A.
Pendekatan
Realistik
I. Pengertian
Pembelajaran Matematika Realistik
Pembelajaran matematika realistik adalah padanan
Realistic Mathematics Education (RME), sebuah pendekatan pembelajaran matematika yang
dikembangkan di frudenthal di belanda. Gravemeijer (1992:82) mengungkapkan
Realistic mathematics education is rooted in freudenthal’s interpretation of
mathematicsas an activity. Ungkapan Gravemeijer di atas menunjukkan bahwa
pembelajaran matematika realistik dikembangkan berdasar pandangan Freudenthal
yang menyatakan matematika sebagai suatu aktivitas. Lebih lanjut Gravemeijer
(1994: 82) menjelaskan bahwa yang dapat digolongkan sebagai aktivitas tersebut
meliputi aktivitas pemecahan masalah, mencari masalah dan mengorganisasi pokok
persoalan. Menurut Freudenthal aktivitas-aktivitas itu disebut matematisasi.
Pendidikan
matematika realistik ( RME ) diketahui sebagai pendekatan yang telah berhasil
di Netherlands. Salah satu filososfi yang mendasari pendekatan realistik
adalah bahwa matematika bukanlah satu kumpulan aturan sifat- sifat yang
sudah lengkap yang harus siswa sadari .Menurut Treffers ( dalam Fauzan, 2002:
33-34 ) mengungkapakan bahwa ide kunci dari pembelajaran matematika realistik
yang menekankan perlunya kesempatan bagi siswa untuk menemukan kembali
matematika dengan bantuan orang dewasa ( guru ).
Selain itu disebutkan pula bahwa pengetahuan
matematika formal dapat dikembangkan ( ditemukan kembali ) berdasarkan
pengetahuan informal yang dimiliki siswa.Pernyataan-pernyataan yang dikemukakan
di atas menjelaskan suatu cara pandang terhadap pembelajaran matamatika yang
ditempatkan sebagai suatu proses bagi siswa untuk menemukan sendiri pengetahuan
matematika berdasar pengetahuan informal yang dimilikinya. Dalam pandangan ini
matematika disajikan bukan sebagai barang “jadi” yang dapat dipindahkan oleh
guru ke dalam pikiran siswa.
Terkait dengan aktivitas matematisasi dalam belajar matematika, Freudenthal (dalam Panhuizen, 1996: 11) menyebutkan dua jenis matematisasi yaitu matematisasi horizontal dan vertikal dengan penjelasan seperti berikut ini.Pernyataan di atas menjelaskan bahwa matematisasi horizontal menyangkut proses transformasi masalah nyata/ sehari-hari ke dalam bentuk simbol.Sedangkan matematisasi vertikal merupakan proses yang terjadi dalam lingkup simbol matematika itu sendiri. Contoh matematisasi horizontal adalah pengidentifikasian, perumusan dan pemvisualisasian masalah dengan cara-cara yang berbeda oleh siswa. Sedangkan contoh matematisasi vertikal adalah presentasi hubungan-hubungan dalam rumus, menghaluskan dan menyesuaikan model matematika, penggunaan model-model yang berbeda, perumusan model matematika dan penggeneralisasi.Pendekatan RME ini didasari oleh fakta bahwa matematika bukanlah suatu kumpulan aturan atau sifat-sifat yang sudah lengkap yang harus siswa pelajari.Adapun Matematika realistik (MR) adalah matematika yangdisajikan sebagai suatu proses kegiatan manusia, bukan sebagai suatu produk jadi. Bahan pelajaran yang disajikan melalui bahan cerita yang sesuai dengan lingkungan siswa (kontekstual) (Zigma Edisi, 14, 12 Oktober 2007).Sedangkan pendapat lain menyatakan bahwa Realistic Mathematics Education (PMR) merupakan teori belajar mengajar dalam pendidikan matematika.
Terkait dengan aktivitas matematisasi dalam belajar matematika, Freudenthal (dalam Panhuizen, 1996: 11) menyebutkan dua jenis matematisasi yaitu matematisasi horizontal dan vertikal dengan penjelasan seperti berikut ini.Pernyataan di atas menjelaskan bahwa matematisasi horizontal menyangkut proses transformasi masalah nyata/ sehari-hari ke dalam bentuk simbol.Sedangkan matematisasi vertikal merupakan proses yang terjadi dalam lingkup simbol matematika itu sendiri. Contoh matematisasi horizontal adalah pengidentifikasian, perumusan dan pemvisualisasian masalah dengan cara-cara yang berbeda oleh siswa. Sedangkan contoh matematisasi vertikal adalah presentasi hubungan-hubungan dalam rumus, menghaluskan dan menyesuaikan model matematika, penggunaan model-model yang berbeda, perumusan model matematika dan penggeneralisasi.Pendekatan RME ini didasari oleh fakta bahwa matematika bukanlah suatu kumpulan aturan atau sifat-sifat yang sudah lengkap yang harus siswa pelajari.Adapun Matematika realistik (MR) adalah matematika yangdisajikan sebagai suatu proses kegiatan manusia, bukan sebagai suatu produk jadi. Bahan pelajaran yang disajikan melalui bahan cerita yang sesuai dengan lingkungan siswa (kontekstual) (Zigma Edisi, 14, 12 Oktober 2007).Sedangkan pendapat lain menyatakan bahwa Realistic Mathematics Education (PMR) merupakan teori belajar mengajar dalam pendidikan matematika.
Menurut Soedjadi (2001: 3) pembelajaran matematika
realistik mempunyai beberapa karakteristik sebagai berikut:
1. Menggunakan
konteks, artinya dalam pembelajaran matematika realistik lingkungan keseharian
atau pengetahuan yang telaha dimiliki siswa dapat dijadikan sebagai bagian
materi belajar yang kontekstual bagi siswa.
2. Menggunakan
model, artinya permasalahan atau ide dalam matematika dapat dinyatakan dalam
bentuk model, baik model dari situasi nyata maupun model yang mengarah
ketingkat abstrak.
3 Menggunakan kontribusi siswa, artinya
pemecahan masalah atau penemuan konsep yang didasarkan pada sumbangan gagasan
siswa.
4. Interaktif,
artinya aktivitas proses pembelajaran dibangun oleh interaksi siswa,siswa dengan
guru. Siswa dengan lingkungannya dan sebagainya.Intertwin,artinya topik – topik
yang berbeda dapat diintegrasikan sehingga dapat memunculkan pemahaman tentang
sustu konsepsecara serentak.
II.
Langkah – langkah pembelajaran
matematika realistik adalah :
Meninjau karekteristik interaktif dalam pembelajran
matematika realistik diatas tampak perlu sebuah rancangan pembelajaran yang
mampu membangun interaksi antara siswa dengan siswa,siswa dengan guru , dan
siswa dengan lingkungannya.Dalam hal ini, Asiki (2001:3) berpandangan
perlunyaguru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkomunikasikan ide-
idenya melalui persentasi individu, kerja kelompok, diskusi kelompok,maupun
diskusi kelas. Negoisasi dan evalusi sesama siswa dan juga denga guru adalah
faktor belajar yang penting dalam pembelajran konstruktif ini.Implikasi dari
adanya aspek sosial yang cukup tinggi dalam aktivitas belajar siswa tersebut
maka guru perlu menentukan metode mengajar yang tepat dan sesuai dengan
kebutuhan tersebut. Salah satu metode mengajar yang dapat memnuhi tujuan
tersebut adalah memasukkan kegiatan diskusi dalam pembelajaran siswa.
Aktivitas diskusi dipandang mampu mendorong dan melancarkan interaksi antara
anggota kelas.
III. Prinsip
– prinsip Pendekatan Realistik
Terdapat lima prinsip utama dalam ‘ kurikulum’
matematika realistik:
·
Didominasi oleh masalah- masalah dalam
konteks, melayani dua hal yaitu sebagai sumber dan sebagi terapan konsep
matematika.
·
Perhatian diberikan pada pengembangan
model –model, situasi, sikema,dan simbol –simbol.
·
Sumbangan dari para siswa, sehingga
siswa dapat membuat pembelajaran menjadi konstruktif dan produktif, artinya
siswa memproduksi sendiri dan mengkonstruksi sendiri ( yang mungkin berupa
algoritma, rule atau aturan), sehingga dapat membimbing para siswa dari level
matematika informal menuju matematika formal.
·
Interaksi sebagai karakteristik dari
proses pembelajaran matematika
·
Intertwinning’ ( membuat jalinan )
antar topik atau antar pokok
IV. Pertimbangan
Menggunakan Pendekatan Realistik
Pada dasarnya pendekatan realistik membimbing siswa
untuk “ menemukan kembali” konsep – konsep matematika yang pernah ditemukan
oleh para ahli matematika atau bila memungkinkan siswa dapat menemukan sama
sekali hal yang belum pernah di temukan. Ini dikenal sebagai guided reinvention
(Freudenthal,1991).Implementasi pembelajaran matematika dengan pendekatan
dilakukan oleh mahasiswa yang telah memahami bagaimana pembelajaran realistik
disampaikan, dan bagaimana prinsisp – prinsip pembelajaran realistik
dilakukan.Dikaitkan dengan prinsip- prinsip pembelajran dalam pendekatan
matematika realistik. Berikut ini merupakan rambu- rambu penerapannya:
§ Bagaimana
“ guru “ menyampaikan matematika kontekstual sebagai starting point
pembelajaran
§ Bagaimana
“ guru “ menstimulasi, membimbing, dan memfasilitasi agar prosedur, algoritma,
simbol, skema, dan model yang dibuat oleh siswa mengarahkan mereka untuk sampai
kepada matematika formal
§ Bagaiman
“ guru “ memberi atau mengarahkan kelas, kelompok, maupun individu untuk
menciptakan free production, menciptakan caranya sendiri dalam menyelesaikan
soal atau menginterpretasikan problem kontekstual, sehingga tercipta berbagai
macam pendekatan, atau metode penyelesaian, atau algoritma
§ Bagaiaman
“ guru “ membuat kelas bekerja secara interaktif sehingga terjadi interaksi
diantara mereka antara siswa dengan siswa dalam kelompok kecil dan antara
anggota- anggota kelompok dalam prestasi umum, serta antara siswa dan guru
§ Bagaimana
guru membuat jalinan antara topik dengan topik lain, antara konsep dengan
konsep lain, dan antara satu simbol denngan simbol yang lain didalam rangkaian
topik matematika.
Pendekatan realistik perlu dipertimbangkan untuk
dijadikan alternatif dalam pembelajarn matematika. Namun perlu diingat bahwa
masalah kontekstual yang diungkapkan tidak selamanya berasal dari aktivitas
sehari – hari, melainkan juga bisa dari konteks yang dapat di- imajinasikan
dalam pikiran siswa.
B. Pendekatan
Kontekstual
I. Pengertian
Pendekatan Kontekstual
Pendekatan kontekstual merupakan suatu proses
pendidikan yang holistic dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna
materi pelajaran yang di pelajari dengan mengaitkan materi tersebut dengan
konteks kehidupan sehari – hari, sehingga siswa memiliki pengetahuan yang secara
fleksibel dapat diterapkan dari satu permasalahan lainnya. Dengan melibatkan
lima komponen utama pembelajaran efektif yaitu kontruksivisme bertanya,
menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, dan penilaian sebenar nya. Pendekatan
kontekstual ini sering dikenal dengan CTL.
II.
Langkah – Langkah CTL (Contextual
Teaching and Learning)
v Kembangkan
pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan bekerja sendiri, dan
mengkontruksikan sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
v Laksanakan
sejauh mungkin kegiatan inkuri untuk semua topik
v Kembangkan
sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
v Ciptakan
masyarakat belajar
v Hadirkan
model sebagai contoh pembelajaran
v Lakukan
refleksi diakhir pertemuan
v Lakukan
penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara
III.
Karakteristik Pembelajaran CTL
1. Kerja
sama
2. Saling
menunjang
3. Menyenangkan,
tidak membosankan
4. Belajar
dengan gairah
5. Pembelajaran
terintegrasi
6. Menggunakan
berbagai sumber
7. Siswa
aktif
8. Sharing
dengan teman
9. Siswa
kritis guru kreatif
10. Dinding
dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta gambar, artikel,
humor dan lain-lain
11. Laporan
kepada orang tua bukan rapor tetapi hasil karya siswa, laporan hasil pratikum,
karangan siswa dan lain-lain
IV. Strategi
Pendekatan Kontekstual
1. Belajar
berbasis masalah ( problem-based learning)
Suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan
masalah nyata sebagai suatu kompleks bagi siswa untuk belajar tentang berpikir
kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan
dan konsep yang ensensi dari materi pembelajaran. Dalam hal ini siswa terlibat
dalam penyelidikan untuk pemecahan masalah yang mengintegrasikan keterampilan
dan konsep dari berbagai isi materi. Pendekatan ini mencakup pengumpulan
informasi yang berkaitan dengan pertanyaan, mensistensis dan mempersentasikan
penemuanya kepada orang lain
2. Pembelajaran
autentik ( authentic instruction)
Suatu pendekatan pengajaran yang memperkenankan
siswa untuk mempelajari konteks bermakna. Ia mengembangkan keterampilan
berfikir dan memecahkan masalah yang penting didalam konteks kehidupan nyata.
3. Belajar
berbasis inquiry ( inquiry based learning)
Suatu pendekatan pembelajaran yang mengikuti
metodelogi sains dan menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna.
4. Belajar
berbasis proyek/ tugas ( project based learning)
Suatu pendekatan pembelajaran komprehensif dimana
lingkungan belajar siswa didesain agar siswa dapat melakukan penyelidikan
terhadap masalah autentik termasuk penalaran materi dari suatu topik mata pelajaran
dan melaksanakan tugas bermakna lainnya. Pendekatan ini memperkenankan siswa
untuk bekerja secara mandiri dalam mengkonstruksi pembelajarannya dan
mengkulminasikan dengan produk nyata.
5. Belajar
berbasis kerja ( work based learning)
Suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan
siswa menggunkan dan bagaimana materi itu dipergunakan kembali ditempat kerja.
Jadi dalam hal ini, tempat kerja atau sejenisnya dan berbagai aktifitas
dipadukan dengan materi pelajaran untuk
kepentingan siswa.
6. Belajar
berbasis jasa-layanan
Suatu pendekatan pembelajaran yang menkombinasikan
jasa layanan masyarakat dengan struktur berbasis sekolah untuk merefeksikan
jasa layanan tersebut.
7. Belajar
koopratif
Pendekatan pembelajaran yang menggunakan kelompok kecil
siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam dalam
mencapai tujuan.
C. Pendekatan
Konstruktivisme
I. Pengertian
Pendekatan Konstruktivisme
Dilihat
dari arti kata “construct” yaitu membentuk, artinya pendekatan konstruktivisme
merupakan pembelajaran yang menekankan pada peran aktif siswa dalam membangun
dan memberi makna terhadap informasi dan peristiwa yang dialami (Woolfolk
2005). Dengan kata lain , kita akan memiliki pengetahuan apabila kita terlibat
aktif dalam proses belajar. Pada pendekatan konstruktivisme siswa harus
menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi yang ada , memahami dan
menerapkannya, siswa juga harus mampu memecahkan masalah , menemukan, dan
mengeluarkan ide-ide yang ia miliki. Pendekatan konstruktivisme merupakan suatu
proses belajar mengajar dimana siswa aktif secara manual, membangun
pengetahuannya, yang dilandasi oleh struktur kognitif yang dimilikinya. Guru
lebih berperan sebagai fasilitator dan mediator pembelajaran. Penekanan tentang
belajar dan mengajar lebih berfokus terhadap suksesnya siswa mengorganisasi
pengalaman mereka.
Dari
pendekatan ini , ada satu hal yang penting yaitu guru tidak hanya
sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa. Guru dapat memberi anak tangga
yang bisa membawa siswa ke pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa
sendirilah yang harus berjalan pada anak tangga tersebut.
II.
Prinsip
– Prinsip Pendekatan Konstruktivisme (Suparno,1997)
1. Pengetahuan dibangun oleh siswa
secara aktif
2. Penekanan dalam proses belajar terletak
pada siswa
3. Mengajar adalah membantu siswa
belajar
4. Penekanan dalam proses belajar lebih
pada proses bukan pada hasil akhir
5. Kurikulum menekankan partisipasi
siswa
6. Guru adalah fasilitator
Secara
garis besar , prinsip - prinsip konstruktivisme yang diterapkan dalam belajar
mengajar adalah pengetahuan yang dibangun oleh siswa sendiri tidak hanya
dipindahkan dari guru ke siswa, kecuali hanya dengan keaktifan siswa itu
sendiri untuk bernalar.
III. Aspek – Aspek Pendekatan Konstruktivisme
Fornot mengemukakan aspek-aspek
konstruktivime sebagai berikut: adaptasi (adaptation), konsep pada
lingkungan (the concept of envieronmet), dan pembentukan makna (the
construction of meaning). Dari ketiga aspek tersebut J. Piaget berpendapat
bahwa adaptasi terhadap lingkungan dilakukan melalui dua proses yaitu asimilasi
dan akomodasi.
Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang
mengintegrasikan persepsi, konsep ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau
pola yang sudah ada dalam pikirannya. Asimilasi dipandang sebagai suatu proses
kognitif yang menempatkan dan mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan baru
dalam skema yang telah ada. Proses asimilasi ini berjalan terus. Asimilasi
tidak akan menyebabkan perubahan/pergantian skemata melainkan perkembangan
skemata. Asimilasi adalah salah satu proses individu dalam mengadaptasikan dan
mengorganisasikan diri dengan lingkungan baru perngertian orang itu akan
berkembang.
Akomodasi, dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru
seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan skemata yang
telah dimiliki. Pengalaman yang baru itu bisa jadi sama sekali tidak cocok
dengan skema yang telah ada. Dalam keadaan demikian orang akan mengadakan
akomodasi. Akomodasi terjadi untuk membentuk skema baru yang cocok dengan
rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok
dengan rangsangan itu. Bagi Piaget adaptasi merupakan suatu
kesetimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Bila dalam proses asimilasi
seseorang tidak dapat mengadakan adaptasi terhadap lingkungannya maka
terjadilah ketidaksetimbangan. Akibat ketidaksetimbangan itu maka tercapailah
akomodasi dan struktur kognitif yang ada yang akan mengalami atau munculnya
struktur yang baru. Pertumbuhan intelektual ini merupakan proses terus menerus
tentang keadaan ketidaksetimbangan dan keadaan setimbang. Tetapi bila terjadi
kesetimbangan maka individu akan berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada
sebelumnya.Konstruktivisme Vygotsky memandang bahwa pengetahuan dikonstruksi
secara kolaboratif antar individual dan keadaan tersebut dapat disesuaikan oleh
setiap individu. Proses dalam kognisi diarahkan memalui adaptasi intelektual
dalam konteks social budaya. Proses penyesuaian itu equivalent dengan
pengkonstruksian pengetahuan secara intra individual yakni melalui proses
regulasi diri internal. Dalam hubungan ini, para konstruktivis Vygotsky lebih
menekankan pada penerapan teknik saling tukar gagasan antar individual.
Dua prinsip penting yang diturunkan dari teori Vygotsky
adalah: (1), mengenai fungsi dan pentingnya bahasa dalam komunikasi
social yang dimulai proses pencanderaan terhadap tanda (sign) sampai kepada
tukar menukar informasi dan pengetahuan, (2) zona of proximal
development. Pembelajar sebagai mediator memiliki peran mendorong dan
menjembatani siswa dalam upayanya membangun pengetahuan, pengertian dan
kompetensi. Sumbangan penting teori Vygotsky adalah penekanan pada hakikat
pembelajaran sosiakultural. Inti teori Vygotsky adalah menekankan interaksi
antara aspek internal dan eksternal dari pembelajaran dan penekanannya pada lingkungan
sosial pembelajaran.
Menurut teori Vygotsky, fungsi kognitif manusia berasal dari
interaksi sosial masing-masing individu dalam konteks budaya. Vygotsky juga
yakin bahwa pembelajaran terjadi saat siswa bekerja menangani tugas-tugas yang
belum dipelajari namun tugas-tugas tersebut masih dalam jangkauan kemampuannya
atau tugas-tugas itu berada dalam zona of proximal development mereka. Zona
of proximal development adalah daerah antar tingkat perkembangan
sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan memecahkan masalah secara
mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan
pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih
mampu.
Pengetahuan dan pengertian dikonstruksi bila seseorang
terlibat secara sosial dalam dialog dan aktif dalam percobaan-percobaan dan
pengalaman. Pembentukan makna adalah dialog antar pribadi.dalam hal ini
pebelajar tidak hanya memerlukan akses pengalaman fisik tetapi juga interaksi
dengan pengalaman yang dimiliki oleh individu lain. Pembelajaran yang sifatnya
kooperatif (cooperative learning) ini muncul ketika siswa bekerja
sama untuk mencapai tujuan belajar yang diinginka oleh siswa. Pengelolaan kelas
menurut cooperative learning bertujuan membantu siswa untuk
mengembangkan niat dan kiat bekerja sama dan berinteraksi dengna siswa
yang lain. Ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas
yaitu: pengelompokan, semangar kooperatif dan penataan kelas.
IV.
Ciri
– Ciri Pendekatan Konstruktivisme
a. Dengan
adanya pendekatan konstruktivisme, pengembangan pengetahuan bagi peserta didik
dapat dilakukan oleh siswa itu sendiri melalui kegiatan penelitian atau
pengamatan lansung sehingga siswa dapat menyalurkan ide-ide baru sesuai denga
pengalaman dengan menemukan fakta yang sesuai dengan kajian teori.
b. Antara
pengetahuan-pengetahuan yang ada, harus ada keterkaitan dengan pengalaman yang ada
pada diri siswa.
c. Setiap
siswa mempunyai peranan penting dalam menentukan apa yang mereka pelajari.
d. Peranan
guru hanya sebagai pembimbing dengan menyediakan materi atau konsep apa yang
akan dipelajari serta memberikan peluang kepada siswa untuk menalisis sesuai
dengan materi yang dipelajari.
V.
Pendekatan Konstruktivisme dalam Pembelajaran
Matematika
Belajar matematika bukanlah suatu proses pengepakan
pengetahuan secara hati-hati, melainkan tentang mengorganisir aktivitas, dimana
kegiatan ini diinterpretasikan secara luas termasuk aktivitas dan berfikir
konteptual (cobb,1991)
Hakikat pembelajaran matematika menurut teori
belajar konstruktivisme.Menurut teori belajar konstruktivisme siswa harus aktif
belajar secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan
kognitif yang dimilikinya.Dengan kata lain siswa tidak diharapkan sebagai
botol-botol kecil yang siap diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan sesuai
dengan kehendak guru.
Sehubungan dengan hal diatas, Tasker (1992:3) mengemukakan
3 penekanan dalam teori belajar konstruktivisme yaitu:
1. Peran
aktif siswa dalam mengkonstruksi penegtahuan secara bermakna.
2. Pentingnya
membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna.
3. Mengaitkan
antara gagasan denga informasi baru yang diterima.
Wheatley (1991:12) mendukung pendapat diatas dengan
mengajukan 2 prinsip utama pembelajaran dengan teori belajar konstruktivisme,
yaitu:
a. Pengetahuan
tidak dapat diperoleh secara pasif, tetapi secara aktif oleh struktur kognitif
siswa.
b. Fungsi
kognitif bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman
nyata yang dimiliki anak.
Kedua pengertian diatas menekankan bagaimana
pentingya keterlibatan anak secara aktif dalam proses pengaitan sejumlah
gagasan dan pengkostruksian ilmu pengetahuan melalui lingkungannya.Bahkan
secara spesifik Hudoyo (1990:4) mengatakan bahwa seseorang akan lebih mudah
mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang telah diketahui
orang lain. Oleh karena itu untuk mempelajari suatu materi matematika yang
baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi terjadinya
proses belajar metematika tersebut.
Selain penekanan dan tahap-tahap tertentu yang perlu
diperhatikan dalam teori belajar konstruktivisme, Hanbury (1996:3) menemukakan
sejumlah aspek dalam kaitannya dengan pembelajaran matematika yaitu:
1.
Siswa mengkonstruksi pengetahuan
matematika dengan cara mengintegrasikan ide yang mereka miliki.
2.
Matematika menjadi lebih bermakna karena
siswa mengerti.
3.
Strategi siswa lebih bernilai.
4.
Siswa mempunyai kesempatan untuk
berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan temannya.
Daftar Pustaka
Aryani,Farida.2012.Dasar – Dasar dan Proses Pembelajaran
matematika 1. Palembang: FKIP UNIV PGRI
Anwar.2004. Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill
Education). Bandung:
Alfabeta.
Pranata.2008.BelajarKontruktivisme. http://puslit.petra.ac.id/journals/interior/. Diakses
pada tanggal 22 februari 2014
Annisa,
Aklama. 2011. Teori Belajar Konstruktivisme.
http://edukasi.kompasiana.com/2011/10/24/
teori-belajar-konstruktivisme.
Diakses pada tanggal 22 Februari 2014.
Anonim
.2010. Kontruktivisme. http://en.wikipedia.org/wiki/Constructivism. Diakses pada tanggal 22 februari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar