban
perseorangan
(5) Bila
semua pasangan telah menuliskan jawaban baru, bandingkan jawaban dari tiap
pasangan dengan pasangan lain di dalam kelas.
(6) Perintahkan
seluruh siswa untuk memilih jawaban yang tepat untuk tiap pertanyaan. Untuk
menghemat waktu, bagilah seluruh siswa dalam 4 kelompok besar berilah nama
kelompok. Berikan permasalahan yang berbeda pada masing-masing kelompok Pada
akhir sesi, perintahkan masing-masing kelompok untuk menyajikan jawaban
terbaiknya. Berikan hadiah pada jawaban terbaik.
e)
Turnamen
belajar
Prosedur:
(1) Bagilah
siswa menjadi sejumlah tim beranggotakan 2 hingga 8 siswa. Pastikan bahwa tim
memiliki jumlah anggota yang sama. Perintahkan untuk memberi nama kelompok
masing-masing.
(2) Berikan
bahan ajar kepada tim untuk dipelajari bersama.
(3)
Buat beberapa pertanyaan yang dapat
menguji aspek ingatan dan pemahaman terhadap materi yang diberikan. Gunakan
format yang memudahkan penilaian sendiri. Misalnya: pilihan ganda, melengkapi, benar-salah, atau
definisi istilah, menyatakan rumus atau teorema.
(4)
Perintahkan
siswa untuk menjawab secara perseorangan. Pastikan hal ini dilakukan oleh
masing-masing siswa.
(5)
Setelah
semua siswa menyelesaikan jawaban mereka, aturlah menjadi sejumlah pasangan dan
perintahkan mereka untuk berbagi jawaban satu sama lain.
(6)
Lakukan
diskusi kelas untuk menentukan jawaban dari pertanyaan.
(7)
Perintahkan
siswa untuk menghitung jumlah pertanyaan yang mereka jawab dengan benar, dan
mintalah mereka untuk memberikan skor.
(8) Perintahkan siswa untuk menyatukan skor mereka dengan
anggota tim mereka untuk mendapatkan skor tim. Umumkan skor dari tiap tim.
Berikan hadiah atau berilah tepuk tangan pada tim yang memperoleh skor
tertinggi. Sebutlah ini sebagai “ronde satu”.
(9) Perintahkan
mereka untuk belajar lagi untuk ronde ke dua dalam turnamen. Kemudian ajukan pertanyaan tes lagi sebagai
bagian dari “ronde kedua”. Perintahkan siswa dengan prosedur seperti ronde
satu. Turnamen ini dapat dilakukan dengan jumlah ronde bervariasi dan waktu tiap ronde dapat dilakukan bervariasi, namun
pastikan bahwa setiap ronde siswa menjalani sesi belajar. Dengan kesepakatan
siswa, guru dapat memberikan pinalti (hukuman) kepada siswa yang memberikan
jawaban salah dengan pengurangan nilai (misal -1 atau -2) dan memberikan nilai
0 pada siswa yang tidak menjawab.
f)
Menstimulir pembelajaran antar siswa
Prosedur
(1)
Bentuklah
kelompok dengan jumlah kelompok sesuai dengan topik (sub pokok bahasan) yang
akan dipelajari siswa. Topik dipilih yang saling terkait.
(2)
Beri setiap kelompok sejumlah informasi,
konsep, atau keterampilan untuk diajarkan kepada siswa lain.
(3)
Perintahkan setiap kelompok untuk
menyusun cara dalam menyajikan atau mengajarkan topik mereka kepada siswa lain.
Sarankan mereka untuk menghindari cara ceramah atau semacam pembacaan laporan.
Doronglah mereka untuk menjadikan pengalaman belajar sebagai pengalaman yang
aktif bagi siswa
(4)
Kemukakan
beberapa saran berikut ini:
(a) Sediakan
media visual
(b) Berikan
kesempatan temanmu untuk membaca materi terlebih dahulu.
(c) Gunakan
contoh atau analogi untuk menyajikan poin-poin pengajaran
(d) Libatkan
temanmu dalam diskusi atau tanya jawab.
(e)
Berikan
kesempatan pada temanmu untuk bertanya
(f)
Berikan
waktu yang cukup untuk merencanakan dan mempersiapkan (baik di dalam maupun di
luar kelas). Kemudian perintahkan tiap kelompok untuk menyajikan pelajaran
mereka. Beri tepuk tangan atas usaha mereka. Sebagai alternatif dari pengajaran
model ini adalah perintahkan siswa untuk mengajarkan atau memberi bimbingan
kepada siswa lain secara individual atau dalam kelompok kecil.
3)
Strategi
menutup pembelajaran matematika
Pada kegiatan menutup pembelajaran dapat dimanfaatkan
guru untuk:
a)
Memberikan kesempatan bagi siswa
merangkum atau membuat ikhtisar dari pelajaran pada hari itu,
b)
Memotivasi siswa untuk mempelajari ulang
bahan ajar dan atau menyelesaikan tugas rumah secara mandiri atau kelompok,
c)
Memberikan
informasi bahan ajar pertemuan berikutnya,
d)
Mendapatkan
penilaian dari siswa guna perbaikan proses pembelajaran, dan
e)
Memberikan salam penutup.
Cara
yang baik untuk membelajarkan membuat ikhtisar bahan ajar adalah memberikan
kesempatan kepada siswa untuk membuat ikhtisar dan menyajikan ikhtisar kepada
siswa lain. Strategi berikut dapat digunakan guru:
Prosedur
a) Jelaskan
kepada siswa bahwa bila guru yang membuat ikhtisar pelajaran, itu bertentangan
dengan prinsip belajar aktif.
b)
Bagilah
siswa menjadi kelompok beranggotakan dua hingga 4 orang.
c) Perintahkan setiap kelompok untuk membuat ikhtisar
pelajaran pada hari itu. Doronglah setiap kelompok untuk membuat uraian singkat
guna disampaikan pada kelompok lain. Gunakan pertanyaan
panduan, misalnya:
(1) Apa
judul materi yang baru saja dipelajari?
(2)
Tuliskan
definisi atau rumus yang baru saja dipelajari secara terurut!
(3)
Digunakan
dalam masalah apa saja rumus yang baru di pelajari?
c.
Strategi Pembelajaran Aktif
Tipe Jigsaw Learning
1. Pengertian Jigsaw Learning(rofayuliaazhar,2012:06)
Jigsaw
Learning dapat diartikan sebagai sistem pengajaran yang memberi kesempatan
kepada peserta didik untuk bekerjasama dengan sesama peserta didik dalam
kelompok untuk mengerjakan tugas-tugas yang terstruktur. Guru diharapkan mampu
menggunakan model-model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan
diajarkan. Model Jigsaw Learning yang penuh dengan bentuk aktivitas
peserta didik tentunya menekankan pentingnya peserta didik membangun sendiri
pengetahuan mereka dalam proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar lebih
diwarnai student centered daripada teacher centered, arah
pembelajaran tidak hanya berasal dari guru tetapi peserta didik juga dapat
belajar dengan sesamanya. Selain itu, peserta didik tidak hanya mempelajari
materi saja tetapi juga keterampilan kooperatif. Keterampilan kooperatif ini
berfungsi untuk melancarkan hubungan kerja dan tugas yang dapat dibangun dengan
mengembangkan komunikasi antara anggota kelompok. Sedangkan peranan tugas
dilakukan dengan membagi tugas antar anggota kelompok selama kegiatan
pembelajaran.
Teknik
mengajar Jigsaw dikembangkan oleh Aronson dan teman-temannya di
Universitas Texas, kemudian diadaptasi oleh Robert Slavin dan teman-temannya di
Universitas John Hopkins. Teknik ini menggabungkan kegiatan membaca, menulis,
mendengarkan dan berbicara. Dalam teknik ini guru memperhatikan latar belakang
pengalaman peserta didik dan membantu peserta didik aktif dalam belajar. Model
pembelajaran Jigsaw Learning tidak sama dengan sekedar belajar dalam
kelompok. Ada unsur-unsur dalam pembelajaran Jigsaw Learning yang
membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Pelaksanaan
prosedur model Jigsaw Learning dengan benar akan memungkinkan
pendidik mengelola kelas dengan lebih efektif sehingga tujuan pembelajaran
dapat dicapai. Dari beberapa penjelasan tersebut, Jigsaw
Learning dapat diartikan sebagai model pembelajaran yang menerapkan sistem
pengelompokan atau tim kecil, antara empat sampai enam orang yang mempunyai
latar belakang berbeda untuk bekerjasama dengan sesama peserta didik dalam
mengerjakan tugas-tugas yang terstruktur. Jigsaw didesain untuk meningkatkan
rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga
pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi
mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota
kelompok yang lain. Dengan demikian, “siswa saling tergantung satu dengan yang
lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang
ditugaskan”.
Pada
model pembelajaran tipe Jigsaw terdapat kelompok asli dan kelompok
ahli. Kelompok asli yaitu kelompok induk siswa yang beranggotakan siswa dengan
kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang beragam. Kelompok asal
merupakan gabungan dari beberapa kelompok ahli. Kelompok ahli yaitu kelompok
siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan
untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas
yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota
kelompok asal.
2. Ciri-ciri Jigsaw
Learning(rofayuliaazhar,2012:06)
a. Siswa
bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
b. Kelompok
dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
c. Bilamana
mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, jenis kelamin berbeda beda.
d. Penghargaan
lebih berorientasi kelompok dari pada individu.
3. Model-model Jigsaw
Learning(rofayuliaazhar,2012:06)
Dalam
pembelajaran Jigsaw Learning terdapat dua pengelompokkan, yaitu :
a. Kelompok
jangka pendek, artinya jangka waktu untuk bekerja dalam kelompok tersebut hanya
pada saat itu saja, jadi sifatnya insidental.
b. Kelompok
jangka panjang, artinya proses kerja dalam kelompok itu bukan hanya pada saat
itu saja, mungkin berlaku untuk satu periode tertentu sesuai dengan tugas atau
masalah yang akan dipecahkan.
4. Langkah-langkah Jigsaw
Learning(rofayuliaazhar,2012:06)
Langkah-langkah
melaksanakan teknik Jigsaw dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Guru
membagi siswa menjadi beberapa kelompok sesuai dengan segmen yang ada.
b. Sebelum
bahan pelajaran dibagikan guru memberikan pengenalan mengenai topik yang akan
dibahas.
c. Guru
membagi materi yang berbeda pada setiap kelompok untuk dipelajari, didiskusikan
dan dipahami.
d. Setelah
selesai, setiap kelompok mengutus delegasi kekelompok lain untuk menjelaskan
materi yang telah dipelajari dan didiskusikan.
e. Guru
mengembalikan suasana kelas seperti semula kemudian menanyakan seandainya ada
persoalan-persoalan yang tidak terpecahkan dalam kelompok.
f. Guru
memberikan pertanyaan pada peserta didik untuk mengecek pemahaman mereka
terhadap materi yang telah dipelajari.
g. Guru
melakukan kesimpulan, klarifikasi dan tindak lanjut.
5. Kelebihan dan Kelemahan Model Belajar Aktif Tipe Jigsaw Learning(rofayuliaazhar,2012:06)
a. Siswa lebih aktif karena siswa
diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan menjelaskan materi pada masing-masing
kelompok.
b. Siswa lebih memahami materi yang
diberikan karena dipelajari lebih dalam dan sederhana dengan anggota
kelompoknya.
c. Siswa lebih menguasai materi
karena mampu mengajarkan materi tersebut kepada teman kelompok belajarnya.
d. Materi yang diberikan dapat
merata.
e. Meningkatkan
kerja sama kelompok.
a. Waktu yang
dibutuhkan dalam pembelajaran relatif lama.
b. Jika
tidak di dukung dengan kondisi kelas yang mumpuni (luas) metode sulit di
jalankan mengingat siswa harus beberapa kali berpindah dan berganti kelompok.
2.3.Pembelajaran Efektif
Dalam proses belajar mengajar agar didapatkan suatu hasil
yang maksimal maka diperlukan suatu teknik pembelajaran yang efisien dan efektif
sehingga tidak mengahabiskan waktu yang lama dan bertele-tele yang kadang
hasilnya kurang memuaskan. Oleh karena itu perlu diketahui dalam tanya jawab
yang efektif dan interaksi yang efektif
dalam pembelajaran. Tanya jawab dapat digunakan untuk memeriksa pemahaman siswa
untuk memberikan dasar pada pembelajaran siswa, untuk membantu siswa dalam
mengklarifikasikan dan memverbalisasikan pikiran mereka, dan membantu siswa
mengembangkan sense of mastery ( perasaan menguasai sesuatu ). Tanya jawab yang
efektif dapat terjadi bila penguasaan
diri yang solid tentang strategi – strategi mana yang paling efektif.
Di dalam pembelajaran yang mengunakan pembelajaran
langsung , berbagai pertanyaan perlu dilontarkan pada awal pelajaran, ketika
topik dari pelajaran sebelumnya diulas. Agar tanya jawab efektif tercapai maka
seorang pengajar perlu mencampur pertanyaan tingkat tinggi dan tingkat rendah
mencakup produk dan proses serta pertanyaan terbuka dan tertutup , namun
seorang pengajar harus memastikan bahwa ada cukup banyak pertanyaan proses
tingkat tinggi dan terbuka. Dalam tanya jawab yang efektif dalam pembelajaran
langsung bila siswa menjawab benar
diberikan respon positif namun impersonal dan bila seorang siswa memberikan jawaban
yang kurang sepenuhnya benar , maka pengajar perlu memberikan kisi - kisi
kepadanya untuk menemukan jawaban yang benar.
Bentuk interaksi lain yang efektif dalam pembelajaran
adalah diskusi kelas, namun suatu diskusi agar efektif perlu disiapkan dengan
seksama. Pengajar perlu memberikan pedoman yang jelas kepada siswa tentang apa
yang didiskusikan. Selama diskusi siswa perlu dipastikan untuk tetap pada
tugasnya, dan guru perlu menuliskan poin – poin utama yang muncul selama
diskusi. Setelah diskusi poin-poin utama ( produk diskusi ) ini dapat dirangkum
dan siswa diminta untuk meberikan komentar tentang seberapa baik diskusi itu
tersebut berjalan ( proses diskusi ). Agar pembelajaran efektif guru juga harus
memastikan bahwa siswa – siswa yang pemalu yang mungkin kurang aktif untuk diberikan kesempatan dalam
keterlibatannya dalam proses belajar mengajar.
2.4.Hasil
belajar Matematika
Penekanan
pembelajaran matematika lebih diutamakan pada proses dengan tidak melupakan
pencapaian tujuan. Proses ini lebih ditekankan pada proses belajar matematika
seseorang. Tujuan yang paling utama dalam pembelajaran matematika adalah
mengatur jalan pikiran untuk memecahkan masalah bukan hanya menguasai konsep
dan perhitungan walaupun sebagian besar belajar matematika adalah belajar
konsep struktur ketrampilan menghitung dan menghubungkan konsep-konsep
tersebut. Gagne dan Briggs (1978:49-55 dalam ptk01,2010:04) menerangkan bahwa
hasil belajar yang berkaitan dengan lima kategori tersebut adalah : (1)
ketrampilan intelektual adalah kecakapan yang berkenaan dengan pengetahuan
prosedural yang terdiri atas deskriminasi jamak, konsep konkret dan terdefinisi
kaidah serta prinsip, (2) strategi kognitif adalah kemampuan untuk memecahkan
masalah–masalah baru dengan jalan mengatur proses internal masing – masing
individu dalam memperlihatkan, mengingat dan berfikir, (3) informasi verbal
adalah kemampuan untuk mendiskripsikan sesuatu dengan kata-kata dengan jalan
mengatur informasi –informasi yang relevan, (4) ketrampilan motorik adalah
kemampuan untuk melaksanakan dan mengkoordinasikan gerakan–gerakan yang
berhubungan dengan otot, (5) sikap merupakan kemampuan internal yang berperan
dalam mengambil tindakan untuk menerima atau menolak berdasarkan penilaian
terhadap obyek tersebut. Bloom (1976:201-207 dalam Erman : 2003) membagi hasil
belajar menjadi kawasan yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Kawasan
kognitif berkenaan dengan ingatan atau pengetahuan dan kemampuan intelektual
serta keterampilan- keterampilan. Kawasan afektif menggambarkan sikap-sikap,
minat dan nilai serta pengembangan pengertian atau pengetahuan dan penyesuaian
diri yang memadai. Kawasan psikomotor
adalah kemampuan–kemampuan menggiatkan dan mengkoordinasikan gerak. Kawasan
kognitif dibagi atas enam macam kemampuan intelektual mengenai lingkungan yang
disusun secara hirarki dari yang paling sederhana sampai kepada yang paling kompleks, yaitu (1)
pengetahuan adalah kemampuan mengingat kembali hal-hal yang telah dipelajari,
(2) pemahaman adalah kemampuan menangkap makna atau arti suatu hal, (3)
penerapan adalah kemampuan mempergunakan hal – hal yang telah dipelajari untuk
menghadapi situasi–situasi baru dan nyata, (4) analisis adalah kemampuan
menjabarkan sesuatu menjadi bagian–bagian sehingga struktur organisasinya dapat
dipahami, (5) sintesis adalah kemampuan untuk memadukan bagian–bagian menjadi
satu keseluruhan yang berarti, (6) penilaian adalah kemampuan memberi harga
sesuatu hal berdasarkan kriteria intern atau kelompok atau kriteria ekstern ataupun
yang ditetapkan lebih dahulu. Dengan hasil belajar matematika dalam penelitian ini adalah hasil dari
seorang siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar matematika yang diukur
dari kemampuan siswa tersebut dalam menyelesaikan suatu permasalahan matematika
B.
Kerangka Pemikiran
Dengan menerapkan strategi pembelajaran aktif maka
seorang siswa akan selalu terlibat secara langsung dalam pembelajaran ,
sehingga dengan keterlibatan ini materi yang dibahas akan selalu teringat dalam
pemikirannya dan konsep yang harus dikuasai siswa akan mudah diterimanya hal
ini sesuai dengan prinsip learning by doing yang menyatakan bahwa pembelajaran
akan cepat dikuasai siswa dengan siswa tersebut ikut aktif dalam pembelajaran. Bertolak dari pemikiran bahwa membawa siswa
aktif dalam pembelajaran akan memudahkan siswa menerima konsep yang harus dikuasainya
maka secara otomatis langkah membawa siswa aktif dalam belajar ini merupakan
suatu langkah yang efektif untuk menyampaiakan suatu materi ajar.
C. Logaritma
Logaritma
yang akan dibahas pada penelitian kali ini adalah
Standar
Kompetensi : 1. Memecahkan masalah yang
berkaitan dengan pangkat, akar dan logaritma.
Kompetensi Dasar : 1.1 Menggunakan aturan pangkat, akar dan logaritma.
Materi
logaritma terdapat pada SMA. Dalam penelitian kali ini akan dibahas mengenai
sifat – sifat logaritma.
SIFAT – SIFAT LOGARITMA
Sifat – sifat logaritma
dapat digunakan untuk mengubah bentuk – bentuk logaritma kedalam bentuk–bentuk
yang diinginkan.
a. Sifat Perkalian Logaritma
Perkalian logaritma sama dengan penjumlahan logaritma dengan
basis tetap.
b.Sifat Pembagian Logaritma
Jika hasil logaritma merupakan pembagian,hasilnya dapat
diuraikan menjadi operasi pengurangan bilangan logaritma dengan basis tetap.
c. Sifat Perpangkatan Logaritma
Hasil operasi berupa bilangan logaritma berpangkat, dapat
diuraikan sebagai berikut:
d. Sifat Penarikan Akar
Jika ada hasil operasi logaritma yang berbentuk akar,
ubahlah terlebih dahulu menjadi bentuk pangkat untuk mempermudah
penyelesaianya.
Beberapa Sifat Logaritma yang lain:
·
Solusi untuk lebih memahami sifat – sifat logaritma
Ada beberapa jenis permasalahan
logaritma. Tetapi yang sering kita jumpai adalah menyederhanakan dan menghitung nilai suatu logaritma dengan
diketahui nilai beberapa logaritma. Untuk menyelesaikan kedua jenis
permasalahan tersebut, pertama kita harus tahu sifat-sifat logaritma, dan
menurut penelitian cara mudah mengingatnya dengan cara.
Misal:
1.
dapat diingat jika ditambahkan menjadi
dikalikan.
2.
dapat diingat jika dikurangkan menjadi dibagi.
3.
dapat diingat jika pangkat didepan maju menjadi
dibawah, dan pangkat dibelakang maju menjadi diatas.
1.
2.
3.
Atas menunjukkan pembilang dan bawah
menunjukkan penyebut.
4.
dapat diingat dengan logaritma yang dibelakang menjadi logaritma diatas dan didepan
menjadi logaritma dibawah, dan p menyesuaikan dengan soal.
4.
Untuk sifat yang pertama ini seharusnya semua
siswa SMA sudah bisa. Misal
. Hal ini juga berlaku sebaliknya, yaitu
. Ingat bahwa semua sifat itu berlaku sebaliknya.Kedua
permasalahan tersebut, langkah pertama untuk
menyelesaikannya adalah membuat
semua bilangannya menjadi bilangan berpangkat. Misal
kita buat menjadi
. Kemudian dengan menggunakan sifat 3, pangkatnya kita ‘majukan’,
sehingga diperoleh
.Apabila ada bilangan yang tidak bisa
dipangkatkan, ubah menjadi bentuk
perkalian . Misal
kita ubah menjadi
. Kemudian, karena kalau ditambah menjadi dikali maka dikali
menjadi ditambah. Sehingga
. Dan selanjutnya, dengan sifat 3, diperoleh 2.
. Tetapi, jika bilangan didepan tidak bisa
dipangkatkan, misal
maka kita tetap jadikan bentuk perkalian,
yaitu
. Kemudian, kita gunakan sifat 4, sehingga diperoleh
dengan nilai p yang nanti akan kita ganti sesuai
dengan ‘kebutuhan soal’.
D.
Hipotesis Tindakan
Dari uraian pada kajian teori yang telah dipaparkan maka
dapat disusun hipotesis tindakan sebagai berikut: ” Melalui strategi
pembelajaran aktif dapat meningkatkan
efektifitas pengajaran guru pada siswa terhadap pembelajaran materi logaritma
bagi siswa kelas X di SMA Negeri ”.
E. Kesimpulan
Dari
penelitian tindakan kelas pada peserta
didik kelas X SMA Negeri, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Dengan
membawa peserta didik aktif dalam pembelajaran akan dapat meningkatkan
penguasaan materi logaritma dari peserta didik yang bersangkutan.
2. Pembelajaran
aktif merupakan strategi yang efektif untuk menyampaikan materi logaritma bagi
peserta didik.
3. Pembelajaran
dalam kelompok kecil dapat meningkatkan kemampuan penguasaan materi
matematika dari peserta didik, selain itu dengan kelompok kecil
ini kerjasama diantara peserta didik dapat tercipta dengan lebih
baik.
4. Penggunaan
lembar kerja untuk membawa peserta didik agar aktif dalam belajar merupakan
langkah yang efektif bagi peserta didik karena peserta didik dapat
bersosialisai dan saling tukar informasi dan ide atau langkah – langkah kerja
untuk menyelesaikan suatu masalah dengan teman sebayanya, hal ini sesuai dengan
pendapat dari Vygotsky , aktivitas kalaboratif (perpaduan) di antara anak-anak akan
mendukung dan membantu dalam pertumbuhan mereka, karena anak-anak yang seusia
lebih senang bekerja dengan orang yang satu zone (zone of
proximal development, zpd) dengan yang lain, artinya proses muncul
ketika ada ketertarikan antar sesama anggota kelompok yang seusia.
5. Pembelajaran aktif
dapat menaikkan hasil belajar peserta didik.
Daftar
Pustaka
Erman.2003.Evaluasi Pembelajaran Matematika.Bandung : Universitas Pendidikan
Indonesia
http://contohskripsi-ptk-tesis-makalah.blogspot.com/2012/09/ptk-sma-09-penggunaan-alat-peraga-tabel.html
diakses pada tanggal 13 Desember 2014
http://epg-studio.blogspot.com/2012/05/contoh-penelitian-tindakan-kelas-ptk.html
diakses pada tanggal 13 Desember 2014
http://hernakuncoro.blogspot.com/2009/03/logaritma.html
diakses pada tanggal 13 Desember 2014
http://ptk01.blogspot.com/2010/04/contoh-ptk-matematika-sma-logaritma.html
diakses pada tanggal 13 Desember 2014
HTTP://WWW.M-EDUKASI.WEB.ID/2014/07/PEMBELAJARAN-PENDEKATAN-SAINTIFIK.HTML
diakses pada tanggal 13
Desember 2014
http://www.rofayuliaazhar.com/2012/06/model-pembelajaran-jigsaw.html
diakses pada tanggal 21 Desember 2014




Tidak ada komentar:
Posting Komentar