1.1. Program Bimbingan di Sekolah
Program bimbingan dan konseling
merupakan bagian yang terpadu dari keseluruhan program pendidikan di sekolah.
Oleh karena itu, upaya guru pembimbing maupun berbagai aspek yang tercakup
merupakan bagian tidak dapat dipisahkan dari seluruh bagian kegiatan yang
diarahkan kepada pencapaian tujuan pendidikan di lembaga yang bersangkutan.
1.1.1. Pengertian
Program Bimbingan
Menurut pendapat Hotch dan
Costor yang dikutip oleh Gipson dan Mitchell (1981) program bimbingan dan
konseling adalah suatu program yang memberikan layanan khusus yang dimaksudkan
untuk membantu individu dalam mengadakan penyesuaian diri. Program bimbingan
itu menyangkut dua faktor, yaitu: (1) faktor pelaksana atau orang yang akan
menberikan bimbingan, dan (2) faktor-faktor yang berkaitan perlengkapan,
metode, bentuk layanan siswa-siswa, dan sebagainya, yang mempunyai kaitan
dengan kegiatan bimbingan (Abu Ahmadi, 1997).
Program bimbingan memberikan arah
yang jelas dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan efisien dan
efektif.Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) menyatakan bahwa program
bimbingan yang disusun dengan baik dan rinci akan memberikan banyak keuntungan
, seperti :
a) Memungkinkan para
petugas menghemat waktu, usaha, biaya, dan menghindari kesalahan-kesalahan, dan
usaha coba-coba yang tidak menguntungkan
b) Memungkinkan siswa
untuk mendapatkan layanan bimbingan secara seimbang dan menyeluruh, baik dalam
hal kesempatan ataupun dalam jenis layanan bimbingan yang diperlukan
c) Memungkinkan setiap
petugas mengetahui dan memahami peranannya masing-masing dan mengetahui bagaimana
dan dimana mereka harus melakukan upaya secara tetap
d) Memungkinkan para petugas
untuk menghayati pengalaman yang sangat berguna untuk kemajuannya sendiri dan
untuk kepentingan siswa yang dibimbinganya.
Pendapat
ini menekankan perlunya rumusan program bimbingan yang jelas dan sistematik.
Keberhasilan dalam merumuskan program yang demikian, merupakan titik awal
keberhasilan pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling disekolah.
1.1.2.
Langkah-Langkah Penyusunan Program
Bimbingan
Dalam penyusunan program bimbingan
perlu ditempuh langkah-langkah seperti dikemukakan oleh Miller yang dikutip
oleh Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) seperti berikut :
a)
Tahap
Persiapan
Langkah ini dilakukan melalui survei untuk menginventarisasi
tujuan, kebutuhan dan kemampuan sekolah, serta kesiapan sekolah yang
bersangkutan untuk melaksanakan program bimbingan. Kegiatan ini dimaksudkan
untuk menentukan langkah awal pelaksanaan program.
b)
Pertemuan-pertemuan
permulaan dengan para konselor yang telah ditunjuk oleh pemimpin sekolah.
Tujuan pertemuan ini untuk menyamakan pemikiran tentang
perlunya program bimbingan, serta merumuskan arah program yang akan disusun.
c)
Pembentukan
panitia sementara untuk merumuskan program bimbingan.
Panitia ini bertugas merumuskan tujuan program bimbingan
yang akan disusun, mempersiapkan bagan organisasi dari program tersebut, dan
membuat kerangka dasar dari program bimbingan yang akan disusun.
d)
Pembentukan
panitia penyelenggara program.
Panitia ini bertugas mempersiapkan program tes,
mempersiapkan dan melaksanakan sistem pencatatan, dan melatih para pelaksana
program bimbingan untuk melaksanakan kegiatan tersebut.
e) Penyusunan
program bimbingan dan konseling di sekolah hendaknya dirumuskan dan
diinventarisasikan berbagai fasilitas yang ada.
f) Penyusunan
program bimbingan dan konseling hendaknya merumuskan masalah-masalah yang
dihadapi.
Di samping rumusan tentang
langkah-langkah penyusunan program bimbingan sebagaimana dikemukakan itu,
berikut ini dapat pula disajikan langkah-langkah penyusunan program bimbingan
yang sederhana, yaitu :
a) Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan
sekolah terutama yang ada kaitannya dengan bimbingan.
Pada kegiatan ini dapat dilakukan
pertemuan – pertemuan dengan personel sekolah lainnya guna mendapatkan masukan
(input) mengenai berbagai hal yang perlu ditangani oleh konselor.
b) Setelah data terkumpul perlu
dilakukan penentuan urutan prioritas kegiatan yang akan dilakukan, dan sekaligus
menyusun konsep program bimbingan yang akan dilakukan dalam kurun waktu
tertentu.
Dalam kegiatan ini juga ditentukan
personalia yang akan melaksanakan program kegiatan itu serta sasaran dari
program tersebut.
c) Konsep
program bimbingan dibahas bersama kepala sekolah dan bila perlu mengundang
personel sekolah untuk memperoleh balikan guna penyempurnaan program tersebut.
d) Penyempurnaan konsep
program yang telah di bahas bersama kepala sekolah.
e) Pelaksanaan program
yang telah direncanakan
f) Evaluasi
Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui bilamana
ada bagian – bagian yang tidak terlaksana dan seterusnya dicari faktor
penyebabnya.
g) Revisi
Demikian
seterusnya, sehingga terwujudlah program bimbingan yang lebih sempurna.
Terciptanya program bimbingan yang baik telah merupakan sebagian dari
keberhasilan pelaksanaan bimbingan dan konseling itu sendiri.
1.1.3. Variasi Program Bimbingan menurut jenjang Pendidikan
Layanan bimbingan dan konseling disekolah seharusnya dilaksanakan secara
terus – menerus, mulai dari jenjang pendidikan terendah (taman kanank-kanak)
sampai jenjang pendidikan tertinggi (perguruan tinggi). Secara ideal kegiatan
tersebut seharusnya berkesinambungan. Meskipun demikian layanan bimbingan
tersebut mempunyai penekanan- penekanan yang berbeda-beda untuk setiap jenjang
pendidikan. Hal ini mengingat kebutuhan dan perkembangan anak untuk setiap
jenjang pendidikan juga berbeda. Winkel (1991) memberikan rambu-rambu
yang perlu diperhatikan dalam menyusun program bimbingan di tingakt pendidikan
tertentu, yaitu :
a. Menyusun
tujuan pendidikan tertentu,seperti yang telah dirumuskan. Tujuan pendidikan
disekolah dasar, jelas berbeda dengan tujuan
pendidikan disekolah menengah pertama,dan seterusnya.
b. Menyusun
tugas-tugas perkembangan dan kebutuhan-kebutuhan peserta didik pada tahap
perkembangan tertentu
c. Menyusun
pola dasar yang dipedomani dalam memberikan layanan
d.
Menentukan komponen-komponen bimbingan yang diprioritaskan
e. Menentukan
bentuk bimbingan yang sebaiknya diutamakan, seperti bimbingan kelompok atau
bimbingan individual atau bimbingan pribadi, bimbingan akademik atau bimbingan
karier, dan sebagainya.
f. Menentukan
tenaga-tenaga bimbingan yang dapat dimanfaatkan, misalnya konselor, guru atau
tenaga ahli lainnya.
Berdasarkan rambu – rambu tersebut,
program bimbingan untuk masing – masing jenjang pendidikan dapat dirumuskan
dengan tepat sesuai dengan karakteristiknya. Selain itu, program bimbingan hendaknya
disesuiakan dengan keadaan individu yang akan dilayani.
Pendidikan Taman Kanak-Kanak
Taman kanak – kanak sebenarnya belum
termasuk jenjang pendidikan formal dan lebih dikenal dengan pendidikan
prasekolah. Pendidikan formal terendah adalah sekolah dasar (SD). Meskipun
demikian menurut Winkel(1991) tenaga – tenaga pendidik di taman kanak – kanank juga
dituntut untuk memberikan layanan bimbingan. Hal ini, dikuatkan dalam Pedoman
Bimbingan dan Penyuluhan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1980
buku III C, dalam rangka pelaksanaan kurikulum taman kanak – kanak 1976.
Layanan bimbingan dan konseling di
taman kanak-kanak hendaknya ditekankan pada :
a) Bimbingan
yang berkaitan dengan kemandirian dan keharmonisan dalam menjalin hubungan sosial
dengan teman-teman sebayanya.
b) Bimbingan
pribadi,seperti pemupukan disiplin diri dan memahami perintah.
Di samping itu, layanan bimbingan
untuk anak taman kanak-kanak perlu
dilakukan untuk memenuhi kebutuhan psikologis, seperti pemberian kasih sayang
dan perasaan aman.
Guru di taman kanak-kanak perlu membantu anak didik
mengembangkan semua dimensi perkembangannya. Guru tidak hanya berperan sebagai
pendidik tetapi juga sebagai pembimbing yang dapat memfasilitasi tumbuh
kembangnya anak secara optimal. Pemahaman tentang tumbuh kembang anak dengan
berbagai permasalahan mungkin dialami anak menjadi aspek penting yang harus
dikuasai seorang guru taman kanak-kanak. Artinya, dalam melaksanakan fungsinya,
seorang guru perlu memiliki wawasan yang cukup tentang perkembangan anak. Tidak
semua anak mengalami perkembangan yang mulus dan lancar, ada anak yang
menunjukkan kecenderungan adanya masalah yang berkenaan dengan masalah
perkembangan fisik-motorik, intelektual, sosial, emosi maupun bahasa. Bimbingan
di taman kanak-kanak merupakan suatu kegiatan yang cukup unik dan juga cukup
menantang. Kondisi ini terjadi karena bimbingan bagi anak taman kanak-kanak sangat
jauh berbeda dengan bimbingan bagi siswa sekolah lainnya seperti siswa SD, SMP
atau SMA. Bimbingan di taman kanak-kanak memiliki karakteristik tersendiri. Hal
ini terjadi karena masih terbatasnya pola pikir dan pemahaman anak sehingga
pola bimbingan yang diberikan harus disesuaikan dengan pola pikir dan pemahaman
anak yang masih sangat sederhana. Kondisi lain yang menyebabkan bimbingan di
taman kanak-kanak bersifat unik karena sangat sulit memisahkan kegiatan
bimbingan dengan kegiatan pembelajaran..
Guru tidak hanya bertugas menciptakan proses
pembelajaran bagi anak tapi guru juga harus mampu berperan sebagai seorang
pembimbing. Petugas bimbingan untuk jenjang pendidikan taman kanak-kanak masih sangat
jarang, petugas bimbingan lebih banyak berkiprah pada jenjang pendidikan
sekolah menengah. Oleh karenanya, tugas bimbingan menjadi tugas lain seorang
guru di taman kanak-kanak. Dalam melaksanakan bimbingan, guru juga memiliki
keterbatasan lain. Dalam waktu 2 – 2,5 jam pembelajaran di taman kanak-kanak,
guru harus mampu melaksanakan kegiatan pengajaran juga bimbingan dan latihan. Keterbatasan
peran guru yang merangkap sebagai pengajar dan pembimbing disertai jumlah waktu
yang relatif singkat mengharuskan guru memiliki kemampuan tersendiri guna
merencanakan dan melaksanakan program dan layanan bimbingannya. Pelaksanaan
program dan layanan bimbingan untuk anak taman kanak-kanak sangatlah jauh
berbeda dengan pelaksanaan program dan layanan bimbingan pada jenjang sekolah
yang lebih tinggi. Selama ini banyak guru yang terjebak pada suatu konsep
bimbingan yang keliru. Artinya mereka kurang menyadari adanya kesalahan
konsepsi dan praktek bimbingan di taman kanak-kanak. Kesalahan konsep tersebut
sudah cukup meluas sehingga seolah-olah sudah dianggap wajar.
Program Bimbingan di Sekolah
Dasar
Hingga saat ini pelaksanaan
bimbingan disekolah dasar belum dapat terlaksana dengan baik sebagaimana di
sekolah menengah. Dalam kurun waktu yang relatif tidak lama di harapkan
pelaksanaan kegiatan bimbingan disekolah dasar dapat terwujud, mengingat makin
hari, makin bertambah jumlah anak – anak usia sekolah dasar yang memerlukan
konsultasi karena mengalami berbagai macam masalah.
Program kegiatan bimbingan dan
konseling untuk siswa-siswa sekolah dasar lebih menekankan pada usaha
pencapaian tugas-tugas perkembangan mereka antara lain mengatur kegiatan
belajarnya dengan bertanggung jawab, dapat berbuat dengan cara-cara yang dapat
diterima oleh orang dewasa serta teman-teman sebayanya, mengembangkan kesadaran
moral berdasarkan nilai-nilai kehidupan dengan membentuk kata hati (Winkel,
1991). Disamping itu program bimbingan hendaknya mengacu kepada tujuan umum di
SD yaitu memiliki sifat-sifat dasar sebagai warga negara yang baik, menikmati
kesehatan jasmani dan rohani, memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap
dasar yang diperlukan untuk melanjutkan pelajaran, bekerja di masyarakat, dan
mengembangkan diri sesuai dengan asas pendidikan seumur hidup. Dengan demikian
arah penyusunan program bimbingan di sekolah dasar tidak terlepas dari usaha
pencapaian tugas – tugas perkembangan anak – anak usia sekolah dasar.
Berkenaan dengan penyusunan program
bimbingan disekolah dasar, Gibson dan Mitchell (1981) mengemukakan beberapa faktor
yang harus dipertimbangkan, seperti :
a) Kegiatan
bimbingan di SD hendaknya lebih menekankan pada aktivitas-aktivitas belajar
b) Di
SD masih menggunakan sistem guru kelas sehingga seandainya ada anak yang tidak
disenangi guru, maka akan lebih fatal akibatnya
c) Adanya
kecenderungan seorang anak bergantung kepada
teman sebayanya
d) Minat
orang tua dominan mempengaruhi nilai kehidupan anak
e) Masalah-masalah
yang timbul di tingkat SD, tidak terlalu kompleks.
Program Bimbingan di Sekolah
Menengah Pertama
Suasana belajar di SMP berbeda
dengan kegiatan di sekolah dasar, terutama dalam sistem belajarnya. Belajar
disekolah dasar (SD) umumnya diasuh oleh guru kelas, sedangkan di SMP diasuh
oleh guru bidang studi. Oleh karena itu, para siswa sekolah menengah pertama
dituntut untuk menyesuaikan diri dengan guru yang bervariasi. Siswa dituntut
untuk lebih mandiri khusunya dalam belajar. Mereka tidak lagi dapat menuntut
bantuan dari orang tua dalam menyelesaikan tugas- tugas sekolah seperti halnya
pada saat mereka duduk di SD. Kondisi – kondisi seperti itulah yang menuntut
agar program bimbingan dan konseling di SMP berbeda dengan di SD. Program
bimbingan di SMP seharusnya lebih bervariasi dan lebih kompleks.
Selain itu, program bimbingan dan
konseling untuk sisiwa SMP hendaknya berorientasi kepada pencapaian tugas-tugas
perkembangannya. Dalam hal ini, Winkel(1991) mengemukakan tugas – tugas
perkembangan untuk siswa/anak pada tingkat SMP antara lain; menerima peranannya
sebagai pria atau wanita, memperjuangkan taraf kebebasan yang wajar dari orang
tua dan orang – orang dewasa lainnya, menambah bekal pengetahuan dan pemahaman
untuk pendidikan lanjutan, serta mengembangkan kata hati sesuai dengan nilai-
nilai kehidupan.
Hambatan dari pencapaian tugas –
tugas perkembangan tersebut antara lain; kurang kepercayaan diri, kurangnya
kepekaan perasaan, sering timbulnya kegelisahan, dan kurangnya semangat kerja
keras. Dengan adanya kenyataan yang dialami oleh anak- anak tersebut, program
bimbingan hendaknya diarahkan atau ditekankan pada penanggulangan masalah itu
sehingga mereka dapat mencapai tugas - tugas perkembangannya dengan baik.
Secara garis besar program bimbingan dan
konseling di SMP hendaknya berorientasi kepada :
a)
Bimbingan
belajar, karena cara belajar di SMP berbeda dengan di SD
b) Bimbingan
tentang hubungan muda – mudi, karena pada usia ini mereka mulai mengenal hubungan
cinta kasih
c) Pada
usia ini mereka mulai membentuk kelompok sebaya (peer group), maka
program bimbingan hendaknya juga menangani masalah – masalah yang berkaitan
dengan hubungan sosial
d) Bimbingan
yang berorientasi pada tugas-tugas perkembangan anak usia 12-15 tahun
e) Bimbingan karier baik yang
menyangkut pemahaman tentang dunia pendidikan atau pekerjaan.
Program Bimbingan di Sekolah
Menengah Atas
Program bimbingan dan konseling di
SMA hendaknya lebih lengkap dan luas cakupannya dibandingkan dengan program
layanan di jenjang pendidikan dibawahnya. Pada jenjang pendidikan di SMA para
siswa berada dalam masa remaja. Usia mereka berada pada masa transisi.
Kehidupan kekanak-kanaknya sudah ditinggalkan, namun kehidupan sebagai orang
dewasa belum mapan. Dengan demikian, mereka berada di daerah marginal yaitu
daerah kabur. Akibatnya mereka kehilangan identitas, dan berusaha mencari
identitas kembali dengan berbagai cara dan gayanya. Kadang-kadang pola
berpikir, berperasaan, dan perilakunya menyimpang dari pola kehidupan anak –
anak ataupun orang dewasa.
Disamping itu, mereka dituntut untuk
mencapai tugas-tugas perkembangan yang dituntut dari mereka. Cole(1959)
mengemukakan beberapa tugas-tugas perkembangan pada usia remaja (siswa SMA)
yaitu bertujuan untuk mencapai:1) kematangan emosional, 2) kemantapan minat
terhadap lawan jenis, 3) kematangan sosial, 4) kebebasan diri dari kontrol
orang tua, 5) kematangan intelektual, 6) kematangan dalam pemilihan pekerjaan,
7) efisiensi penggunaan waktu luang, 8) kematangan dalam memahami falsafah
hidup, dan 9) kematngan dalam kemampuan mengidentifikasi diri. Dengan demikian,
program bimbingan dan konseling di SMA hendaknya dapat mengatasi
permasalahan-permasalahan yang dihadapi siswa, sehingga mereka dapat mencapai
tugas-tugas perkembangan dengan baik. Oleh sebab itu, program bimbingan di SMA
berorientasi pada :
a) Hubungan muda-mudi /
hubungan sosial
b) Pemberian informasi
pendidikan dan jabatan
c) Bimbingan cara belajar
Program Bimbingan di Perguruan
Tinggi
Tugas – tugas perkembangan pada usia
dewasa menuntut seseorang untuk lebih mandiri, dan berdisiplin diri. Mereka dituntut
untuk mampu mengembangkan sikap membina ilmu demi kemajuan bangsanya. Mereka
hendaknya mampu mengembangkan kepribadiannya sesuai dengan potensi-potensi yang
dimiliki dan mampu merencanakan masa depan sesuai dengan keadaan dirinya.
Oleh sebab itu, arah program
bimbingan di perguruan tinggi sedikit berbeda dengan program yang ada dilembaga
pendidikan yang lebih rendah (sekolah). Hal ini disebabkan karena adanya hal-hal
yang lebih spesifik dalam perkembangan diri mahasiswa. Pola berpikirnya sudah
lebih matang dan mereka berusaha mencurahkan segala tenaga dan pikirannya untuk
memecahkan berbagai masalah (ekonomi), pekerjaan tuntutan akademik, dan masalah
pernikahan.
Disamping itu, mahasiswa juga
dituntut untuk menyesuaikan diri dengan pola kehidupan kampus dan di luar
kampus. Pola kehidupan kampus lebih menekankan kepada aspek akademik, seperti
cara belajar mandiri, cara mengatur waktu, menimbulkan motivasi belajar, memilih
program studi dan menjalin hubungan sosial. Masalah – masalah diluar kampus
yang mungkin timbul adalah masalah biaya pendidikan, fasilitas belajar, tempat
tinggal, makanan yang bergizi, dan sebagainya.
Efektivitas dan efesiensi program
bimbingan dapat terwujud bila diarahkan kepada masalah-masalah sebagaimana
digambarkan diatas. Oleh sebab itu, program bimbingan di perguruan tinggi
hendaknya berorientasi kepada :
a) Bimbingan belajar di
perguruan tinggi atau bimbingan yang bersifat akademik
b) Hubungan sosial dan
hubungan muda-mudi.
1.1.4. Tenaga
Bimbingan di Sekolah Beserta Fungsi dan Peranannya
Layanan bimbingan dan konseling merupakan bagian yang integral dari keseluruhan
proses pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, pelaksanaan bimbingan dan
konseling di sekolah menjadi tanggung jawab bersama antara personel sekolah
(Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya 1985). Dengan demikian, diperlukan adanya
keterpaduan dan kebersamaan di antara personel sekolah dalam pelaksanaan
bimbingan.
Kepala Sekolah
Dalam pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah, kepala sekolah
mempunyai tugas sebagai berikut :
a) Membuat
rencana atau program sekolah secara menyeluruh
b) Mendelegasikan
tanggung jawab tertentu dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling
c) Mengawasi
pelaksanaan program
d) Melengkapi
dan menyediakan kebutuhan fasilitas bimbingan dan konseling
e) Mempertanggungjawabkan
program tersebut baik di dalam maupun di luar sekolah
f) Mengadakan
hubungan dengan lembaga-lembaga dalam rangka kerjasama pelaksanaan bimbingan.
Konselor
Peran dan tugas konselor di sekolah dalam kegiatan bimbingan dan konseling
adalah :
a) Menyusun
program bimbingan dan konseling bersama kepala sekolah
b) Bertanggung
jawab terhadap jalannya program
c) Memberikan
laporan kegiatan kepada kepala sekolah
d) Menerima
dan mengklasifikasikan informasi pendidikan
e) Menganalisis
dan menafsirkan data siswa
f) Menyelenggarakan
pertemuan staf
g) Melaksanakan
bimbingan kelompok dan konseling individual
h) Menilai
proses dan hasil pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling
i) Melakukan
studi kelayakan
j) Berkolaborasi
dengan guru mata pelaajran
k) Mengadministrasikan
kegiatan program pelayanan bimbingan dan konseling.
Wali Kelas
Peran dan tanggung jawab wali kelas adalah :
a) Mengumpulkan
data tentang siswa
b) Mengadakan
kegiatan orientasi
c) Mengobservasi
kegiatan siswa di rumah
d) Meneliti
kemajuan dan perkembangan siswa
e) Bekerja
sama dengan konselor dalam mengadakan pemeriksaan
f) Berpartisipasi
dalam kegiatan khusus penanganan maslah peserta didik.
Guru/Pengajar
Tugas dan tanggung jawab guru dalam kegiatan ini adalah :
a) Turut
serta aktif dalam membantu melaksanakan kegiatan program BK
b) Memberikan
informasi kepada siswa
c) Meneliti
kesulitan dan kemajuan siswa
d) Memberikan
layanan intruksional
e) Mengadakan
hubungan dengan orang tua siswa
f) Mengidentifikasi
bakat siswa
Petugas Administrasi
Tugas dan tanggung jawab petugas administrasi dalam kegiatan
bimbingan dan konseling adalah :
a) Mengisi
kartu pribadi siswa
b) Menyimpan
catatan-catatan dan data lainnya
c) Menyelesaikan
laporan dan pengumpuilan data tentang siswa
d) Menyiapkan
alat-alat atau formulir-formulir pengumpulan data siswa
1.1.5. Mekanisme
Implementasi Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah
Untuk melaksanakan program bimbingan
dan konseling di sekolah, konselor beserta personel sekolah perlu memperhatikan
komponen kegiatan sebagai berikut :
a. Komponen Pemrosesan
Data
Kegiatan layanan bimbingan dan
konseling di sekolah meliputi beberapa aspek, yaitu : (1) pengumpulan data, (2)
pengklasifikasian, (3) penyediaan data yang diperlukan, (4) penyimpanan, (5)
penafsiran. Data yang perlu diproses adalah tentang keadaan siswa di sekolah
yang meliputi : (1) kemampuan skolastik, (2) cita-cita, (3) hubungan sosial,
(4) minat terhadap mata pelajaran, (5) kebiasaan belajar, (6) kesehatan fisik,
(7) pekerjaan orang tua, (8) keadaan keluarga.
b. Komponen Kegiatan
Pemberian Informasi
Komponen ini terdiri : (1) pemberian
orientasi kehidupan sekolah kepada siswa. (2) pemberian informasi tentang
program studi kepada siswa yang dipandang memerlukannya, (3) pemberian
informasi jabatan kepada siswa, (4) pemberian informasi pendidikan lanjutan.
c. Komponen
Kegiatan Konseling
Konseling dilakukan terhadap siswa
yang mengalami masalah yang sifatnya lebih pribadi. Jika ada masalah yang tidak
dapat diatasi oleh petugas yang bersangkutan, perlu di alihtangankan kepada
pihak yang lebih ahli.
d. Komponen Pelaksana
Pelaksana jenis kegiatan tersebut adalah
konselor sekolah, konselor bersama guru bidang studi dan juga kepala sekolah
sesuai dengan fungsi peranannya masing-masing.
e. Komponen
Metode/Alat
Alat yang dipakai untuk melaksanakan
kegiatan yang telah direncanakan itu adalah: angket kartu pribadi, konseling
dan sebagainya.
f. Komponen
Waktu Kegiatan
Jadwal kegiatan layanan dapat
dilakukan pada awal tahun pelajaran atau waktu lain tergantung dari jenis
atau macam kegiatan yang akan dilakukan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
g. Komponen Sumber Data
Data yang diperlukan dapat diperoleh
langsung dari siswa yang bersangkutan. Hal ini tergantung atau jenis data yang
diperlukan. Semua kegiatan ini dikoordinasikan oleh konselor dan
dipertanggungjawabkan kepada kepala sekolah.
1.2. Pengertian Diagnosis Kesulitan Belajar
Dalam proses pembelajaran, tugas guru tidak hanya
sekedar menyampaikan atau mentransfer ilmu atau bahan pelajaran kepada peserta
didik. Guru sebagai pendidik dituntut untuk bertanggung jawab atas perkembangan
peserta didik. Kegiatan memahami kesulitan belajar peserta didik ini dikenal
dengan istilah diagnosis kesulitan belajar. Dalam pengertian diagnosis
kesulitan belajar terdapat dua istilah yang perlu dipahami terlebih dahulu
yaitu istilah diagnosis dan kesulitan belajar. Banyak ahli mengemukakan
pendapatnya mengenai pengertian diagnosis antara lain, menurut Harriman dalam
bukunya Handbook of Psychological Term, diagnosis adalah suatu analisis
terhadap kelainan atau salah penyesuaian dari pola gejala-gejalanya. Jadi
diagnosis merupakan proses pemeriksaan terhadap hal-hal yang dipandang tidak
beres atau bermasalah.
Sedangkan menurut Webster, diagnosis diartikan sebagai
proses menentukan hak menentukan permasalahan kikat kelainan atau
ketidakmampuan dengan ujian, dan melalui ujian tersebut dilakukan suatu
penelitian yang hati-hati terhadap fakta-fakta yang dijumpai , yang selanjutnya
untuk menentukan permasalan yang dihadapi. Maka dapat disimpulkan bahwa diagnosis
adalah penentuan jenis masalah atau kelainan dengan meneliti latar belakang
penyebabnya atau dengan cara menganalisis gejala-gejala yang tampak. Setelah
kita pahami pengertian diagnosis, selanjutnya kita bahas mengenai kesulitan
belajar. Kesulitan belajar adalah suatu gejala yang nampak pada peserta
didik yang ditandai dengan adanya prestasi belajar yang rendah atau dibawah
norma yang telah ditetapkan. bahwa kesulitan belajar itu menunjukkan adanya
suatu jarak antara prestasi akademik yang diharapkan dengan prestasi akademik
yang dicapai oleh peserta didik (prestasi actual). Blassic dan Jones juga
mengatakan bahwa peserta didik yang memiliki intelegensi normal, tetapi
menunjukkan satu atau beberapa kekurangan yang penting dalam proses belajar, baik
dalam persepsi, ingatan, perhatian ataupun dalam fungsi motoriknya.
Jadi kesulitan belajar yang dialami peserta didik
tidak selalu disebabkan oleh intelegensi atau angka kecerdasannya yang rendah.
Kesulitan atau hambatan belajar yang dialami oleh peserta didik dapat berasal
dari faktor fisiologik, psikologik, instrument, dan lingkungan belajar. Maka
dapat disimpulkan bahwa diagnosis kesulitan belajar merupakan proses
menentukan masalah atau ketidakmampuan peserta didik dalam belajar dengan
meneliti latar belakang penyebabnya dan atau dengan cara menganalisis
gejala-gejala kesulitan atau hambatan belajar yang nampak.
Berikut ini akan dikemukakan permasalahan belajar
peserta didik menurut Warkitri dkk (1990) sebagai berikut :
1. Kekacauan Belajar (Learning Discorer)
yaitu suatu keadaan dimana proses belajar anak terganggu karena timbulnya
respons yang bertentangan.
2. Ketidakmampuan Belajar (Learning
Disability) yaitu suatu gejala anak tidak mampu belajar atau selalu
menghindari kegiatan belajar dengan berbagai sebab sehingga hasil belajar yang
dicapai berada dibawah potensi intelektualnya.
3. Learning Disfunction yaitu
kesulitan belajar yang mengacu pada gejala proses belajar yang tidak dapat
berfungsi dengan baik, walaupun anak tidak menunjukkan adanya subnormal mental,
gangguan alat indera ataupun gangguan psikologis yang lain.
4. Under Achiever, adalah suatu
kesulitan belajar yang terjadi pada anak yang memiliki potensi intelektual
tergolong di atas normal tetapi prestasi belajar yang dicapai tergolong rendah.
5. Lambat Belajar (Slow Learner) adalah
kesulitan belajar yang disebabkan anak sangat lambat dalam proses belajarnya,
sehingga setiap melakukan kegiatan belajar membutuhkan waktu yang lebih lama
dibandingkan dengan anak lain yang memiliki tingkat potensi intelektual yang
sama.
1.2.1.
Gejala dan
Ciri Kesulitan Belajar
Gejala
kesulitan belajar
Kesulitan atau
masalah belajar dapat dikenal berdasarkan gejala yang dimanifestasikan dalam
berbagai bentuk perilaku, baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
Menurut Warkitri dkk, 1990 : 8.5 – 8.6 (Ebekunt;2009,http://ebekunt.wordpress.com), individu
yang mengalami kesulitan belajar menunjukkan gejala sebagai berikut:
a. Hasil belajar yang dicapai rendah
dibawah rata-rata kelompoknya.
b. Hasil
belajar yang dicapai sekarang lebih rendah dibanding sebelumnya.
c. Hasil
belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan.
d. Lambat
dalam melakukan tugas-tugas belajar.
e. Menunjukkan
sikap yang kurang wajar, misalnya masa bodoh dengan proses belajar dan
pembelajaran, mendapat nilai kurang tidak menyesal, dst.
f. Menunjukkan
perilaku yang menyimpang dari norma, misalnya membolos, pulang sebelum
waktunya, dst.
g. Menunjukkan
gejala emosional yang kurang wajar, misalnya mudah tersinggung, suka menyendiri,
bertindak agresif, dan sebagainya.
Sedangkan Abu Daud (http://abudaud2010.blogspot.com) menjelaskan bahwa Kesulitan
belajar pada dasarnya suatu gejala yang nampak dalam berbagai jenis manifestasi
tingkah laku. Gejala kesulitan belajar akan dimanifestasikan baik secara
langsung maupun tidak langsung, juga dalam berbagai bentuk tingkah laku.
Misalnya saja, sesuai dengan pengertian kesulitan belajar, tingkah laku yang
dimanifestasikannya ditandai dengan adanya hambatan-hambatan tertentu. Gejala
ini akan tampak dalam aspek motorik, kognitif, konatif (kehendak) dan afektif
baik dalam proses maupun hasil belajar yang dicapainya. Contoh sulit dan lambat
dalam berkomunikasi.Dari kutipan di atas, dapat dibuat sebuah kesimpulan
bahwa gejala-gejala yang menunjukkan individu mengalami kesulitan belajar,
yaitu:
1. Hasil
belajar yang dicapai berada dibawah rata-rata kelas, lebih rendah dari hasil
belajar sebelumnya, serta tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan.
2. Individu
lambat dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah yang diberikan oleh guru.
3. Menunjukkan
sikap yang masa bodoh, sering bolos ataupun tidak masuk sekolah, serta mudah
tersinggung dan menyendiri.
Ciri
kesulitan belajar
Adapun ciri-ciri kesulitan
belajar yang dialami oleh siswa seperti berikut ini (Mutiara Endah; 2010, http://mutiaraendah.wordpress.com):
A
.Gangguan persepsi visual
1) Melihat huruf/angka
dengan posisi yang berbeda dari yang tertulis, sehingga seringkali terbalik
dalam menuliskan kembali
2) Sering
tertinggal huruf dalam menulis
3) Menuliskan
kata dengan urutan yang salah misalnya ibu jadi ubi
4) Sulit
memahami kanan dan kiri
5) Bingung
membedakan antara obyek dengan latar belakang
6) Sulit
mengkoordinasi antara mata (penglihatan) dengan tindakan (tangan, kaki)
B
. Gangguan persepsi auditori
1) Sulit
membedakan bunyi: menangkap secara berbeda apa yang didengarnya
2) Sulit
memahami perintah terutama perintah yang diberikan dalam jumlah banyak dan
kalimat yang panjang
3) Bingung
dan kacau dengan bunyi yang datang dari berbagai penjuru sehingga sulit
mengikuti diskusi karena saat mencoba mendengar sebuah informasi sudah
mendapatkan gangguan dari suara lain di sekitarnya
C.
Gangguan bahasa
1) Sulit
menangkap dan memahami kalimat yang dikatakan kepadanya
2) Sulit
mengkoordinasikan/mengatakan apa yang sedang dipikirkan
D. Gangguan
persepsi –motorik
1) Kesulitan motorik
halus (sulit mewarnai, menggunting, melipat, menempel, menulis rapi, memotong,
dll )
2) Memiliki masalah dalam
koordinasi dan disorientasi yang mengakibatkan canggung dan kaku dalam eraknya
E.
Hiperaktivitas
1) Sukar
mengontrol aktivitas motorik dan selalu bergerak/menggerakkan sesuatu (tidak
bisa diam)
2) Berpindah-pindah
dari satu tugas ke tugas berikutnya tanpa menyelesaikan terlebih dahulu
3) Impulsif
F.
Kacau (distractibility)
1) Tidak
dapat membedakan stimulus yang penting dan tidak penting
2) Tidak
teratur, karena tidak memiliki urutan-urutan dalam proses berpikir
3) Perhatiannya sering
berbeda dengan apa yang sedang dikerjakan (melamun/berhayal saat belajar di
kelas)
Dari penjelasan di atas, dapat
dipahami bahwa ciri-ciri kesulitan belajar yang dialami oleh siswa, yaitu:
1. Dilihat
dari pesepsi visualnya, ciri-ciri kesulitan belajar yang dialami oleh siswa
seperti pada saat menulis, siswa sering menulis dengan salah satu huruf yang
tertinggal atau tidak lengkap.
2. Dilihat
dari persepsi auditori, ciri-cirinya seperti siswa sulit memahami perintah yang
disampaikan oleh guru.
3. Dilihat
dari segi bahasa, cirinya seperti siswa sulit memahami kalimat yang disampaikn
kepadanya serta sulit mengungkapkan apa yang sedang dipikirkannya.
1.2.2.
Faktor – Faktor yang Mempengaruhi
Kesulitan Belajar
Latar belakang terjadinya kesulitan belajar atau
ketidakberesan dalam belajar banyak sekali macam ragamnya. Tetapi bila penyebab
kesulitan belajar itu dikaitkan dengan faktor-faktor yang berperanan dalam
belajar, maka penyebab kesulitan belajar itu dapat dikelompokkan menjadi dua
kelompok besar yaitu faktor yang berasal dari dalam diri pelajar (faktor
internal) yang meliputi: kemampuan intelektual,afeksi seperti perasaan dan
percaya diri, motivasi, kematangan untuk belajar, usia, jenis kelamin,
kebiasaan belajar, kemampuan mengingat, dan kemampuan pengindraan seperti
melihat, mendengarkan, dan merasakan(Fontana, 1981). Sedang faktor yang berasal
dari luar pelajar (faktor eksternal) meliputi faktor-faktor yang berkaitan
dengan kondisi proses pembelajaran yang meliputi: guru, kualitas pembelajaran,
instrumen atau fasilitas pembelajaran baik yang berupa hardware maupun software
serta lingkungan, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam.
Menyimak
faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar tersebut di atas, maka
peserta didik mengalami kesulitan belajar atau ketidakberesan dalam belajar,
ditunjukkan oleh hasil belajar yang rendah. Hal ini disebabkan oleh berbagai
hal seperti yang dikemukakan oleh Noehi Nasution. (1992: 215)
1.
Rendahnya kemampuan intelektual anak 7.
Kebiasaan belajar yang kurang baik
2.
Gangguan perasaan atau emosi 8.
Kemampuan mengingat yang rendah
3.
Kurangnya motivasi untuk belajar 9.
Terganggunya alat-alat indera
4. Kurang matangnya anak untuk belajar 10. Proses belajar mengajar yang
tidak sesuai
5. Usia yang terlampau muda 11. Tidak adanya
dukungan dari lingkungan belajar.
Untuk lebih lengkapnya, pandangan ahli yang lain yang berkaitan dengan
permasalahan belajar yang dialami peserta didik, baik faktor internal maupun
eksternal. Dimyati dan Mudjiono(1994: 228-235) mengemukakan faktor-faktor
internal yang mempengaruhi proses belajar sebagai berikut:
1. Sikap terhadap belajar 7.
Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil kerja
2. Motivasi belajar 8. Rasa percaya diri siswa
3. Konsentrasi belajar 9. Inteligensi dan keberhasilan
belajar
4. Mengolah bahan ajar 10.
Kebiasaan belajar
5. Menyimpan perolehan hasil
belajar 11. Cita-cita siswa
Sedang faktor eksternal yang berpengaruh terhadap proses
belajar meliputi:
1. Guru sebagai Pembina
siswa belajar 4. Lingkungan
sosial siswa disekolah
2. Sarana dan prasarana
pembelajaran 5. Kurikulum
sekolah
3. Kebijakan penilaian
2.1.3. Prosedur Pelaksanaan Diagnosis Kesulitan
Belajar
Guru dalam proses pembelajaran menghadapi peserta
didik yang beranekaragam karakteristiknya. Perbedaan peserta didik berkaitan
dengan kapasitas intelektual, keterampilan, motivasi, sikap, kemampuan, minat,
latar belakang kehidupan keluarganya dan lain-lainnya. Perbedaan ini cenderung
berakibat adanya perbedaan dalam belajar bagi setiap peserta didik baik dalam
kecepatan belajarnya maupun keberhasilan belajar yang dicapainya.
Langkah-langkah melaksanakan diagnosis kesulitan
belajar yaitu :
1. Mengidentifikasi peserta didik yang diperkirakan
mengalami kesulitan belajar.
Dengan cara mengenali latar belakang baik psikologis
maupun non psikologis. Kasus kesulitan belajar dapat diketahui melalui :
a. Analisis Perilaku
Peserta didik yang mengalami kesulitan belajar dapat
diketahui melalui observasi atau laporan proses pembelajaran. Dalam proses
pembelajaran dapat diketahui :
1) Cepat lambatnya
menyelesaikan tugas
2) Kehadiran dan ketekunan dalam proses pembelajaran
3) Peran serta dalam mengerjakan tugas kelompok
4) Kemampuan kerjasama dan penyesuaian sosial
b. Analisis Prestasi Belajar
Dapat dilakukan dengan cara menghimpun dan
menganalisis hasil belajar serta menafsirkannya. Dalam menafsirkan hasil
belajar peserta didik harus menggunakan norma yaitu Penilaian Acuan Norma (PAN)
dan Penilaian Acuan Patokan (PAP)
2. Melokalisasi Letak Kesulitan Belajar
Dapat
kita lakukan dengan cara mengetahui dalam mata pelajaran atau bidang studi apa
kesulitan itu terjadi, kemudian aspek atau bagian mana kesulitan belajar itu
dirasakan oleh peserta didik. Untuk menemukan bidang studi apa peserta didik
mengalami kesulitan belajar dapat dilakukan dengan cara membandingkan skor
prestasi yang diperoleh peserta didik dengan nilai rata-rata dari masing-masing
bidang studi. Sedangkan untuk mengetahui aspek atau bagian mana kesulitan
belajar itu dirasakan oleh peserta didik dapat dilakukan dengan memeriksa hasil
pekerjaan tes.
3.
Menentukan Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
Dapat
dilakukan dengan cara meneliti faktor-faktor yang ada pada diri peserta didik
(internal) dan faktor-faktor yang berada di luar peserta didik (eksternal) yang
menghambat proses belajar dan atau pembelajaran.
4.
Memperkirakan Alternatif Bantuan
Langkah
yang akan ditempuh dengan cara menjawab beberapa pertanyaan berikut ini:
a. Apakah peserta didik masih mungkin ditolong untuk
mengatasi kesulitannya?
b. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengatasi
kesulitan peserta didik?
c. Kapan dan dimana pertolongan dapat diberikan kepada
peserta didik?
d.
Siapa yang dapat memberikan pertolongan?
1.3.
Peranan
Guru Dalam Pelaksanaan Bimbingan di Sekolah
Peranan guru dalam bimbingan di
sekolah dapat di bedakan menjadi dua, yaitu : (a) tugas dalam layanan bimbingan
dalam kelas dan (b) di luar kelas.
a. Tugas Guru dalam Layanan Bimbingan di kelas
Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya
(1985) mengemukakan beberapa hal yang harus diperhatikan guru dalam proses
belajar-mengajar sesuai dengan fungsinya dan pembimbing, yaitu :
a) Perlakuan
terhdap siswa didasarkan atas keyakinan bahwa sebagai individu, siswa memiliki
potensi untuk dikembangkan dan maju serta mampu mengarahkan dirinya sendiri
untuk madiri.
b) Sikap
yang positif dan wajar terhadap siswa
c) Pemahaman
siswa secara empatik
d) Penerimaan
siswa apa adanya
e) Penghargaan
terhadap martabat siswa sebagai individu
Abu Ahmadi (1977) mengemukakan peran
guru sebagai pembimbing dalam melaksanakan proses belajar-mengajar, sebagai
berikut :
a) Menyediakan
kondisi dan kesempatan bagi setiap siswa untuk memperoleh hasil yang lebih
baik.
b) Membantu
memilih jabatan yang cocok, sesuai dengan bakat, kemampuan dan minatnya.
c) Mengusahakan
siswa-siswa agar dapat memahami dirinya, kecakapan-kecakapan sikap, minat, dan
pembawaannya.
d) Mengembangkan
sikap-sikap dasar bagi tingkah laku sosial yang baik.
Di samping tugas-tugas tersebut, guru juga dapat melakukan tugas bimbingan
dalam proses pembelajaran seperti berikut :
a) Melaksanakan kegiatan
diagnostic kesulitan belajar.
b) Memberikan bantuan
sesuai dengan kemampuan dan kewenangannya kepada murid dalam memecahkan masalah
pribadi.
b. Tugas Guru dalam Operasional Bimbingan di Luar
Kelas
Tugas-tugas guru dalam
layanan bimbingan di luar kelas antara lain :
a) Memberikan
pengajaran perbaikan (remedial teaching)
b) Memberikan
pengayaan dan pengembangan bakat siswa
c) Melakukan
kunjungan rumah (home visit)
d) Menyelenggarakan
kelompok belajar
1.3.1. Kerjasama Guru dengan Konselor dalam
Layanan Bimbingan
Dalam kegiatan-kegiatan belajar-mengajar sangat diperlukan
adanya kerja sama antara guru dengan konselor demi tercapainya tujuan yang
diharapkan. Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) mengutip pendapat Miller
yang mengatakan bahwa :
a) Proses
belajar menjadi sangat efektif, apabila bahan yang dipelajari dikaitkan
langsung dengan tujuan-tujuan pribadi siswa.
b) Guru
yang memahami siswa dan masalah-masalah yang dihadapinya, lebih peka terhadap
hal-hal yang dapat memperlancar dan mengganggu kelancaran kelas.
c) Guru
dapat memperhatikan perkembangan masalah atau kesulitan siswa secara lebih
nyata.
Guru juga mempunyai beberapa keterbatasan. Menurut Koestoer Partowisastro
(1982) keterbatasan-keterbatasan guru tersebut antara lain :
a) Guru
tidak mungkin lagi menangani masalah-masalah siswa yang bermacam-macam, karena
guru tidak terlatih untuk melaksanakan tugas itu.
b) Guru
sendiri sudah berat tugas mengajarnya, sehingga tidak mungkin lagi di tambah
tugas yang banyak untuk memecahkan masalah-masalah siswa.
1.3.2. Cara Mengatasi Kesulitan Belajar
Peranan
guru sangat penting dalam pelaksanaan proses pembelajaran, selain sebagai nara
sumber guru juga merupakan pembimbing dan pengayom bagi para murid yang ada
dalam suatu kelompok belajar. Hal tersebut sesuai dengan ungkapan T. Rustandy
(1996 : 71) yang mengatakan bahwa : Guru memegang peranan sentral dalam proses
pembelajaran, memiliki karakter dan kepribadian masing-masing yang tercermin
dalam tingkah laku pada waktu pelaksanaan proses pembelajaran. Pola tingkah
laku guru dalam proses pembelajaran biasanya ditiru oleh siswa dalam perjalanan
hidup sehari-hari, baik di lingkungan keluarga ataupun masyarakat, karena
setiap siswa mempunyai keragaman dalam hal kecakapan maupun kepribadian.
Keragaman kecakapan dan kepribadian ini mempengaruhi terhadap situasi yang dihadapi
dalam proses pembelajaran. Tetapi menurut Brenner (1990) sebenarnya pendidikan
anak prasekolah terefleksi dalam alat-alat perlengkapan dan permainan yang
tersedia, cara perlakuan guru terhadap anak, adegan dan desain kelas, serta
bangunan fisik lainnya yang disediakan untuk anak. (M. Solehuddin, 1997 : 55). Beberapa
cara mengatasi kesulitan dalam belajar dapat dilakukan dengan cara belajar yang
efektif dan efisien. Cara demikian merupakan problematika yang perlu
mendapatkan perhatian cukup serius. Orang tua dan guru kelas kerap kali
memberikan saran-saran kepada siswa agar rajin belajar karena rajin adalah
pangkal cerdas. Orang cerdas akan mampu mengembangkan dirinya sesuai dengan
perkembangan zaman yang serba kompleks.Berikut ini beberapa alternatif dalam
kesulitan belajar :
1. Observasi Kelas
1. Observasi Kelas
Pada tahap
ini observasi kelas dapat membantu mengurangi kesulitan dalam tingkat
pelajaran, misalnya memeriksa keadaan secara fisik bagaimana kondisi kelas
dalam kegiatan belajar, cukup nyaman, segar, sehat dan hidup atau tidak. Kalau
suasana kelas sangat nyaman, tenang dan sehat, maka itu semua dapat memotivasi
siswa untuk belajar lebih semangat lagi.
2. Pemeriksaan Alat Indera
2. Pemeriksaan Alat Indera
Dalam hal ini dapat difokuskan pada tingkat kesehatan siswa khusus
mengenai alat indera. Diupayakan minimal dalam sebulan sekali pihak sekolah
melakukan tes atau pemeriksaan kesehatan di Puskesmas / Dokter, karena tingkat
kesehatan yang baik dapat menunjang pelajaran yang baik pula. Maka dari itu,
betapa pentingnya alat indera tersebut dapat menstimulasikan bahan pelajaran
langsung ke diri individu.
3. Teknik Main Peran
Disini, seorang guru bisa berkunjung ke rumah seorang murid. Di
sana seorang guru dapat leluasa melihat, memperhatikan murid berikut semua yang
ada di sekitarnya. Di sini guru dapat langsung melakukan wawancara dengan orang
tuanya mengenai kepribadian anak, keluarga, ekonomi, pekerjaan dan lain-lain.
Selain itu juga, guru bisa melihat keadaan rumah, kondisi dan situasinya dengan
masyarakat secara langsung.
4. Tes Diagnostik Kecakapan/Tes IQ/Psikotes
Dalam hal ini seorang guru dapat mengetahui sejauh mana IQ
seseorang dapat dilihat dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan praktis dan
sederhana. Dengan latihan psikotes dapat diambil beberapa nilai kepribadian
siswa secara praktis dari segi dasar, logika dan privasi seseorang.
5. Menyusun Program Perbaikan
Penyusunan program hendaklah dimulai dari segi pengajar
dulu. Seorang pengajar harus menjadi seorang yang konsevator, transmitor,
transformator, dan organisator. Selanjutnya lengkapilah beberapa alat peraga
atau alat yang lainnya yang menunjang pengajaran lebih baik, karena dengan
kelengkapan-kelengkapan yang lebih kompleks, motivasi belajarpun akan dengan
mudah didapat oleh para siswa. Hendaklah semua itu disadari sepenuhnya oleh
para pengajar sehingga tidak ada lagi kendala dan hambatan yang dapat
mempengaruhi kegiatan belajar. Selain itu tingkat kedisiplinan yang diterapkan
di suatu sekolah dapat menunjang kebaikan dalam proses belajar. Disiplin dalam
belajar akan mampu memotivasi kegiatan belajar siswa. Alternatif lain yang
dapat diambil guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswanya. Akan tetapi
sebelum pilihan tertentu diambil, guru sangat diharapkan untuk terlebih dahulu
melakukan beberapa langkah berikut ini :
a. Menganalisis hasil diagnosis, yakni menelaah
bagian-bagian masalah dan hubungan antar bagian tersebut untuk memperoleh
pengertian yang benar mengenai kesulitan belajar yang dihadapi siswa.
b. Mengidentifikasi dan menentukan bidang kecakapan
tertentu yang memerlukan adanya perbaikan.
c. Menyusun program perbaikan.
Dalam menyusun program pengajaran perbaikan diperlukan adanya
ketetapan sebagai berikut:
a. Tujuan pengajaran remedial
a. Tujuan pengajaran remedial
Contoh dari tujuan pengajaran remedial yaitu siswa dapat
memahami kata “tinggi”, “pendek” dan “gemuk” dalam berbagai konteks kalimat.
b. Materi pengajaran remedial
b. Materi pengajaran remedial
Contoh materi pengajaran remedial yaitu dengan cara lebih
khusus dalam mengembangkan kalimat-kalimat yang menggunakan kata-kata seperti
di atas.
c. Metode pengajaran remedial
c. Metode pengajaran remedial
Contoh metode pengajaran remedial yaitu dengan cara siswa
mengisi dan mempelajari hal-hal yang dialami oleh siswa tersebut dalam
menghadapi kesulitan belajar.
d. Alokasi waktu
d. Alokasi waktu
Contoh alokasi waktu remedial misalnya waktunya Cuma 60
menit.
e. Teknik evaluasi pengajaran remedial
e. Teknik evaluasi pengajaran remedial
Contoh teknik evaluasi pengajaran remedial yaitu dengan
menggunakan tes isian yang terdiri atas kalimat-kalimat yang harus
disempurnakan, contohnya dengan menggunakan kata tinggi, kata pendek, dan kata
gemuk.
Selanjutnya untuk memperluas wawasan pengetahuan mengenai
alternatif-alternatif atau cara-cara pemecahan masalah kesulitan belajar siswa,
guru sangat dianjurkan mempelajari buku-buku khusus mengenai bimbingan dan
penyuluhan. Selain itu, guru juga sangat dianjurkan untuk mempertimbangkan
penggunaan model-model mengajar tertentu yang dianggap sesuai sebagai
alternatif lain atau pendukung cara memecahkan masalah kesulitan belajar siswa.
Keaktifan siswa tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi juga dari segi kejiwaan. Bila hanya fisik anak yang aktif, tetapi fikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini sama halnya dengan siswa tidak belajar, karena siswa tidak merasakan perubahan di dalam dirinya, padahal pada hakekatnya belajar adalah “perubahan” yang terjadi dalam diri seseorang yang telah berakhirnya melakukan aktivitas belajar.
Penerapan sikap dan pembentukan kepribadian pada diri siswa harus dioptimalkan, mengingat keberhasilan suatu proses pembelajaran bukan diukur oleh adanya penambahan dan perubahan pengetahuan serta keterampilan saja, namun nilai sikap harus terakomodasi, sebab dengan perubahan sikap akan menentukan terhadap perubahan kognitif ataupun psikomotor.
Sama halnya dengan belajar, mengajar pun pada hakekatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar. Pada tahap berikutnya mengjar adalah proses memberikan bimbingan, bantuan kepada siswa dalam melakukan proses belajar.
Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah interaksi antara guru dengan peserta didik dan antara peserta didik dengan peserta didik lainnya, serta dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan tingkah laku pada diri peserta didik. Agar proses belajar mengajar tersebut berlangsung secara efektif selain diperlukan alat peraga sebagai pelengkap yang digunakan guru dalam berinteraksi dengan peserta didik diperlukan pula aturan dan tata tertib yang baku agar dalam pelaksanaannya teratur dan tidak menyimpang.
Keaktifan siswa tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi juga dari segi kejiwaan. Bila hanya fisik anak yang aktif, tetapi fikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini sama halnya dengan siswa tidak belajar, karena siswa tidak merasakan perubahan di dalam dirinya, padahal pada hakekatnya belajar adalah “perubahan” yang terjadi dalam diri seseorang yang telah berakhirnya melakukan aktivitas belajar.
Penerapan sikap dan pembentukan kepribadian pada diri siswa harus dioptimalkan, mengingat keberhasilan suatu proses pembelajaran bukan diukur oleh adanya penambahan dan perubahan pengetahuan serta keterampilan saja, namun nilai sikap harus terakomodasi, sebab dengan perubahan sikap akan menentukan terhadap perubahan kognitif ataupun psikomotor.
Sama halnya dengan belajar, mengajar pun pada hakekatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar. Pada tahap berikutnya mengjar adalah proses memberikan bimbingan, bantuan kepada siswa dalam melakukan proses belajar.
Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah interaksi antara guru dengan peserta didik dan antara peserta didik dengan peserta didik lainnya, serta dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan tingkah laku pada diri peserta didik. Agar proses belajar mengajar tersebut berlangsung secara efektif selain diperlukan alat peraga sebagai pelengkap yang digunakan guru dalam berinteraksi dengan peserta didik diperlukan pula aturan dan tata tertib yang baku agar dalam pelaksanaannya teratur dan tidak menyimpang.
Dari hakikat proses belajar mengajar, pembelajaran
merupakan proses komunikasi, maka pembelajaran seyogyanya tidak atraktip
melainkan harus demokrasi. Siswa harus menjadi subjek belajar, bukan hanya
menjadi pendengar setia atau pencatat yang rajin, tetapi siswa harus aktif dan
kreatif dalam berbagai pemecahan masalah. Dengan demikian guru harus dapat
memilih dan menentukan pendekatan dan metode yang disesuaikan dengan
kemampuannya, kekhasan bahan pelajaran, keadaan sarana dan keadaan siswa. 1.1. Program Bimbingan di Sekolah
Program bimbingan dan konseling
merupakan bagian yang terpadu dari keseluruhan program pendidikan di sekolah.
Oleh karena itu, upaya guru pembimbing maupun berbagai aspek yang tercakup
merupakan bagian tidak dapat dipisahkan dari seluruh bagian kegiatan yang
diarahkan kepada pencapaian tujuan pendidikan di lembaga yang bersangkutan.
1.1.1. Pengertian
Program Bimbingan
Menurut pendapat Hotch dan
Costor yang dikutip oleh Gipson dan Mitchell (1981) program bimbingan dan
konseling adalah suatu program yang memberikan layanan khusus yang dimaksudkan
untuk membantu individu dalam mengadakan penyesuaian diri. Program bimbingan
itu menyangkut dua faktor, yaitu: (1) faktor pelaksana atau orang yang akan
menberikan bimbingan, dan (2) faktor-faktor yang berkaitan perlengkapan,
metode, bentuk layanan siswa-siswa, dan sebagainya, yang mempunyai kaitan
dengan kegiatan bimbingan (Abu Ahmadi, 1997).
Program bimbingan memberikan arah
yang jelas dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan efisien dan
efektif.Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) menyatakan bahwa program
bimbingan yang disusun dengan baik dan rinci akan memberikan banyak keuntungan
, seperti :
a) Memungkinkan para
petugas menghemat waktu, usaha, biaya, dan menghindari kesalahan-kesalahan, dan
usaha coba-coba yang tidak menguntungkan
b) Memungkinkan siswa
untuk mendapatkan layanan bimbingan secara seimbang dan menyeluruh, baik dalam
hal kesempatan ataupun dalam jenis layanan bimbingan yang diperlukan
c) Memungkinkan setiap
petugas mengetahui dan memahami peranannya masing-masing dan mengetahui bagaimana
dan dimana mereka harus melakukan upaya secara tetap
d) Memungkinkan para petugas
untuk menghayati pengalaman yang sangat berguna untuk kemajuannya sendiri dan
untuk kepentingan siswa yang dibimbinganya.
Pendapat
ini menekankan perlunya rumusan program bimbingan yang jelas dan sistematik.
Keberhasilan dalam merumuskan program yang demikian, merupakan titik awal
keberhasilan pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling disekolah.
1.1.2.
Langkah-Langkah Penyusunan Program
Bimbingan
Dalam penyusunan program bimbingan
perlu ditempuh langkah-langkah seperti dikemukakan oleh Miller yang dikutip
oleh Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) seperti berikut :
a)
Tahap
Persiapan
Langkah ini dilakukan melalui survei untuk menginventarisasi
tujuan, kebutuhan dan kemampuan sekolah, serta kesiapan sekolah yang
bersangkutan untuk melaksanakan program bimbingan. Kegiatan ini dimaksudkan
untuk menentukan langkah awal pelaksanaan program.
b)
Pertemuan-pertemuan
permulaan dengan para konselor yang telah ditunjuk oleh pemimpin sekolah.
Tujuan pertemuan ini untuk menyamakan pemikiran tentang
perlunya program bimbingan, serta merumuskan arah program yang akan disusun.
c)
Pembentukan
panitia sementara untuk merumuskan program bimbingan.
Panitia ini bertugas merumuskan tujuan program bimbingan
yang akan disusun, mempersiapkan bagan organisasi dari program tersebut, dan
membuat kerangka dasar dari program bimbingan yang akan disusun.
d)
Pembentukan
panitia penyelenggara program.
Panitia ini bertugas mempersiapkan program tes,
mempersiapkan dan melaksanakan sistem pencatatan, dan melatih para pelaksana
program bimbingan untuk melaksanakan kegiatan tersebut.
e) Penyusunan
program bimbingan dan konseling di sekolah hendaknya dirumuskan dan
diinventarisasikan berbagai fasilitas yang ada.
f) Penyusunan
program bimbingan dan konseling hendaknya merumuskan masalah-masalah yang
dihadapi.
Di samping rumusan tentang
langkah-langkah penyusunan program bimbingan sebagaimana dikemukakan itu,
berikut ini dapat pula disajikan langkah-langkah penyusunan program bimbingan
yang sederhana, yaitu :
a) Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan
sekolah terutama yang ada kaitannya dengan bimbingan.
Pada kegiatan ini dapat dilakukan
pertemuan – pertemuan dengan personel sekolah lainnya guna mendapatkan masukan
(input) mengenai berbagai hal yang perlu ditangani oleh konselor.
b) Setelah data terkumpul perlu
dilakukan penentuan urutan prioritas kegiatan yang akan dilakukan, dan sekaligus
menyusun konsep program bimbingan yang akan dilakukan dalam kurun waktu
tertentu.
Dalam kegiatan ini juga ditentukan
personalia yang akan melaksanakan program kegiatan itu serta sasaran dari
program tersebut.
c) Konsep
program bimbingan dibahas bersama kepala sekolah dan bila perlu mengundang
personel sekolah untuk memperoleh balikan guna penyempurnaan program tersebut.
d) Penyempurnaan konsep
program yang telah di bahas bersama kepala sekolah.
e) Pelaksanaan program
yang telah direncanakan
f) Evaluasi
Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui bilamana
ada bagian – bagian yang tidak terlaksana dan seterusnya dicari faktor
penyebabnya.
g) Revisi
Demikian
seterusnya, sehingga terwujudlah program bimbingan yang lebih sempurna.
Terciptanya program bimbingan yang baik telah merupakan sebagian dari
keberhasilan pelaksanaan bimbingan dan konseling itu sendiri.
1.1.3. Variasi Program Bimbingan menurut jenjang Pendidikan
Layanan bimbingan dan konseling disekolah seharusnya dilaksanakan secara
terus – menerus, mulai dari jenjang pendidikan terendah (taman kanank-kanak)
sampai jenjang pendidikan tertinggi (perguruan tinggi). Secara ideal kegiatan
tersebut seharusnya berkesinambungan. Meskipun demikian layanan bimbingan
tersebut mempunyai penekanan- penekanan yang berbeda-beda untuk setiap jenjang
pendidikan. Hal ini mengingat kebutuhan dan perkembangan anak untuk setiap
jenjang pendidikan juga berbeda. Winkel (1991) memberikan rambu-rambu
yang perlu diperhatikan dalam menyusun program bimbingan di tingakt pendidikan
tertentu, yaitu :
a. Menyusun
tujuan pendidikan tertentu,seperti yang telah dirumuskan. Tujuan pendidikan
disekolah dasar, jelas berbeda dengan tujuan
pendidikan disekolah menengah pertama,dan seterusnya.
b. Menyusun
tugas-tugas perkembangan dan kebutuhan-kebutuhan peserta didik pada tahap
perkembangan tertentu
c. Menyusun
pola dasar yang dipedomani dalam memberikan layanan
d.
Menentukan komponen-komponen bimbingan yang diprioritaskan
e. Menentukan
bentuk bimbingan yang sebaiknya diutamakan, seperti bimbingan kelompok atau
bimbingan individual atau bimbingan pribadi, bimbingan akademik atau bimbingan
karier, dan sebagainya.
f. Menentukan
tenaga-tenaga bimbingan yang dapat dimanfaatkan, misalnya konselor, guru atau
tenaga ahli lainnya.
Berdasarkan rambu – rambu tersebut,
program bimbingan untuk masing – masing jenjang pendidikan dapat dirumuskan
dengan tepat sesuai dengan karakteristiknya. Selain itu, program bimbingan hendaknya
disesuiakan dengan keadaan individu yang akan dilayani.
Pendidikan Taman Kanak-Kanak
Taman kanak – kanak sebenarnya belum
termasuk jenjang pendidikan formal dan lebih dikenal dengan pendidikan
prasekolah. Pendidikan formal terendah adalah sekolah dasar (SD). Meskipun
demikian menurut Winkel(1991) tenaga – tenaga pendidik di taman kanak – kanank juga
dituntut untuk memberikan layanan bimbingan. Hal ini, dikuatkan dalam Pedoman
Bimbingan dan Penyuluhan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1980
buku III C, dalam rangka pelaksanaan kurikulum taman kanak – kanak 1976.
Layanan bimbingan dan konseling di
taman kanak-kanak hendaknya ditekankan pada :
a) Bimbingan
yang berkaitan dengan kemandirian dan keharmonisan dalam menjalin hubungan sosial
dengan teman-teman sebayanya.
b) Bimbingan
pribadi,seperti pemupukan disiplin diri dan memahami perintah.
Di samping itu, layanan bimbingan
untuk anak taman kanak-kanak perlu
dilakukan untuk memenuhi kebutuhan psikologis, seperti pemberian kasih sayang
dan perasaan aman.
Guru di taman kanak-kanak perlu membantu anak didik
mengembangkan semua dimensi perkembangannya. Guru tidak hanya berperan sebagai
pendidik tetapi juga sebagai pembimbing yang dapat memfasilitasi tumbuh
kembangnya anak secara optimal. Pemahaman tentang tumbuh kembang anak dengan
berbagai permasalahan mungkin dialami anak menjadi aspek penting yang harus
dikuasai seorang guru taman kanak-kanak. Artinya, dalam melaksanakan fungsinya,
seorang guru perlu memiliki wawasan yang cukup tentang perkembangan anak. Tidak
semua anak mengalami perkembangan yang mulus dan lancar, ada anak yang
menunjukkan kecenderungan adanya masalah yang berkenaan dengan masalah
perkembangan fisik-motorik, intelektual, sosial, emosi maupun bahasa. Bimbingan
di taman kanak-kanak merupakan suatu kegiatan yang cukup unik dan juga cukup
menantang. Kondisi ini terjadi karena bimbingan bagi anak taman kanak-kanak sangat
jauh berbeda dengan bimbingan bagi siswa sekolah lainnya seperti siswa SD, SMP
atau SMA. Bimbingan di taman kanak-kanak memiliki karakteristik tersendiri. Hal
ini terjadi karena masih terbatasnya pola pikir dan pemahaman anak sehingga
pola bimbingan yang diberikan harus disesuaikan dengan pola pikir dan pemahaman
anak yang masih sangat sederhana. Kondisi lain yang menyebabkan bimbingan di
taman kanak-kanak bersifat unik karena sangat sulit memisahkan kegiatan
bimbingan dengan kegiatan pembelajaran..
Guru tidak hanya bertugas menciptakan proses
pembelajaran bagi anak tapi guru juga harus mampu berperan sebagai seorang
pembimbing. Petugas bimbingan untuk jenjang pendidikan taman kanak-kanak masih sangat
jarang, petugas bimbingan lebih banyak berkiprah pada jenjang pendidikan
sekolah menengah. Oleh karenanya, tugas bimbingan menjadi tugas lain seorang
guru di taman kanak-kanak. Dalam melaksanakan bimbingan, guru juga memiliki
keterbatasan lain. Dalam waktu 2 – 2,5 jam pembelajaran di taman kanak-kanak,
guru harus mampu melaksanakan kegiatan pengajaran juga bimbingan dan latihan. Keterbatasan
peran guru yang merangkap sebagai pengajar dan pembimbing disertai jumlah waktu
yang relatif singkat mengharuskan guru memiliki kemampuan tersendiri guna
merencanakan dan melaksanakan program dan layanan bimbingannya. Pelaksanaan
program dan layanan bimbingan untuk anak taman kanak-kanak sangatlah jauh
berbeda dengan pelaksanaan program dan layanan bimbingan pada jenjang sekolah
yang lebih tinggi. Selama ini banyak guru yang terjebak pada suatu konsep
bimbingan yang keliru. Artinya mereka kurang menyadari adanya kesalahan
konsepsi dan praktek bimbingan di taman kanak-kanak. Kesalahan konsep tersebut
sudah cukup meluas sehingga seolah-olah sudah dianggap wajar.
Program Bimbingan di Sekolah
Dasar
Hingga saat ini pelaksanaan
bimbingan disekolah dasar belum dapat terlaksana dengan baik sebagaimana di
sekolah menengah. Dalam kurun waktu yang relatif tidak lama di harapkan
pelaksanaan kegiatan bimbingan disekolah dasar dapat terwujud, mengingat makin
hari, makin bertambah jumlah anak – anak usia sekolah dasar yang memerlukan
konsultasi karena mengalami berbagai macam masalah.
Program kegiatan bimbingan dan
konseling untuk siswa-siswa sekolah dasar lebih menekankan pada usaha
pencapaian tugas-tugas perkembangan mereka antara lain mengatur kegiatan
belajarnya dengan bertanggung jawab, dapat berbuat dengan cara-cara yang dapat
diterima oleh orang dewasa serta teman-teman sebayanya, mengembangkan kesadaran
moral berdasarkan nilai-nilai kehidupan dengan membentuk kata hati (Winkel,
1991). Disamping itu program bimbingan hendaknya mengacu kepada tujuan umum di
SD yaitu memiliki sifat-sifat dasar sebagai warga negara yang baik, menikmati
kesehatan jasmani dan rohani, memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap
dasar yang diperlukan untuk melanjutkan pelajaran, bekerja di masyarakat, dan
mengembangkan diri sesuai dengan asas pendidikan seumur hidup. Dengan demikian
arah penyusunan program bimbingan di sekolah dasar tidak terlepas dari usaha
pencapaian tugas – tugas perkembangan anak – anak usia sekolah dasar.
Berkenaan dengan penyusunan program
bimbingan disekolah dasar, Gibson dan Mitchell (1981) mengemukakan beberapa faktor
yang harus dipertimbangkan, seperti :
a) Kegiatan
bimbingan di SD hendaknya lebih menekankan pada aktivitas-aktivitas belajar
b) Di
SD masih menggunakan sistem guru kelas sehingga seandainya ada anak yang tidak
disenangi guru, maka akan lebih fatal akibatnya
c) Adanya
kecenderungan seorang anak bergantung kepada
teman sebayanya
d) Minat
orang tua dominan mempengaruhi nilai kehidupan anak
e) Masalah-masalah
yang timbul di tingkat SD, tidak terlalu kompleks.
Program Bimbingan di Sekolah
Menengah Pertama
Suasana belajar di SMP berbeda
dengan kegiatan di sekolah dasar, terutama dalam sistem belajarnya. Belajar
disekolah dasar (SD) umumnya diasuh oleh guru kelas, sedangkan di SMP diasuh
oleh guru bidang studi. Oleh karena itu, para siswa sekolah menengah pertama
dituntut untuk menyesuaikan diri dengan guru yang bervariasi. Siswa dituntut
untuk lebih mandiri khusunya dalam belajar. Mereka tidak lagi dapat menuntut
bantuan dari orang tua dalam menyelesaikan tugas- tugas sekolah seperti halnya
pada saat mereka duduk di SD. Kondisi – kondisi seperti itulah yang menuntut
agar program bimbingan dan konseling di SMP berbeda dengan di SD. Program
bimbingan di SMP seharusnya lebih bervariasi dan lebih kompleks.
Selain itu, program bimbingan dan
konseling untuk sisiwa SMP hendaknya berorientasi kepada pencapaian tugas-tugas
perkembangannya. Dalam hal ini, Winkel(1991) mengemukakan tugas – tugas
perkembangan untuk siswa/anak pada tingkat SMP antara lain; menerima peranannya
sebagai pria atau wanita, memperjuangkan taraf kebebasan yang wajar dari orang
tua dan orang – orang dewasa lainnya, menambah bekal pengetahuan dan pemahaman
untuk pendidikan lanjutan, serta mengembangkan kata hati sesuai dengan nilai-
nilai kehidupan.
Hambatan dari pencapaian tugas –
tugas perkembangan tersebut antara lain; kurang kepercayaan diri, kurangnya
kepekaan perasaan, sering timbulnya kegelisahan, dan kurangnya semangat kerja
keras. Dengan adanya kenyataan yang dialami oleh anak- anak tersebut, program
bimbingan hendaknya diarahkan atau ditekankan pada penanggulangan masalah itu
sehingga mereka dapat mencapai tugas - tugas perkembangannya dengan baik.
Secara garis besar program bimbingan dan
konseling di SMP hendaknya berorientasi kepada :
a)
Bimbingan
belajar, karena cara belajar di SMP berbeda dengan di SD
b) Bimbingan
tentang hubungan muda – mudi, karena pada usia ini mereka mulai mengenal hubungan
cinta kasih
c) Pada
usia ini mereka mulai membentuk kelompok sebaya (peer group), maka
program bimbingan hendaknya juga menangani masalah – masalah yang berkaitan
dengan hubungan sosial
d) Bimbingan
yang berorientasi pada tugas-tugas perkembangan anak usia 12-15 tahun
e) Bimbingan karier baik yang
menyangkut pemahaman tentang dunia pendidikan atau pekerjaan.
Program Bimbingan di Sekolah
Menengah Atas
Program bimbingan dan konseling di
SMA hendaknya lebih lengkap dan luas cakupannya dibandingkan dengan program
layanan di jenjang pendidikan dibawahnya. Pada jenjang pendidikan di SMA para
siswa berada dalam masa remaja. Usia mereka berada pada masa transisi.
Kehidupan kekanak-kanaknya sudah ditinggalkan, namun kehidupan sebagai orang
dewasa belum mapan. Dengan demikian, mereka berada di daerah marginal yaitu
daerah kabur. Akibatnya mereka kehilangan identitas, dan berusaha mencari
identitas kembali dengan berbagai cara dan gayanya. Kadang-kadang pola
berpikir, berperasaan, dan perilakunya menyimpang dari pola kehidupan anak –
anak ataupun orang dewasa.
Disamping itu, mereka dituntut untuk
mencapai tugas-tugas perkembangan yang dituntut dari mereka. Cole(1959)
mengemukakan beberapa tugas-tugas perkembangan pada usia remaja (siswa SMA)
yaitu bertujuan untuk mencapai:1) kematangan emosional, 2) kemantapan minat
terhadap lawan jenis, 3) kematangan sosial, 4) kebebasan diri dari kontrol
orang tua, 5) kematangan intelektual, 6) kematangan dalam pemilihan pekerjaan,
7) efisiensi penggunaan waktu luang, 8) kematangan dalam memahami falsafah
hidup, dan 9) kematngan dalam kemampuan mengidentifikasi diri. Dengan demikian,
program bimbingan dan konseling di SMA hendaknya dapat mengatasi
permasalahan-permasalahan yang dihadapi siswa, sehingga mereka dapat mencapai
tugas-tugas perkembangan dengan baik. Oleh sebab itu, program bimbingan di SMA
berorientasi pada :
a) Hubungan muda-mudi /
hubungan sosial
b) Pemberian informasi
pendidikan dan jabatan
c) Bimbingan cara belajar
Program Bimbingan di Perguruan
Tinggi
Tugas – tugas perkembangan pada usia
dewasa menuntut seseorang untuk lebih mandiri, dan berdisiplin diri. Mereka dituntut
untuk mampu mengembangkan sikap membina ilmu demi kemajuan bangsanya. Mereka
hendaknya mampu mengembangkan kepribadiannya sesuai dengan potensi-potensi yang
dimiliki dan mampu merencanakan masa depan sesuai dengan keadaan dirinya.
Oleh sebab itu, arah program
bimbingan di perguruan tinggi sedikit berbeda dengan program yang ada dilembaga
pendidikan yang lebih rendah (sekolah). Hal ini disebabkan karena adanya hal-hal
yang lebih spesifik dalam perkembangan diri mahasiswa. Pola berpikirnya sudah
lebih matang dan mereka berusaha mencurahkan segala tenaga dan pikirannya untuk
memecahkan berbagai masalah (ekonomi), pekerjaan tuntutan akademik, dan masalah
pernikahan.
Disamping itu, mahasiswa juga
dituntut untuk menyesuaikan diri dengan pola kehidupan kampus dan di luar
kampus. Pola kehidupan kampus lebih menekankan kepada aspek akademik, seperti
cara belajar mandiri, cara mengatur waktu, menimbulkan motivasi belajar, memilih
program studi dan menjalin hubungan sosial. Masalah – masalah diluar kampus
yang mungkin timbul adalah masalah biaya pendidikan, fasilitas belajar, tempat
tinggal, makanan yang bergizi, dan sebagainya.
Efektivitas dan efesiensi program
bimbingan dapat terwujud bila diarahkan kepada masalah-masalah sebagaimana
digambarkan diatas. Oleh sebab itu, program bimbingan di perguruan tinggi
hendaknya berorientasi kepada :
a) Bimbingan belajar di
perguruan tinggi atau bimbingan yang bersifat akademik
b) Hubungan sosial dan
hubungan muda-mudi.
1.1.4. Tenaga
Bimbingan di Sekolah Beserta Fungsi dan Peranannya
Layanan bimbingan dan konseling merupakan bagian yang integral dari keseluruhan
proses pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, pelaksanaan bimbingan dan
konseling di sekolah menjadi tanggung jawab bersama antara personel sekolah
(Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya 1985). Dengan demikian, diperlukan adanya
keterpaduan dan kebersamaan di antara personel sekolah dalam pelaksanaan
bimbingan.
Kepala Sekolah
Dalam pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah, kepala sekolah
mempunyai tugas sebagai berikut :
a) Membuat
rencana atau program sekolah secara menyeluruh
b) Mendelegasikan
tanggung jawab tertentu dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling
c) Mengawasi
pelaksanaan program
d) Melengkapi
dan menyediakan kebutuhan fasilitas bimbingan dan konseling
e) Mempertanggungjawabkan
program tersebut baik di dalam maupun di luar sekolah
f) Mengadakan
hubungan dengan lembaga-lembaga dalam rangka kerjasama pelaksanaan bimbingan.
Konselor
Peran dan tugas konselor di sekolah dalam kegiatan bimbingan dan konseling
adalah :
a) Menyusun
program bimbingan dan konseling bersama kepala sekolah
b) Bertanggung
jawab terhadap jalannya program
c) Memberikan
laporan kegiatan kepada kepala sekolah
d) Menerima
dan mengklasifikasikan informasi pendidikan
e) Menganalisis
dan menafsirkan data siswa
f) Menyelenggarakan
pertemuan staf
g) Melaksanakan
bimbingan kelompok dan konseling individual
h) Menilai
proses dan hasil pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling
i) Melakukan
studi kelayakan
j) Berkolaborasi
dengan guru mata pelaajran
k) Mengadministrasikan
kegiatan program pelayanan bimbingan dan konseling.
Wali Kelas
Peran dan tanggung jawab wali kelas adalah :
a) Mengumpulkan
data tentang siswa
b) Mengadakan
kegiatan orientasi
c) Mengobservasi
kegiatan siswa di rumah
d) Meneliti
kemajuan dan perkembangan siswa
e) Bekerja
sama dengan konselor dalam mengadakan pemeriksaan
f) Berpartisipasi
dalam kegiatan khusus penanganan maslah peserta didik.
Guru/Pengajar
Tugas dan tanggung jawab guru dalam kegiatan ini adalah :
a) Turut
serta aktif dalam membantu melaksanakan kegiatan program BK
b) Memberikan
informasi kepada siswa
c) Meneliti
kesulitan dan kemajuan siswa
d) Memberikan
layanan intruksional
e) Mengadakan
hubungan dengan orang tua siswa
f) Mengidentifikasi
bakat siswa
Petugas Administrasi
Tugas dan tanggung jawab petugas administrasi dalam kegiatan
bimbingan dan konseling adalah :
a) Mengisi
kartu pribadi siswa
b) Menyimpan
catatan-catatan dan data lainnya
c) Menyelesaikan
laporan dan pengumpuilan data tentang siswa
d) Menyiapkan
alat-alat atau formulir-formulir pengumpulan data siswa
1.1.5. Mekanisme
Implementasi Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah
Untuk melaksanakan program bimbingan
dan konseling di sekolah, konselor beserta personel sekolah perlu memperhatikan
komponen kegiatan sebagai berikut :
a. Komponen Pemrosesan
Data
Kegiatan layanan bimbingan dan
konseling di sekolah meliputi beberapa aspek, yaitu : (1) pengumpulan data, (2)
pengklasifikasian, (3) penyediaan data yang diperlukan, (4) penyimpanan, (5)
penafsiran. Data yang perlu diproses adalah tentang keadaan siswa di sekolah
yang meliputi : (1) kemampuan skolastik, (2) cita-cita, (3) hubungan sosial,
(4) minat terhadap mata pelajaran, (5) kebiasaan belajar, (6) kesehatan fisik,
(7) pekerjaan orang tua, (8) keadaan keluarga.
b. Komponen Kegiatan
Pemberian Informasi
Komponen ini terdiri : (1) pemberian
orientasi kehidupan sekolah kepada siswa. (2) pemberian informasi tentang
program studi kepada siswa yang dipandang memerlukannya, (3) pemberian
informasi jabatan kepada siswa, (4) pemberian informasi pendidikan lanjutan.
c. Komponen
Kegiatan Konseling
Konseling dilakukan terhadap siswa
yang mengalami masalah yang sifatnya lebih pribadi. Jika ada masalah yang tidak
dapat diatasi oleh petugas yang bersangkutan, perlu di alihtangankan kepada
pihak yang lebih ahli.
d. Komponen Pelaksana
Pelaksana jenis kegiatan tersebut adalah
konselor sekolah, konselor bersama guru bidang studi dan juga kepala sekolah
sesuai dengan fungsi peranannya masing-masing.
e. Komponen
Metode/Alat
Alat yang dipakai untuk melaksanakan
kegiatan yang telah direncanakan itu adalah: angket kartu pribadi, konseling
dan sebagainya.
f. Komponen
Waktu Kegiatan
Jadwal kegiatan layanan dapat
dilakukan pada awal tahun pelajaran atau waktu lain tergantung dari jenis
atau macam kegiatan yang akan dilakukan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
g. Komponen Sumber Data
Data yang diperlukan dapat diperoleh
langsung dari siswa yang bersangkutan. Hal ini tergantung atau jenis data yang
diperlukan. Semua kegiatan ini dikoordinasikan oleh konselor dan
dipertanggungjawabkan kepada kepala sekolah.
1.2. Pengertian Diagnosis Kesulitan Belajar
Dalam proses pembelajaran, tugas guru tidak hanya
sekedar menyampaikan atau mentransfer ilmu atau bahan pelajaran kepada peserta
didik. Guru sebagai pendidik dituntut untuk bertanggung jawab atas perkembangan
peserta didik. Kegiatan memahami kesulitan belajar peserta didik ini dikenal
dengan istilah diagnosis kesulitan belajar. Dalam pengertian diagnosis
kesulitan belajar terdapat dua istilah yang perlu dipahami terlebih dahulu
yaitu istilah diagnosis dan kesulitan belajar. Banyak ahli mengemukakan
pendapatnya mengenai pengertian diagnosis antara lain, menurut Harriman dalam
bukunya Handbook of Psychological Term, diagnosis adalah suatu analisis
terhadap kelainan atau salah penyesuaian dari pola gejala-gejalanya. Jadi
diagnosis merupakan proses pemeriksaan terhadap hal-hal yang dipandang tidak
beres atau bermasalah.
Sedangkan menurut Webster, diagnosis diartikan sebagai
proses menentukan hak menentukan permasalahan kikat kelainan atau
ketidakmampuan dengan ujian, dan melalui ujian tersebut dilakukan suatu
penelitian yang hati-hati terhadap fakta-fakta yang dijumpai , yang selanjutnya
untuk menentukan permasalan yang dihadapi. Maka dapat disimpulkan bahwa diagnosis
adalah penentuan jenis masalah atau kelainan dengan meneliti latar belakang
penyebabnya atau dengan cara menganalisis gejala-gejala yang tampak. Setelah
kita pahami pengertian diagnosis, selanjutnya kita bahas mengenai kesulitan
belajar. Kesulitan belajar adalah suatu gejala yang nampak pada peserta
didik yang ditandai dengan adanya prestasi belajar yang rendah atau dibawah
norma yang telah ditetapkan. bahwa kesulitan belajar itu menunjukkan adanya
suatu jarak antara prestasi akademik yang diharapkan dengan prestasi akademik
yang dicapai oleh peserta didik (prestasi actual). Blassic dan Jones juga
mengatakan bahwa peserta didik yang memiliki intelegensi normal, tetapi
menunjukkan satu atau beberapa kekurangan yang penting dalam proses belajar, baik
dalam persepsi, ingatan, perhatian ataupun dalam fungsi motoriknya.
Jadi kesulitan belajar yang dialami peserta didik
tidak selalu disebabkan oleh intelegensi atau angka kecerdasannya yang rendah.
Kesulitan atau hambatan belajar yang dialami oleh peserta didik dapat berasal
dari faktor fisiologik, psikologik, instrument, dan lingkungan belajar. Maka
dapat disimpulkan bahwa diagnosis kesulitan belajar merupakan proses
menentukan masalah atau ketidakmampuan peserta didik dalam belajar dengan
meneliti latar belakang penyebabnya dan atau dengan cara menganalisis
gejala-gejala kesulitan atau hambatan belajar yang nampak.
Berikut ini akan dikemukakan permasalahan belajar
peserta didik menurut Warkitri dkk (1990) sebagai berikut :
1. Kekacauan Belajar (Learning Discorer)
yaitu suatu keadaan dimana proses belajar anak terganggu karena timbulnya
respons yang bertentangan.
2. Ketidakmampuan Belajar (Learning
Disability) yaitu suatu gejala anak tidak mampu belajar atau selalu
menghindari kegiatan belajar dengan berbagai sebab sehingga hasil belajar yang
dicapai berada dibawah potensi intelektualnya.
3. Learning Disfunction yaitu
kesulitan belajar yang mengacu pada gejala proses belajar yang tidak dapat
berfungsi dengan baik, walaupun anak tidak menunjukkan adanya subnormal mental,
gangguan alat indera ataupun gangguan psikologis yang lain.
4. Under Achiever, adalah suatu
kesulitan belajar yang terjadi pada anak yang memiliki potensi intelektual
tergolong di atas normal tetapi prestasi belajar yang dicapai tergolong rendah.
5. Lambat Belajar (Slow Learner) adalah
kesulitan belajar yang disebabkan anak sangat lambat dalam proses belajarnya,
sehingga setiap melakukan kegiatan belajar membutuhkan waktu yang lebih lama
dibandingkan dengan anak lain yang memiliki tingkat potensi intelektual yang
sama.
1.2.1.
Gejala dan
Ciri Kesulitan Belajar
Gejala
kesulitan belajar
Kesulitan atau
masalah belajar dapat dikenal berdasarkan gejala yang dimanifestasikan dalam
berbagai bentuk perilaku, baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
Menurut Warkitri dkk, 1990 : 8.5 – 8.6 (Ebekunt;2009,http://ebekunt.wordpress.com), individu
yang mengalami kesulitan belajar menunjukkan gejala sebagai berikut:
a. Hasil belajar yang dicapai rendah
dibawah rata-rata kelompoknya.
b. Hasil
belajar yang dicapai sekarang lebih rendah dibanding sebelumnya.
c. Hasil
belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan.
d. Lambat
dalam melakukan tugas-tugas belajar.
e. Menunjukkan
sikap yang kurang wajar, misalnya masa bodoh dengan proses belajar dan
pembelajaran, mendapat nilai kurang tidak menyesal, dst.
f. Menunjukkan
perilaku yang menyimpang dari norma, misalnya membolos, pulang sebelum
waktunya, dst.
g. Menunjukkan
gejala emosional yang kurang wajar, misalnya mudah tersinggung, suka menyendiri,
bertindak agresif, dan sebagainya.
Sedangkan Abu Daud (http://abudaud2010.blogspot.com) menjelaskan bahwa Kesulitan
belajar pada dasarnya suatu gejala yang nampak dalam berbagai jenis manifestasi
tingkah laku. Gejala kesulitan belajar akan dimanifestasikan baik secara
langsung maupun tidak langsung, juga dalam berbagai bentuk tingkah laku.
Misalnya saja, sesuai dengan pengertian kesulitan belajar, tingkah laku yang
dimanifestasikannya ditandai dengan adanya hambatan-hambatan tertentu. Gejala
ini akan tampak dalam aspek motorik, kognitif, konatif (kehendak) dan afektif
baik dalam proses maupun hasil belajar yang dicapainya. Contoh sulit dan lambat
dalam berkomunikasi.Dari kutipan di atas, dapat dibuat sebuah kesimpulan
bahwa gejala-gejala yang menunjukkan individu mengalami kesulitan belajar,
yaitu:
1. Hasil
belajar yang dicapai berada dibawah rata-rata kelas, lebih rendah dari hasil
belajar sebelumnya, serta tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan.
2. Individu
lambat dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah yang diberikan oleh guru.
3. Menunjukkan
sikap yang masa bodoh, sering bolos ataupun tidak masuk sekolah, serta mudah
tersinggung dan menyendiri.
Ciri
kesulitan belajar
Adapun ciri-ciri kesulitan
belajar yang dialami oleh siswa seperti berikut ini (Mutiara Endah; 2010, http://mutiaraendah.wordpress.com):
A
.Gangguan persepsi visual
1) Melihat huruf/angka
dengan posisi yang berbeda dari yang tertulis, sehingga seringkali terbalik
dalam menuliskan kembali
2) Sering
tertinggal huruf dalam menulis
3) Menuliskan
kata dengan urutan yang salah misalnya ibu jadi ubi
4) Sulit
memahami kanan dan kiri
5) Bingung
membedakan antara obyek dengan latar belakang
6) Sulit
mengkoordinasi antara mata (penglihatan) dengan tindakan (tangan, kaki)
B
. Gangguan persepsi auditori
1) Sulit
membedakan bunyi: menangkap secara berbeda apa yang didengarnya
2) Sulit
memahami perintah terutama perintah yang diberikan dalam jumlah banyak dan
kalimat yang panjang
3) Bingung
dan kacau dengan bunyi yang datang dari berbagai penjuru sehingga sulit
mengikuti diskusi karena saat mencoba mendengar sebuah informasi sudah
mendapatkan gangguan dari suara lain di sekitarnya
C.
Gangguan bahasa
1) Sulit
menangkap dan memahami kalimat yang dikatakan kepadanya
2) Sulit
mengkoordinasikan/mengatakan apa yang sedang dipikirkan
D. Gangguan
persepsi –motorik
1) Kesulitan motorik
halus (sulit mewarnai, menggunting, melipat, menempel, menulis rapi, memotong,
dll )
2) Memiliki masalah dalam
koordinasi dan disorientasi yang mengakibatkan canggung dan kaku dalam eraknya
E.
Hiperaktivitas
1) Sukar
mengontrol aktivitas motorik dan selalu bergerak/menggerakkan sesuatu (tidak
bisa diam)
2) Berpindah-pindah
dari satu tugas ke tugas berikutnya tanpa menyelesaikan terlebih dahulu
3) Impulsif
F.
Kacau (distractibility)
1) Tidak
dapat membedakan stimulus yang penting dan tidak penting
2) Tidak
teratur, karena tidak memiliki urutan-urutan dalam proses berpikir
3) Perhatiannya sering
berbeda dengan apa yang sedang dikerjakan (melamun/berhayal saat belajar di
kelas)
Dari penjelasan di atas, dapat
dipahami bahwa ciri-ciri kesulitan belajar yang dialami oleh siswa, yaitu:
1. Dilihat
dari pesepsi visualnya, ciri-ciri kesulitan belajar yang dialami oleh siswa
seperti pada saat menulis, siswa sering menulis dengan salah satu huruf yang
tertinggal atau tidak lengkap.
2. Dilihat
dari persepsi auditori, ciri-cirinya seperti siswa sulit memahami perintah yang
disampaikan oleh guru.
3. Dilihat
dari segi bahasa, cirinya seperti siswa sulit memahami kalimat yang disampaikn
kepadanya serta sulit mengungkapkan apa yang sedang dipikirkannya.
1.2.2.
Faktor – Faktor yang Mempengaruhi
Kesulitan Belajar
Latar belakang terjadinya kesulitan belajar atau
ketidakberesan dalam belajar banyak sekali macam ragamnya. Tetapi bila penyebab
kesulitan belajar itu dikaitkan dengan faktor-faktor yang berperanan dalam
belajar, maka penyebab kesulitan belajar itu dapat dikelompokkan menjadi dua
kelompok besar yaitu faktor yang berasal dari dalam diri pelajar (faktor
internal) yang meliputi: kemampuan intelektual,afeksi seperti perasaan dan
percaya diri, motivasi, kematangan untuk belajar, usia, jenis kelamin,
kebiasaan belajar, kemampuan mengingat, dan kemampuan pengindraan seperti
melihat, mendengarkan, dan merasakan(Fontana, 1981). Sedang faktor yang berasal
dari luar pelajar (faktor eksternal) meliputi faktor-faktor yang berkaitan
dengan kondisi proses pembelajaran yang meliputi: guru, kualitas pembelajaran,
instrumen atau fasilitas pembelajaran baik yang berupa hardware maupun software
serta lingkungan, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam.
Menyimak
faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar tersebut di atas, maka
peserta didik mengalami kesulitan belajar atau ketidakberesan dalam belajar,
ditunjukkan oleh hasil belajar yang rendah. Hal ini disebabkan oleh berbagai
hal seperti yang dikemukakan oleh Noehi Nasution. (1992: 215)
1.
Rendahnya kemampuan intelektual anak 7.
Kebiasaan belajar yang kurang baik
2.
Gangguan perasaan atau emosi 8.
Kemampuan mengingat yang rendah
3.
Kurangnya motivasi untuk belajar 9.
Terganggunya alat-alat indera
4. Kurang matangnya anak untuk belajar 10. Proses belajar mengajar yang
tidak sesuai
5. Usia yang terlampau muda 11. Tidak adanya
dukungan dari lingkungan belajar.
Untuk lebih lengkapnya, pandangan ahli yang lain yang berkaitan dengan
permasalahan belajar yang dialami peserta didik, baik faktor internal maupun
eksternal. Dimyati dan Mudjiono(1994: 228-235) mengemukakan faktor-faktor
internal yang mempengaruhi proses belajar sebagai berikut:
1. Sikap terhadap belajar 7.
Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil kerja
2. Motivasi belajar 8. Rasa percaya diri siswa
3. Konsentrasi belajar 9. Inteligensi dan keberhasilan
belajar
4. Mengolah bahan ajar 10.
Kebiasaan belajar
5. Menyimpan perolehan hasil
belajar 11. Cita-cita siswa
Sedang faktor eksternal yang berpengaruh terhadap proses
belajar meliputi:
1. Guru sebagai Pembina
siswa belajar 4. Lingkungan
sosial siswa disekolah
2. Sarana dan prasarana
pembelajaran 5. Kurikulum
sekolah
3. Kebijakan penilaian
2.1.3. Prosedur Pelaksanaan Diagnosis Kesulitan
Belajar
Guru dalam proses pembelajaran menghadapi peserta
didik yang beranekaragam karakteristiknya. Perbedaan peserta didik berkaitan
dengan kapasitas intelektual, keterampilan, motivasi, sikap, kemampuan, minat,
latar belakang kehidupan keluarganya dan lain-lainnya. Perbedaan ini cenderung
berakibat adanya perbedaan dalam belajar bagi setiap peserta didik baik dalam
kecepatan belajarnya maupun keberhasilan belajar yang dicapainya.
Langkah-langkah melaksanakan diagnosis kesulitan
belajar yaitu :
1. Mengidentifikasi peserta didik yang diperkirakan
mengalami kesulitan belajar.
Dengan cara mengenali latar belakang baik psikologis
maupun non psikologis. Kasus kesulitan belajar dapat diketahui melalui :
a. Analisis Perilaku
Peserta didik yang mengalami kesulitan belajar dapat
diketahui melalui observasi atau laporan proses pembelajaran. Dalam proses
pembelajaran dapat diketahui :
1) Cepat lambatnya
menyelesaikan tugas
2) Kehadiran dan ketekunan dalam proses pembelajaran
3) Peran serta dalam mengerjakan tugas kelompok
4) Kemampuan kerjasama dan penyesuaian sosial
b. Analisis Prestasi Belajar
Dapat dilakukan dengan cara menghimpun dan
menganalisis hasil belajar serta menafsirkannya. Dalam menafsirkan hasil
belajar peserta didik harus menggunakan norma yaitu Penilaian Acuan Norma (PAN)
dan Penilaian Acuan Patokan (PAP)
2. Melokalisasi Letak Kesulitan Belajar
Dapat
kita lakukan dengan cara mengetahui dalam mata pelajaran atau bidang studi apa
kesulitan itu terjadi, kemudian aspek atau bagian mana kesulitan belajar itu
dirasakan oleh peserta didik. Untuk menemukan bidang studi apa peserta didik
mengalami kesulitan belajar dapat dilakukan dengan cara membandingkan skor
prestasi yang diperoleh peserta didik dengan nilai rata-rata dari masing-masing
bidang studi. Sedangkan untuk mengetahui aspek atau bagian mana kesulitan
belajar itu dirasakan oleh peserta didik dapat dilakukan dengan memeriksa hasil
pekerjaan tes.
3.
Menentukan Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
Dapat
dilakukan dengan cara meneliti faktor-faktor yang ada pada diri peserta didik
(internal) dan faktor-faktor yang berada di luar peserta didik (eksternal) yang
menghambat proses belajar dan atau pembelajaran.
4.
Memperkirakan Alternatif Bantuan
Langkah
yang akan ditempuh dengan cara menjawab beberapa pertanyaan berikut ini:
a. Apakah peserta didik masih mungkin ditolong untuk
mengatasi kesulitannya?
b. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengatasi
kesulitan peserta didik?
c. Kapan dan dimana pertolongan dapat diberikan kepada
peserta didik?
d.
Siapa yang dapat memberikan pertolongan?
1.3.
Peranan
Guru Dalam Pelaksanaan Bimbingan di Sekolah
Peranan guru dalam bimbingan di
sekolah dapat di bedakan menjadi dua, yaitu : (a) tugas dalam layanan bimbingan
dalam kelas dan (b) di luar kelas.
a. Tugas Guru dalam Layanan Bimbingan di kelas
Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya
(1985) mengemukakan beberapa hal yang harus diperhatikan guru dalam proses
belajar-mengajar sesuai dengan fungsinya dan pembimbing, yaitu :
a) Perlakuan
terhdap siswa didasarkan atas keyakinan bahwa sebagai individu, siswa memiliki
potensi untuk dikembangkan dan maju serta mampu mengarahkan dirinya sendiri
untuk madiri.
b) Sikap
yang positif dan wajar terhadap siswa
c) Pemahaman
siswa secara empatik
d) Penerimaan
siswa apa adanya
e) Penghargaan
terhadap martabat siswa sebagai individu
Abu Ahmadi (1977) mengemukakan peran
guru sebagai pembimbing dalam melaksanakan proses belajar-mengajar, sebagai
berikut :
a) Menyediakan
kondisi dan kesempatan bagi setiap siswa untuk memperoleh hasil yang lebih
baik.
b) Membantu
memilih jabatan yang cocok, sesuai dengan bakat, kemampuan dan minatnya.
c) Mengusahakan
siswa-siswa agar dapat memahami dirinya, kecakapan-kecakapan sikap, minat, dan
pembawaannya.
d) Mengembangkan
sikap-sikap dasar bagi tingkah laku sosial yang baik.
Di samping tugas-tugas tersebut, guru juga dapat melakukan tugas bimbingan
dalam proses pembelajaran seperti berikut :
a) Melaksanakan kegiatan
diagnostic kesulitan belajar.
b) Memberikan bantuan
sesuai dengan kemampuan dan kewenangannya kepada murid dalam memecahkan masalah
pribadi.
b. Tugas Guru dalam Operasional Bimbingan di Luar
Kelas
Tugas-tugas guru dalam
layanan bimbingan di luar kelas antara lain :
a) Memberikan
pengajaran perbaikan (remedial teaching)
b) Memberikan
pengayaan dan pengembangan bakat siswa
c) Melakukan
kunjungan rumah (home visit)
d) Menyelenggarakan
kelompok belajar
1.3.1. Kerjasama Guru dengan Konselor dalam
Layanan Bimbingan
Dalam kegiatan-kegiatan belajar-mengajar sangat diperlukan
adanya kerja sama antara guru dengan konselor demi tercapainya tujuan yang
diharapkan. Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) mengutip pendapat Miller
yang mengatakan bahwa :
a) Proses
belajar menjadi sangat efektif, apabila bahan yang dipelajari dikaitkan
langsung dengan tujuan-tujuan pribadi siswa.
b) Guru
yang memahami siswa dan masalah-masalah yang dihadapinya, lebih peka terhadap
hal-hal yang dapat memperlancar dan mengganggu kelancaran kelas.
c) Guru
dapat memperhatikan perkembangan masalah atau kesulitan siswa secara lebih
nyata.
Guru juga mempunyai beberapa keterbatasan. Menurut Koestoer Partowisastro
(1982) keterbatasan-keterbatasan guru tersebut antara lain :
a) Guru
tidak mungkin lagi menangani masalah-masalah siswa yang bermacam-macam, karena
guru tidak terlatih untuk melaksanakan tugas itu.
b) Guru
sendiri sudah berat tugas mengajarnya, sehingga tidak mungkin lagi di tambah
tugas yang banyak untuk memecahkan masalah-masalah siswa.
1.3.2. Cara Mengatasi Kesulitan Belajar
Peranan
guru sangat penting dalam pelaksanaan proses pembelajaran, selain sebagai nara
sumber guru juga merupakan pembimbing dan pengayom bagi para murid yang ada
dalam suatu kelompok belajar. Hal tersebut sesuai dengan ungkapan T. Rustandy
(1996 : 71) yang mengatakan bahwa : Guru memegang peranan sentral dalam proses
pembelajaran, memiliki karakter dan kepribadian masing-masing yang tercermin
dalam tingkah laku pada waktu pelaksanaan proses pembelajaran. Pola tingkah
laku guru dalam proses pembelajaran biasanya ditiru oleh siswa dalam perjalanan
hidup sehari-hari, baik di lingkungan keluarga ataupun masyarakat, karena
setiap siswa mempunyai keragaman dalam hal kecakapan maupun kepribadian.
Keragaman kecakapan dan kepribadian ini mempengaruhi terhadap situasi yang dihadapi
dalam proses pembelajaran. Tetapi menurut Brenner (1990) sebenarnya pendidikan
anak prasekolah terefleksi dalam alat-alat perlengkapan dan permainan yang
tersedia, cara perlakuan guru terhadap anak, adegan dan desain kelas, serta
bangunan fisik lainnya yang disediakan untuk anak. (M. Solehuddin, 1997 : 55). Beberapa
cara mengatasi kesulitan dalam belajar dapat dilakukan dengan cara belajar yang
efektif dan efisien. Cara demikian merupakan problematika yang perlu
mendapatkan perhatian cukup serius. Orang tua dan guru kelas kerap kali
memberikan saran-saran kepada siswa agar rajin belajar karena rajin adalah
pangkal cerdas. Orang cerdas akan mampu mengembangkan dirinya sesuai dengan
perkembangan zaman yang serba kompleks.Berikut ini beberapa alternatif dalam
kesulitan belajar :
1. Observasi Kelas
1. Observasi Kelas
Pada tahap
ini observasi kelas dapat membantu mengurangi kesulitan dalam tingkat
pelajaran, misalnya memeriksa keadaan secara fisik bagaimana kondisi kelas
dalam kegiatan belajar, cukup nyaman, segar, sehat dan hidup atau tidak. Kalau
suasana kelas sangat nyaman, tenang dan sehat, maka itu semua dapat memotivasi
siswa untuk belajar lebih semangat lagi.
2. Pemeriksaan Alat Indera
2. Pemeriksaan Alat Indera
Dalam hal ini dapat difokuskan pada tingkat kesehatan siswa khusus
mengenai alat indera. Diupayakan minimal dalam sebulan sekali pihak sekolah
melakukan tes atau pemeriksaan kesehatan di Puskesmas / Dokter, karena tingkat
kesehatan yang baik dapat menunjang pelajaran yang baik pula. Maka dari itu,
betapa pentingnya alat indera tersebut dapat menstimulasikan bahan pelajaran
langsung ke diri individu.
3. Teknik Main Peran
Disini, seorang guru bisa berkunjung ke rumah seorang murid. Di
sana seorang guru dapat leluasa melihat, memperhatikan murid berikut semua yang
ada di sekitarnya. Di sini guru dapat langsung melakukan wawancara dengan orang
tuanya mengenai kepribadian anak, keluarga, ekonomi, pekerjaan dan lain-lain.
Selain itu juga, guru bisa melihat keadaan rumah, kondisi dan situasinya dengan
masyarakat secara langsung.
4. Tes Diagnostik Kecakapan/Tes IQ/Psikotes
Dalam hal ini seorang guru dapat mengetahui sejauh mana IQ
seseorang dapat dilihat dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan praktis dan
sederhana. Dengan latihan psikotes dapat diambil beberapa nilai kepribadian
siswa secara praktis dari segi dasar, logika dan privasi seseorang.
5. Menyusun Program Perbaikan
Penyusunan program hendaklah dimulai dari segi pengajar
dulu. Seorang pengajar harus menjadi seorang yang konsevator, transmitor,
transformator, dan organisator. Selanjutnya lengkapilah beberapa alat peraga
atau alat yang lainnya yang menunjang pengajaran lebih baik, karena dengan
kelengkapan-kelengkapan yang lebih kompleks, motivasi belajarpun akan dengan
mudah didapat oleh para siswa. Hendaklah semua itu disadari sepenuhnya oleh
para pengajar sehingga tidak ada lagi kendala dan hambatan yang dapat
mempengaruhi kegiatan belajar. Selain itu tingkat kedisiplinan yang diterapkan
di suatu sekolah dapat menunjang kebaikan dalam proses belajar. Disiplin dalam
belajar akan mampu memotivasi kegiatan belajar siswa. Alternatif lain yang
dapat diambil guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswanya. Akan tetapi
sebelum pilihan tertentu diambil, guru sangat diharapkan untuk terlebih dahulu
melakukan beberapa langkah berikut ini :
a. Menganalisis hasil diagnosis, yakni menelaah
bagian-bagian masalah dan hubungan antar bagian tersebut untuk memperoleh
pengertian yang benar mengenai kesulitan belajar yang dihadapi siswa.
b. Mengidentifikasi dan menentukan bidang kecakapan
tertentu yang memerlukan adanya perbaikan.
c. Menyusun program perbaikan.
Dalam menyusun program pengajaran perbaikan diperlukan adanya
ketetapan sebagai berikut:
a. Tujuan pengajaran remedial
a. Tujuan pengajaran remedial
Contoh dari tujuan pengajaran remedial yaitu siswa dapat
memahami kata “tinggi”, “pendek” dan “gemuk” dalam berbagai konteks kalimat.
b. Materi pengajaran remedial
b. Materi pengajaran remedial
Contoh materi pengajaran remedial yaitu dengan cara lebih
khusus dalam mengembangkan kalimat-kalimat yang menggunakan kata-kata seperti
di atas.
c. Metode pengajaran remedial
c. Metode pengajaran remedial
Contoh metode pengajaran remedial yaitu dengan cara siswa
mengisi dan mempelajari hal-hal yang dialami oleh siswa tersebut dalam
menghadapi kesulitan belajar.
d. Alokasi waktu
d. Alokasi waktu
Contoh alokasi waktu remedial misalnya waktunya Cuma 60
menit.
e. Teknik evaluasi pengajaran remedial
e. Teknik evaluasi pengajaran remedial
Contoh teknik evaluasi pengajaran remedial yaitu dengan
menggunakan tes isian yang terdiri atas kalimat-kalimat yang harus
disempurnakan, contohnya dengan menggunakan kata tinggi, kata pendek, dan kata
gemuk.
Selanjutnya untuk memperluas wawasan pengetahuan mengenai
alternatif-alternatif atau cara-cara pemecahan masalah kesulitan belajar siswa,
guru sangat dianjurkan mempelajari buku-buku khusus mengenai bimbingan dan
penyuluhan. Selain itu, guru juga sangat dianjurkan untuk mempertimbangkan
penggunaan model-model mengajar tertentu yang dianggap sesuai sebagai
alternatif lain atau pendukung cara memecahkan masalah kesulitan belajar siswa.
Keaktifan siswa tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi juga dari segi kejiwaan. Bila hanya fisik anak yang aktif, tetapi fikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini sama halnya dengan siswa tidak belajar, karena siswa tidak merasakan perubahan di dalam dirinya, padahal pada hakekatnya belajar adalah “perubahan” yang terjadi dalam diri seseorang yang telah berakhirnya melakukan aktivitas belajar.
Penerapan sikap dan pembentukan kepribadian pada diri siswa harus dioptimalkan, mengingat keberhasilan suatu proses pembelajaran bukan diukur oleh adanya penambahan dan perubahan pengetahuan serta keterampilan saja, namun nilai sikap harus terakomodasi, sebab dengan perubahan sikap akan menentukan terhadap perubahan kognitif ataupun psikomotor.
Sama halnya dengan belajar, mengajar pun pada hakekatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar. Pada tahap berikutnya mengjar adalah proses memberikan bimbingan, bantuan kepada siswa dalam melakukan proses belajar.
Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah interaksi antara guru dengan peserta didik dan antara peserta didik dengan peserta didik lainnya, serta dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan tingkah laku pada diri peserta didik. Agar proses belajar mengajar tersebut berlangsung secara efektif selain diperlukan alat peraga sebagai pelengkap yang digunakan guru dalam berinteraksi dengan peserta didik diperlukan pula aturan dan tata tertib yang baku agar dalam pelaksanaannya teratur dan tidak menyimpang.
Keaktifan siswa tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi juga dari segi kejiwaan. Bila hanya fisik anak yang aktif, tetapi fikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini sama halnya dengan siswa tidak belajar, karena siswa tidak merasakan perubahan di dalam dirinya, padahal pada hakekatnya belajar adalah “perubahan” yang terjadi dalam diri seseorang yang telah berakhirnya melakukan aktivitas belajar.
Penerapan sikap dan pembentukan kepribadian pada diri siswa harus dioptimalkan, mengingat keberhasilan suatu proses pembelajaran bukan diukur oleh adanya penambahan dan perubahan pengetahuan serta keterampilan saja, namun nilai sikap harus terakomodasi, sebab dengan perubahan sikap akan menentukan terhadap perubahan kognitif ataupun psikomotor.
Sama halnya dengan belajar, mengajar pun pada hakekatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar. Pada tahap berikutnya mengjar adalah proses memberikan bimbingan, bantuan kepada siswa dalam melakukan proses belajar.
Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah interaksi antara guru dengan peserta didik dan antara peserta didik dengan peserta didik lainnya, serta dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan tingkah laku pada diri peserta didik. Agar proses belajar mengajar tersebut berlangsung secara efektif selain diperlukan alat peraga sebagai pelengkap yang digunakan guru dalam berinteraksi dengan peserta didik diperlukan pula aturan dan tata tertib yang baku agar dalam pelaksanaannya teratur dan tidak menyimpang.
Dari hakikat proses belajar mengajar, pembelajaran
merupakan proses komunikasi, maka pembelajaran seyogyanya tidak atraktip
melainkan harus demokrasi. Siswa harus menjadi subjek belajar, bukan hanya
menjadi pendengar setia atau pencatat yang rajin, tetapi siswa harus aktif dan
kreatif dalam berbagai pemecahan masalah. Dengan demikian guru harus dapat
memilih dan menentukan pendekatan dan metode yang disesuaikan dengan
kemampuannya, kekhasan bahan pelajaran, keadaan sarana dan keadaan siswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar