Translate

Jumat, 31 Oktober 2014

MACAM – MACAM PENDEKATAN MENGAJAR


A.    Pendekatan Realistik
I.       Pengertian Pembelajaran Matematika Realistik
Pembelajaran matematika realistik adalah padanan Realistic Mathematics Education (RME),  sebuah pendekatan pembelajaran matematika yang dikembangkan di frudenthal di belanda. Gravemeijer (1992:82) mengungkapkan Realistic mathematics education is rooted in freudenthal’s interpretation of mathematicsas an activity. Ungkapan Gravemeijer di atas menunjukkan bahwa pembelajaran matematika realistik dikembangkan berdasar pandangan Freudenthal yang menyatakan matematika sebagai suatu aktivitas. Lebih lanjut Gravemeijer (1994: 82) menjelaskan bahwa yang dapat digolongkan sebagai aktivitas tersebut meliputi aktivitas pemecahan masalah, mencari masalah dan mengorganisasi pokok persoalan. Menurut Freudenthal aktivitas-aktivitas itu disebut matematisasi.
 Pendidikan matematika realistik ( RME ) diketahui sebagai pendekatan yang telah berhasil di Netherlands. Salah satu filososfi yang mendasari pendekatan realistik adalah  bahwa matematika bukanlah satu kumpulan aturan sifat- sifat yang sudah lengkap yang harus siswa sadari .Menurut Treffers ( dalam Fauzan, 2002: 33-34 ) mengungkapakan bahwa ide kunci dari pembelajaran matematika realistik yang menekankan perlunya kesempatan bagi siswa untuk menemukan kembali matematika dengan bantuan orang dewasa ( guru ).


Selain itu disebutkan pula bahwa pengetahuan matematika formal dapat dikembangkan ( ditemukan kembali ) berdasarkan pengetahuan informal yang dimiliki siswa.Pernyataan-pernyataan yang dikemukakan di atas menjelaskan suatu cara pandang terhadap pembelajaran matamatika yang ditempatkan sebagai suatu proses bagi siswa untuk menemukan sendiri pengetahuan matematika berdasar pengetahuan informal yang dimilikinya. Dalam pandangan ini matematika disajikan bukan sebagai barang “jadi” yang dapat dipindahkan oleh guru ke dalam pikiran siswa.
Terkait dengan aktivitas matematisasi dalam belajar matematika, Freudenthal (dalam Panhuizen, 1996: 11) menyebutkan dua jenis matematisasi yaitu matematisasi horizontal dan vertikal dengan penjelasan seperti berikut ini.Pernyataan di atas menjelaskan bahwa matematisasi horizontal menyangkut proses transformasi masalah nyata/ sehari-hari ke dalam bentuk simbol.Sedangkan matematisasi vertikal merupakan proses yang terjadi dalam lingkup simbol matematika itu sendiri. Contoh matematisasi horizontal adalah pengidentifikasian, perumusan dan pemvisualisasian masalah dengan cara-cara yang berbeda oleh siswa. Sedangkan contoh matematisasi vertikal adalah presentasi hubungan-hubungan dalam rumus, menghaluskan dan menyesuaikan model matematika, penggunaan model-model yang berbeda, perumusan model matematika dan penggeneralisasi.Pendekatan RME ini didasari oleh fakta bahwa matematika bukanlah suatu kumpulan aturan atau sifat-sifat yang sudah lengkap yang harus siswa pelajari.Adapun Matematika realistik (MR) adalah  matematika yangdisajikan sebagai suatu proses kegiatan manusia, bukan sebagai suatu produk jadi. Bahan pelajaran yang disajikan melalui bahan cerita yang sesuai dengan lingkungan siswa (kontekstual) (Zigma Edisi, 14, 12 Oktober 2007).Sedangkan pendapat lain menyatakan bahwa Realistic Mathematics Education (PMR) merupakan teori belajar mengajar dalam pendidikan matematika.
Menurut Soedjadi (2001: 3) pembelajaran matematika realistik mempunyai beberapa karakteristik sebagai berikut:
1.    Menggunakan konteks, artinya dalam pembelajaran matematika realistik lingkungan keseharian atau pengetahuan yang telaha dimiliki siswa dapat dijadikan sebagai bagian materi belajar yang kontekstual bagi siswa.
2.   Menggunakan model, artinya permasalahan atau ide dalam matematika dapat dinyatakan dalam bentuk model, baik model dari situasi nyata maupun model yang mengarah ketingkat abstrak.
3   Menggunakan kontribusi siswa, artinya pemecahan masalah atau penemuan konsep yang didasarkan pada sumbangan gagasan siswa.
4.   Interaktif, artinya aktivitas proses pembelajaran dibangun oleh interaksi siswa,siswa dengan guru. Siswa dengan lingkungannya dan sebagainya.Intertwin,artinya topik – topik yang berbeda dapat diintegrasikan sehingga dapat memunculkan pemahaman tentang sustu konsepsecara serentak.
II.    Langkah – langkah pembelajaran matematika realistik  adalah :
Meninjau karekteristik interaktif dalam pembelajran matematika realistik diatas tampak perlu sebuah rancangan pembelajaran yang mampu membangun interaksi antara siswa dengan siswa,siswa dengan guru , dan siswa dengan lingkungannya.Dalam hal ini, Asiki (2001:3) berpandangan perlunyaguru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkomunikasikan ide- idenya melalui persentasi individu, kerja kelompok, diskusi kelompok,maupun diskusi kelas. Negoisasi dan evalusi sesama siswa dan juga denga guru adalah faktor belajar yang penting dalam pembelajran konstruktif ini.Implikasi dari adanya aspek sosial yang cukup tinggi dalam aktivitas belajar siswa tersebut maka guru perlu menentukan metode mengajar yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan tersebut. Salah satu  metode mengajar yang dapat memnuhi tujuan tersebut adalah memasukkan kegiatan diskusi dalam  pembelajaran siswa. Aktivitas diskusi dipandang mampu mendorong dan melancarkan interaksi antara anggota kelas.
III. Prinsip – prinsip Pendekatan  Realistik
Terdapat lima prinsip utama dalam ‘ kurikulum’ matematika realistik:
·            Didominasi oleh masalah- masalah dalam konteks, melayani dua hal yaitu sebagai sumber dan sebagi terapan konsep matematika.
·         Perhatian diberikan pada pengembangan model –model, situasi, sikema,dan simbol –simbol.
·         Sumbangan dari para siswa, sehingga siswa dapat membuat pembelajaran menjadi konstruktif dan produktif, artinya siswa memproduksi sendiri dan mengkonstruksi sendiri ( yang mungkin berupa algoritma, rule atau aturan), sehingga dapat membimbing para siswa dari level matematika informal menuju matematika formal.
·         Interaksi sebagai karakteristik dari proses pembelajaran matematika
·         Intertwinning’ ( membuat jalinan )  antar topik atau antar pokok

IV. Pertimbangan Menggunakan Pendekatan Realistik
Pada dasarnya pendekatan realistik membimbing siswa untuk “ menemukan kembali” konsep – konsep matematika yang pernah ditemukan oleh para ahli matematika atau bila memungkinkan siswa dapat menemukan sama sekali hal yang belum pernah di temukan. Ini dikenal sebagai guided reinvention (Freudenthal,1991).Implementasi pembelajaran matematika dengan pendekatan dilakukan oleh mahasiswa yang telah memahami bagaimana pembelajaran realistik disampaikan, dan bagaimana prinsisp – prinsip pembelajaran realistik dilakukan.Dikaitkan dengan prinsip- prinsip pembelajran dalam pendekatan matematika realistik. Berikut ini merupakan rambu- rambu penerapannya:
§  Bagaimana “ guru “ menyampaikan matematika kontekstual sebagai starting point pembelajaran
§  Bagaimana “ guru “ menstimulasi, membimbing, dan memfasilitasi agar prosedur, algoritma, simbol, skema, dan model yang dibuat oleh siswa mengarahkan mereka untuk sampai kepada matematika formal
§  Bagaiman “ guru “ memberi atau mengarahkan kelas, kelompok, maupun individu untuk menciptakan free production, menciptakan caranya sendiri dalam menyelesaikan soal atau menginterpretasikan problem kontekstual, sehingga tercipta berbagai macam pendekatan, atau metode penyelesaian, atau algoritma
§  Bagaiaman “ guru “ membuat kelas bekerja secara interaktif sehingga terjadi interaksi diantara mereka antara siswa dengan siswa dalam kelompok kecil dan antara anggota- anggota kelompok dalam prestasi umum, serta antara siswa dan guru
§  Bagaimana guru membuat jalinan antara topik dengan topik lain, antara konsep dengan konsep lain, dan antara satu simbol denngan simbol yang lain didalam rangkaian topik matematika.
Pendekatan realistik perlu dipertimbangkan untuk dijadikan alternatif dalam pembelajarn matematika. Namun perlu diingat bahwa masalah kontekstual yang diungkapkan tidak selamanya berasal dari aktivitas sehari – hari, melainkan juga bisa dari konteks yang dapat di- imajinasikan dalam pikiran siswa.
B.     Pendekatan Kontekstual

I.       Pengertian Pendekatan Kontekstual
Pendekatan kontekstual merupakan suatu proses pendidikan yang holistic dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang di pelajari dengan mengaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan sehari – hari, sehingga siswa memiliki pengetahuan yang secara fleksibel dapat diterapkan dari satu permasalahan lainnya. Dengan melibatkan lima komponen utama pembelajaran efektif yaitu kontruksivisme bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, dan penilaian sebenar nya. Pendekatan kontekstual ini sering dikenal dengan CTL.
II.    Langkah – Langkah CTL (Contextual Teaching and Learning)
v Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan bekerja sendiri, dan mengkontruksikan sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
v Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuri untuk semua topik
v Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
v Ciptakan masyarakat belajar
v Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran
v Lakukan refleksi diakhir pertemuan
v Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara

III.  Karakteristik Pembelajaran CTL
1.      Kerja sama
2.      Saling menunjang
3.      Menyenangkan, tidak membosankan
4.      Belajar dengan gairah
5.      Pembelajaran terintegrasi
6.      Menggunakan berbagai sumber
7.      Siswa aktif
8.      Sharing dengan teman
9.      Siswa kritis guru kreatif
10.  Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta gambar, artikel, humor dan lain-lain
11.  Laporan kepada orang tua bukan rapor tetapi hasil karya siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain

IV. Strategi Pendekatan Kontekstual
1.      Belajar berbasis masalah ( problem-based learning)
Suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah nyata sebagai suatu kompleks bagi siswa untuk belajar tentang berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang ensensi dari materi pembelajaran. Dalam hal ini siswa terlibat dalam penyelidikan untuk pemecahan masalah yang mengintegrasikan keterampilan dan konsep dari berbagai isi materi. Pendekatan ini mencakup pengumpulan informasi yang berkaitan dengan pertanyaan, mensistensis dan mempersentasikan penemuanya kepada orang lain
2.      Pembelajaran autentik ( authentic instruction)
Suatu pendekatan pengajaran yang memperkenankan siswa untuk mempelajari konteks bermakna. Ia mengembangkan keterampilan berfikir dan memecahkan masalah yang penting didalam konteks kehidupan nyata.
3.      Belajar berbasis inquiry ( inquiry based learning)
Suatu pendekatan pembelajaran yang mengikuti metodelogi sains dan menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna.
4.      Belajar berbasis proyek/ tugas ( project based learning)
Suatu pendekatan pembelajaran komprehensif dimana lingkungan belajar siswa didesain agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah autentik termasuk penalaran materi dari suatu topik mata pelajaran dan melaksanakan tugas bermakna lainnya. Pendekatan ini memperkenankan siswa untuk bekerja secara mandiri dalam mengkonstruksi pembelajarannya dan mengkulminasikan dengan produk nyata.
5.      Belajar berbasis kerja ( work based learning)
Suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan siswa menggunkan dan bagaimana materi itu dipergunakan kembali ditempat kerja. Jadi dalam hal ini, tempat kerja atau sejenisnya dan berbagai aktifitas dipadukan dengan  materi pelajaran untuk kepentingan  siswa.
6.      Belajar berbasis jasa-layanan
Suatu pendekatan pembelajaran yang menkombinasikan jasa layanan masyarakat dengan struktur berbasis sekolah untuk merefeksikan jasa layanan tersebut.
7.      Belajar koopratif
Pendekatan pembelajaran yang menggunakan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam dalam mencapai tujuan.
C.     Pendekatan Konstruktivisme
I.       Pengertian Pendekatan Konstruktivisme
Dilihat dari arti kata “construct” yaitu membentuk, artinya pendekatan konstruktivisme merupakan pembelajaran yang menekankan pada peran aktif siswa dalam membangun dan memberi makna terhadap informasi dan peristiwa yang dialami (Woolfolk 2005). Dengan kata lain , kita akan memiliki pengetahuan apabila kita terlibat aktif dalam proses belajar. Pada pendekatan konstruktivisme siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi yang ada , memahami dan menerapkannya, siswa juga harus mampu memecahkan masalah , menemukan, dan mengeluarkan ide-ide yang ia miliki. Pendekatan konstruktivisme merupakan suatu proses belajar mengajar dimana siswa aktif secara manual, membangun pengetahuannya, yang dilandasi oleh struktur kognitif yang dimilikinya. Guru lebih berperan sebagai fasilitator dan mediator pembelajaran. Penekanan tentang belajar dan mengajar lebih berfokus terhadap suksesnya siswa mengorganisasi pengalaman mereka.
Dari pendekatan ini , ada satu hal yang penting  yaitu guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa. Guru dapat memberi anak tangga yang bisa membawa siswa ke pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendirilah yang harus berjalan pada anak tangga tersebut.

II.    Prinsip – Prinsip Pendekatan Konstruktivisme (Suparno,1997)

1.      Pengetahuan dibangun oleh siswa secara aktif
2.      Penekanan dalam proses belajar terletak pada siswa
3.      Mengajar adalah membantu siswa belajar
4.      Penekanan dalam proses belajar lebih pada proses bukan pada hasil akhir
5.      Kurikulum menekankan partisipasi siswa
6.      Guru adalah fasilitator
Secara garis besar , prinsip - prinsip konstruktivisme yang diterapkan dalam belajar mengajar adalah pengetahuan yang dibangun oleh siswa sendiri tidak hanya dipindahkan dari guru ke siswa, kecuali hanya dengan keaktifan siswa itu sendiri untuk bernalar.

III.  Aspek – Aspek Pendekatan Konstruktivisme

Fornot mengemukakan aspek-aspek konstruktivime sebagai berikut: adaptasi (adaptation), konsep pada lingkungan (the concept of envieronmet), dan pembentukan makna (the construction of meaning). Dari ketiga aspek tersebut J. Piaget berpendapat bahwa adaptasi terhadap lingkungan dilakukan melalui dua proses yaitu asimilasi dan akomodasi.
Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya. Asimilasi dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan baru dalam skema yang telah ada. Proses asimilasi ini berjalan terus. Asimilasi tidak akan menyebabkan perubahan/pergantian skemata melainkan perkembangan skemata. Asimilasi adalah salah satu proses individu dalam mengadaptasikan dan mengorganisasikan diri dengan lingkungan baru perngertian orang itu akan  berkembang.
Akomodasi, dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan skemata yang telah dimiliki. Pengalaman yang baru itu bisa jadi sama sekali tidak cocok dengan skema yang telah ada. Dalam keadaan demikian orang akan mengadakan akomodasi. Akomodasi terjadi untuk membentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu. Bagi Piaget adaptasi merupakan suatu kesetimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Bila dalam proses asimilasi seseorang tidak dapat mengadakan adaptasi terhadap lingkungannya maka terjadilah ketidaksetimbangan. Akibat ketidaksetimbangan itu maka tercapailah akomodasi dan struktur kognitif yang ada yang akan mengalami atau munculnya struktur yang baru. Pertumbuhan intelektual ini merupakan proses terus menerus tentang keadaan ketidaksetimbangan dan keadaan setimbang. Tetapi bila terjadi kesetimbangan maka individu akan berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada sebelumnya.Konstruktivisme Vygotsky memandang bahwa pengetahuan dikonstruksi secara kolaboratif antar individual dan keadaan tersebut dapat disesuaikan oleh setiap individu. Proses dalam kognisi diarahkan memalui adaptasi intelektual dalam konteks social budaya. Proses penyesuaian itu equivalent dengan pengkonstruksian pengetahuan secara intra individual yakni melalui proses regulasi diri internal. Dalam hubungan ini, para konstruktivis Vygotsky lebih menekankan pada penerapan teknik saling tukar gagasan antar individual.
Dua prinsip penting yang diturunkan dari teori Vygotsky adalah: (1),  mengenai fungsi dan pentingnya bahasa dalam komunikasi social yang dimulai proses pencanderaan terhadap tanda (sign) sampai kepada tukar menukar informasi dan pengetahuan, (2) zona of proximal development. Pembelajar sebagai  mediator memiliki peran mendorong dan menjembatani siswa dalam upayanya membangun pengetahuan, pengertian dan kompetensi. Sumbangan penting teori Vygotsky adalah penekanan pada hakikat pembelajaran sosiakultural. Inti teori Vygotsky adalah menekankan interaksi antara aspek internal dan eksternal dari pembelajaran dan penekanannya pada lingkungan sosial pembelajaran.
Menurut teori Vygotsky, fungsi kognitif manusia berasal dari interaksi sosial masing-masing individu dalam konteks budaya. Vygotsky juga yakin bahwa pembelajaran terjadi saat siswa bekerja menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas tersebut masih dalam jangkauan kemampuannya atau tugas-tugas itu berada dalam zona of proximal development mereka. Zona  of proximal development adalah daerah antar tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan memecahkan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu.
Pengetahuan  dan pengertian dikonstruksi bila seseorang terlibat secara sosial dalam dialog dan aktif dalam percobaan-percobaan dan pengalaman. Pembentukan makna adalah dialog antar pribadi.dalam hal ini pebelajar tidak hanya memerlukan akses pengalaman fisik tetapi juga interaksi dengan pengalaman yang dimiliki oleh individu lain. Pembelajaran yang sifatnya kooperatif (cooperative learning) ini muncul ketika siswa bekerja sama untuk mencapai tujuan belajar yang diinginka oleh siswa. Pengelolaan kelas menurut cooperative learning bertujuan membantu siswa untuk mengembangkan niat dan kiat  bekerja sama dan berinteraksi dengna siswa yang lain. Ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas yaitu: pengelompokan, semangar kooperatif dan penataan kelas.
IV. Ciri – Ciri Pendekatan Konstruktivisme

a.       Dengan adanya pendekatan konstruktivisme, pengembangan pengetahuan bagi peserta didik dapat dilakukan oleh siswa itu sendiri melalui kegiatan penelitian atau pengamatan lansung sehingga siswa dapat menyalurkan ide-ide baru sesuai denga pengalaman dengan menemukan fakta yang sesuai dengan kajian teori.
b.      Antara pengetahuan-pengetahuan yang ada, harus ada keterkaitan dengan pengalaman yang ada pada diri siswa.
c.       Setiap siswa mempunyai peranan penting dalam menentukan apa yang mereka pelajari.
d.      Peranan guru hanya sebagai pembimbing dengan menyediakan materi atau konsep apa yang akan dipelajari serta memberikan peluang kepada siswa untuk menalisis sesuai dengan materi yang dipelajari.

V.                Pendekatan Konstruktivisme dalam Pembelajaran Matematika

Belajar matematika bukanlah suatu proses pengepakan pengetahuan secara hati-hati, melainkan tentang mengorganisir aktivitas, dimana kegiatan ini diinterpretasikan secara luas termasuk aktivitas dan berfikir konteptual (cobb,1991)
Hakikat pembelajaran matematika menurut teori belajar konstruktivisme.Menurut teori belajar konstruktivisme siswa harus aktif belajar secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya.Dengan kata lain siswa tidak diharapkan sebagai botol-botol kecil yang siap diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak guru.
Sehubungan dengan hal diatas, Tasker (1992:3) mengemukakan 3 penekanan dalam teori belajar konstruktivisme yaitu:
1.      Peran aktif siswa dalam mengkonstruksi penegtahuan secara bermakna.
2.      Pentingnya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna.
3.      Mengaitkan antara gagasan denga informasi baru yang diterima.
Wheatley (1991:12) mendukung pendapat diatas dengan mengajukan 2 prinsip utama pembelajaran dengan teori belajar konstruktivisme, yaitu:
a.       Pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif, tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa.
b.      Fungsi kognitif bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiliki anak.
Kedua pengertian diatas menekankan bagaimana pentingya keterlibatan anak secara aktif dalam proses pengaitan sejumlah gagasan dan pengkostruksian ilmu pengetahuan melalui lingkungannya.Bahkan secara spesifik Hudoyo (1990:4) mengatakan bahwa seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang telah diketahui orang lain. Oleh karena itu untuk mempelajari suatu materi matematika yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi terjadinya proses belajar metematika tersebut.
Selain penekanan dan tahap-tahap tertentu yang perlu diperhatikan dalam teori belajar konstruktivisme, Hanbury (1996:3) menemukakan sejumlah aspek dalam kaitannya dengan pembelajaran matematika yaitu:
1.   Siswa mengkonstruksi pengetahuan matematika dengan cara mengintegrasikan ide yang mereka miliki.
2.   Matematika menjadi lebih bermakna karena siswa mengerti.
3.   Strategi siswa lebih bernilai.
4.   Siswa mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan temannya.



Daftar Pustaka
Aryani,Farida.2012.Dasar – Dasar dan Proses Pembelajaran matematika 1. Palembang: FKIP UNIV PGRI
Anwar.2004. Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education).              Bandung: Alfabeta.
Pranata.2008.BelajarKontruktivisme. http://puslit.petra.ac.id/journals/interior/.  Diakses pada tanggal 22 februari 2014
Annisa, Aklama. 2011. Teori Belajar Konstruktivisme.



Anonim .2010. Kontruktivismehttp://en.wikipedia.org/wiki/Constructivism. Diakses pada tanggal 22 februari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar