Translate

Sabtu, 29 November 2014

Profesi Kependidikan Diagnostik Kesulitan Belajar 1

1.1.      Program Bimbingan di Sekolah
Program bimbingan dan konseling merupakan bagian yang terpadu dari keseluruhan program pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, upaya guru pembimbing maupun berbagai aspek yang tercakup merupakan bagian tidak dapat dipisahkan dari seluruh bagian kegiatan yang diarahkan kepada pencapaian tujuan pendidikan di lembaga yang bersangkutan.


1.1.1.      Pengertian Program Bimbingan
Menurut pendapat Hotch dan Costor  yang dikutip oleh Gipson dan Mitchell (1981) program bimbingan dan konseling adalah suatu program yang memberikan layanan khusus yang dimaksudkan untuk membantu individu dalam mengadakan penyesuaian diri. Program bimbingan itu menyangkut dua faktor, yaitu: (1) faktor pelaksana atau orang yang akan menberikan bimbingan, dan (2) faktor-faktor yang berkaitan perlengkapan, metode, bentuk layanan siswa-siswa, dan sebagainya, yang mempunyai kaitan dengan kegiatan bimbingan (Abu Ahmadi, 1997).
Program bimbingan memberikan arah yang jelas dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan efisien dan efektif.Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) menyatakan bahwa program bimbingan yang disusun dengan baik dan rinci akan memberikan banyak keuntungan , seperti :
a)      Memungkinkan para petugas menghemat waktu, usaha, biaya, dan menghindari kesalahan-kesalahan, dan usaha coba-coba yang tidak menguntungkan
b)      Memungkinkan siswa untuk mendapatkan layanan bimbingan secara seimbang dan menyeluruh, baik dalam hal kesempatan ataupun dalam jenis layanan bimbingan yang diperlukan
c)      Memungkinkan setiap petugas mengetahui dan memahami peranannya masing-masing dan mengetahui bagaimana dan dimana mereka harus melakukan upaya secara tetap
d)     Memungkinkan para petugas untuk menghayati pengalaman yang sangat berguna untuk kemajuannya sendiri dan untuk kepentingan siswa yang dibimbinganya.
            Pendapat ini menekankan perlunya rumusan program bimbingan yang jelas dan sistematik. Keberhasilan dalam merumuskan program yang demikian, merupakan titik awal keberhasilan pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling disekolah.


1.1.2.      Langkah-Langkah Penyusunan Program Bimbingan
Dalam penyusunan program bimbingan perlu ditempuh langkah-langkah seperti dikemukakan oleh Miller yang dikutip oleh Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) seperti berikut :
a)            Tahap Persiapan
Langkah ini dilakukan melalui survei untuk menginventarisasi tujuan, kebutuhan dan kemampuan sekolah, serta kesiapan sekolah yang bersangkutan untuk melaksanakan program bimbingan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menentukan langkah awal pelaksanaan program.
b)            Pertemuan-pertemuan permulaan dengan para konselor yang telah ditunjuk oleh pemimpin sekolah.
Tujuan pertemuan ini untuk menyamakan pemikiran tentang perlunya program bimbingan, serta merumuskan arah program yang akan disusun.
c)            Pembentukan panitia sementara untuk merumuskan program bimbingan.
Panitia ini bertugas merumuskan tujuan program bimbingan yang akan disusun, mempersiapkan bagan organisasi dari program tersebut, dan membuat kerangka dasar dari program bimbingan yang akan disusun.
d)           Pembentukan panitia penyelenggara program.
Panitia ini bertugas mempersiapkan program tes, mempersiapkan dan melaksanakan sistem pencatatan, dan melatih para pelaksana program bimbingan untuk melaksanakan kegiatan tersebut.  
e)      Penyusunan program bimbingan dan konseling di sekolah hendaknya dirumuskan dan diinventarisasikan berbagai fasilitas yang ada.
f)       Penyusunan program bimbingan dan konseling hendaknya merumuskan masalah-masalah yang dihadapi.
Di samping rumusan tentang langkah-langkah penyusunan program bimbingan sebagaimana dikemukakan itu, berikut ini dapat pula disajikan langkah-langkah penyusunan program bimbingan yang sederhana, yaitu :
a)      Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan sekolah terutama yang ada kaitannya dengan bimbingan.
Pada kegiatan ini dapat dilakukan pertemuan – pertemuan dengan personel sekolah lainnya guna mendapatkan masukan (input) mengenai berbagai hal yang perlu ditangani oleh konselor.
b)      Setelah data terkumpul perlu dilakukan penentuan urutan prioritas kegiatan yang akan dilakukan, dan sekaligus menyusun konsep program bimbingan yang akan dilakukan dalam kurun waktu tertentu.
Dalam kegiatan ini juga ditentukan personalia yang akan melaksanakan program kegiatan itu serta sasaran dari program tersebut.
c)   Konsep program bimbingan dibahas bersama kepala sekolah dan bila perlu mengundang personel sekolah untuk memperoleh balikan guna penyempurnaan program tersebut.
d)  Penyempurnaan konsep program yang telah di bahas bersama kepala sekolah.
e)   Pelaksanaan program yang telah direncanakan
f)   Evaluasi
   Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui bilamana ada bagian – bagian yang tidak terlaksana dan seterusnya dicari faktor penyebabnya.
g)      Revisi
      Demikian seterusnya, sehingga terwujudlah program bimbingan yang lebih sempurna. Terciptanya program bimbingan yang baik telah merupakan sebagian dari keberhasilan pelaksanaan bimbingan dan konseling itu sendiri.

1.1.3.       Variasi Program Bimbingan menurut jenjang Pendidikan

Layanan bimbingan dan konseling disekolah seharusnya dilaksanakan secara terus – menerus, mulai dari jenjang pendidikan terendah (taman kanank-kanak) sampai jenjang pendidikan tertinggi (perguruan tinggi). Secara ideal kegiatan tersebut seharusnya berkesinambungan. Meskipun demikian layanan bimbingan tersebut mempunyai penekanan- penekanan yang berbeda-beda untuk setiap jenjang pendidikan. Hal ini mengingat kebutuhan dan perkembangan anak untuk setiap jenjang pendidikan juga berbeda.  Winkel (1991) memberikan rambu-rambu yang perlu diperhatikan dalam menyusun program bimbingan di tingakt pendidikan tertentu, yaitu :
a.   Menyusun tujuan pendidikan tertentu,seperti yang telah dirumuskan. Tujuan pendidikan disekolah dasar, jelas berbeda dengan tujuan  pendidikan disekolah menengah pertama,dan seterusnya.
b.   Menyusun tugas-tugas perkembangan dan kebutuhan-kebutuhan peserta didik pada tahap perkembangan tertentu
c.   Menyusun pola dasar yang dipedomani dalam memberikan layanan
d.   Menentukan komponen-komponen bimbingan yang diprioritaskan
e.   Menentukan bentuk bimbingan yang sebaiknya diutamakan, seperti bimbingan kelompok atau bimbingan individual atau bimbingan pribadi, bimbingan akademik atau bimbingan karier, dan sebagainya.
f.    Menentukan tenaga-tenaga bimbingan yang dapat dimanfaatkan, misalnya konselor, guru atau tenaga ahli lainnya.
Berdasarkan rambu – rambu tersebut, program bimbingan untuk masing – masing jenjang pendidikan dapat dirumuskan dengan tepat sesuai dengan karakteristiknya. Selain itu, program bimbingan hendaknya disesuiakan dengan keadaan individu yang akan dilayani.

Pendidikan Taman Kanak-Kanak
Taman kanak – kanak sebenarnya belum termasuk jenjang pendidikan formal dan lebih dikenal dengan pendidikan prasekolah. Pendidikan formal terendah adalah sekolah dasar (SD). Meskipun demikian menurut Winkel(1991) tenaga – tenaga pendidik di taman kanak – kanank juga dituntut untuk memberikan layanan bimbingan. Hal ini, dikuatkan dalam Pedoman Bimbingan dan Penyuluhan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1980 buku III C, dalam rangka pelaksanaan kurikulum taman kanak – kanak 1976.
Layanan bimbingan dan konseling di taman kanak-kanak hendaknya ditekankan pada :
a)      Bimbingan yang berkaitan dengan kemandirian dan keharmonisan dalam menjalin hubungan sosial dengan teman-teman sebayanya.
b)      Bimbingan pribadi,seperti pemupukan disiplin diri dan memahami perintah.
Di samping itu, layanan bimbingan untuk anak  taman kanak-kanak perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan psikologis, seperti pemberian kasih sayang dan perasaan aman.
Guru di taman kanak-kanak perlu membantu anak didik mengembangkan semua dimensi perkembangannya. Guru tidak hanya berperan sebagai pendidik tetapi juga sebagai pembimbing yang dapat memfasilitasi tumbuh kembangnya anak secara optimal. Pemahaman tentang tumbuh kembang anak dengan berbagai permasalahan mungkin dialami anak menjadi aspek penting yang harus dikuasai seorang guru taman kanak-kanak. Artinya, dalam melaksanakan fungsinya, seorang guru perlu memiliki wawasan yang cukup tentang perkembangan anak. Tidak semua anak mengalami perkembangan yang mulus dan lancar, ada anak yang menunjukkan kecenderungan adanya masalah yang berkenaan dengan masalah perkembangan fisik-motorik, intelektual, sosial, emosi maupun bahasa. Bimbingan di taman kanak-kanak merupakan suatu kegiatan yang cukup unik dan juga cukup menantang. Kondisi ini terjadi karena bimbingan bagi anak taman kanak-kanak sangat jauh berbeda dengan bimbingan bagi siswa sekolah lainnya seperti siswa SD, SMP atau SMA. Bimbingan di taman kanak-kanak memiliki karakteristik tersendiri. Hal ini terjadi karena masih terbatasnya pola pikir dan pemahaman anak sehingga pola bimbingan yang diberikan harus disesuaikan dengan pola pikir dan pemahaman anak yang masih sangat sederhana. Kondisi lain yang menyebabkan bimbingan di taman kanak-kanak bersifat unik karena sangat sulit memisahkan kegiatan bimbingan dengan kegiatan pembelajaran..
Guru tidak hanya bertugas menciptakan proses pembelajaran bagi anak tapi guru juga harus mampu berperan sebagai seorang pembimbing. Petugas bimbingan untuk jenjang pendidikan taman kanak-kanak masih sangat jarang, petugas bimbingan lebih banyak berkiprah pada jenjang pendidikan sekolah menengah. Oleh karenanya, tugas bimbingan menjadi tugas lain seorang guru di taman kanak-kanak. Dalam melaksanakan bimbingan, guru juga memiliki keterbatasan lain. Dalam waktu 2 – 2,5 jam pembelajaran di taman kanak-kanak, guru harus mampu melaksanakan kegiatan pengajaran juga bimbingan dan latihan. Keterbatasan peran guru yang merangkap sebagai pengajar dan pembimbing disertai jumlah waktu yang relatif singkat mengharuskan guru memiliki kemampuan tersendiri guna merencanakan dan melaksanakan program dan layanan bimbingannya. Pelaksanaan program dan layanan bimbingan untuk anak taman kanak-kanak sangatlah jauh berbeda dengan pelaksanaan program dan layanan bimbingan pada jenjang sekolah yang lebih tinggi. Selama ini banyak guru yang terjebak pada suatu konsep bimbingan yang keliru. Artinya mereka kurang menyadari adanya kesalahan konsepsi dan praktek bimbingan di taman kanak-kanak. Kesalahan konsep tersebut sudah cukup meluas sehingga seolah-olah sudah dianggap wajar.


Program Bimbingan di Sekolah Dasar
Hingga saat ini pelaksanaan bimbingan disekolah dasar belum dapat terlaksana dengan baik sebagaimana di sekolah menengah. Dalam kurun waktu yang relatif tidak lama di harapkan pelaksanaan kegiatan bimbingan disekolah dasar dapat terwujud, mengingat makin hari, makin bertambah jumlah anak – anak usia sekolah dasar yang memerlukan konsultasi karena mengalami berbagai macam masalah.
Program kegiatan bimbingan dan konseling untuk siswa-siswa sekolah dasar lebih menekankan pada usaha pencapaian tugas-tugas perkembangan mereka antara lain mengatur kegiatan belajarnya dengan bertanggung jawab, dapat berbuat dengan cara-cara yang dapat diterima oleh orang dewasa serta teman-teman sebayanya, mengembangkan kesadaran moral berdasarkan nilai-nilai kehidupan dengan membentuk kata hati (Winkel, 1991). Disamping itu program bimbingan hendaknya mengacu kepada tujuan umum di SD yaitu memiliki sifat-sifat dasar sebagai warga negara yang baik, menikmati kesehatan jasmani dan rohani, memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap dasar yang diperlukan untuk melanjutkan pelajaran, bekerja di masyarakat, dan mengembangkan diri sesuai dengan asas pendidikan seumur hidup. Dengan demikian arah penyusunan program bimbingan di sekolah dasar tidak terlepas dari usaha pencapaian tugas – tugas perkembangan anak – anak usia sekolah dasar.
Berkenaan dengan penyusunan program bimbingan disekolah dasar, Gibson dan Mitchell (1981) mengemukakan beberapa faktor yang harus dipertimbangkan, seperti :
a)      Kegiatan bimbingan di SD hendaknya lebih menekankan pada aktivitas-aktivitas belajar
b)      Di SD masih menggunakan sistem guru kelas sehingga seandainya ada anak yang tidak disenangi guru, maka akan lebih fatal akibatnya
c)      Adanya kecenderungan seorang  anak bergantung kepada teman sebayanya
d)     Minat orang tua dominan mempengaruhi nilai kehidupan anak
e)      Masalah-masalah yang timbul di tingkat SD, tidak terlalu kompleks.

Program Bimbingan di Sekolah Menengah Pertama

Suasana belajar di SMP berbeda dengan kegiatan di sekolah dasar, terutama dalam sistem belajarnya. Belajar disekolah dasar (SD) umumnya diasuh oleh guru kelas, sedangkan di SMP diasuh oleh guru bidang studi. Oleh karena itu, para siswa sekolah menengah pertama dituntut untuk menyesuaikan diri dengan guru yang bervariasi. Siswa dituntut untuk lebih mandiri khusunya dalam belajar. Mereka tidak lagi dapat menuntut bantuan dari orang tua dalam menyelesaikan tugas- tugas sekolah seperti halnya pada saat mereka duduk di SD. Kondisi – kondisi seperti itulah yang menuntut agar program bimbingan dan konseling di SMP berbeda dengan di SD. Program bimbingan di SMP seharusnya lebih bervariasi dan lebih kompleks.
Selain itu, program bimbingan dan konseling untuk sisiwa SMP hendaknya berorientasi kepada pencapaian tugas-tugas perkembangannya. Dalam hal ini, Winkel(1991) mengemukakan tugas – tugas perkembangan untuk siswa/anak pada tingkat SMP antara lain; menerima peranannya sebagai pria atau wanita, memperjuangkan taraf kebebasan yang wajar dari orang tua dan orang – orang dewasa lainnya, menambah bekal pengetahuan dan pemahaman untuk pendidikan lanjutan, serta mengembangkan kata hati sesuai dengan nilai- nilai kehidupan.
Hambatan dari pencapaian tugas – tugas perkembangan tersebut antara lain; kurang kepercayaan diri, kurangnya kepekaan perasaan, sering timbulnya kegelisahan, dan kurangnya semangat kerja keras. Dengan adanya kenyataan yang dialami oleh anak- anak tersebut, program bimbingan hendaknya diarahkan atau ditekankan pada penanggulangan masalah itu sehingga mereka dapat mencapai tugas - tugas perkembangannya dengan baik.
 Secara garis besar program bimbingan dan konseling di SMP hendaknya berorientasi kepada :
a)            Bimbingan belajar, karena cara belajar di SMP berbeda dengan di SD
b)      Bimbingan tentang hubungan muda – mudi, karena pada usia ini mereka mulai mengenal hubungan cinta kasih
c)      Pada usia ini mereka mulai membentuk kelompok sebaya (peer group), maka program bimbingan hendaknya juga menangani masalah – masalah yang berkaitan dengan hubungan sosial
d)     Bimbingan yang berorientasi pada tugas-tugas perkembangan anak usia 12-15 tahun
e)       Bimbingan karier baik yang menyangkut pemahaman tentang dunia pendidikan atau pekerjaan.



Program Bimbingan di Sekolah Menengah Atas

Program bimbingan dan konseling di SMA hendaknya lebih lengkap dan luas cakupannya dibandingkan dengan program layanan di jenjang pendidikan dibawahnya. Pada jenjang pendidikan di SMA para siswa berada dalam masa remaja. Usia mereka berada pada masa transisi. Kehidupan kekanak-kanaknya sudah ditinggalkan, namun kehidupan sebagai orang dewasa belum mapan. Dengan demikian, mereka berada di daerah marginal yaitu daerah kabur. Akibatnya mereka kehilangan identitas, dan berusaha mencari identitas kembali dengan berbagai cara dan gayanya. Kadang-kadang pola berpikir, berperasaan, dan perilakunya menyimpang dari pola kehidupan anak – anak ataupun orang dewasa.
Disamping itu, mereka dituntut untuk mencapai tugas-tugas perkembangan yang dituntut dari mereka. Cole(1959) mengemukakan beberapa tugas-tugas perkembangan pada usia remaja (siswa SMA) yaitu bertujuan untuk mencapai:1) kematangan emosional, 2) kemantapan minat terhadap lawan jenis, 3) kematangan sosial, 4) kebebasan diri dari kontrol orang tua, 5) kematangan intelektual, 6) kematangan dalam pemilihan pekerjaan, 7) efisiensi penggunaan waktu luang, 8) kematangan dalam memahami falsafah hidup, dan 9) kematngan dalam kemampuan mengidentifikasi diri. Dengan demikian, program bimbingan dan konseling di SMA hendaknya dapat mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi siswa, sehingga mereka dapat mencapai tugas-tugas perkembangan dengan baik. Oleh sebab itu, program bimbingan di SMA berorientasi pada :
a)      Hubungan muda-mudi / hubungan sosial
b)      Pemberian informasi pendidikan dan jabatan
c)      Bimbingan cara belajar

Program Bimbingan di Perguruan Tinggi

Tugas – tugas perkembangan pada usia dewasa menuntut seseorang untuk lebih mandiri, dan berdisiplin diri. Mereka dituntut untuk mampu mengembangkan sikap membina ilmu demi kemajuan bangsanya. Mereka hendaknya mampu mengembangkan kepribadiannya sesuai dengan potensi-potensi yang dimiliki dan mampu merencanakan masa depan sesuai dengan keadaan dirinya.
Oleh sebab itu, arah program bimbingan di perguruan tinggi sedikit berbeda dengan program yang ada dilembaga pendidikan yang lebih rendah (sekolah). Hal ini disebabkan karena adanya hal-hal yang lebih spesifik dalam perkembangan diri mahasiswa. Pola berpikirnya sudah lebih matang dan mereka berusaha mencurahkan segala tenaga dan pikirannya untuk memecahkan berbagai masalah (ekonomi), pekerjaan tuntutan akademik, dan masalah pernikahan.
Disamping itu, mahasiswa juga dituntut untuk menyesuaikan diri dengan pola kehidupan kampus dan di luar kampus. Pola kehidupan kampus lebih menekankan kepada aspek akademik, seperti cara belajar mandiri, cara mengatur waktu, menimbulkan motivasi belajar, memilih program studi dan menjalin hubungan sosial. Masalah – masalah diluar kampus yang mungkin timbul adalah masalah biaya pendidikan, fasilitas belajar, tempat tinggal, makanan yang bergizi, dan sebagainya.
Efektivitas dan efesiensi program bimbingan dapat terwujud bila diarahkan kepada masalah-masalah sebagaimana digambarkan diatas. Oleh sebab itu, program bimbingan di perguruan tinggi hendaknya berorientasi kepada :
a)      Bimbingan belajar di perguruan tinggi atau bimbingan yang bersifat akademik
b)      Hubungan sosial dan hubungan muda-mudi.

1.1.4.      Tenaga Bimbingan di Sekolah Beserta Fungsi dan Peranannya
            Layanan bimbingan dan konseling merupakan bagian yang integral dari keseluruhan proses pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah menjadi tanggung jawab bersama antara personel sekolah (Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya 1985). Dengan demikian, diperlukan adanya keterpaduan dan kebersamaan di antara personel sekolah dalam pelaksanaan bimbingan.
  Kepala Sekolah
            Dalam pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah, kepala sekolah mempunyai tugas sebagai berikut :
a)      Membuat rencana atau program sekolah secara menyeluruh
b)      Mendelegasikan tanggung jawab tertentu dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling
c)      Mengawasi pelaksanaan program
d)     Melengkapi dan menyediakan kebutuhan fasilitas bimbingan dan konseling
e)      Mempertanggungjawabkan program tersebut baik di dalam maupun di luar sekolah
f)       Mengadakan hubungan dengan lembaga-lembaga dalam rangka kerjasama pelaksanaan bimbingan.

 Konselor
              Peran dan tugas konselor di sekolah dalam kegiatan bimbingan dan konseling adalah :
a)      Menyusun program bimbingan dan konseling bersama kepala sekolah
b)      Bertanggung jawab terhadap jalannya program
c)      Memberikan laporan kegiatan kepada kepala sekolah
d)     Menerima dan mengklasifikasikan informasi pendidikan
e)     Menganalisis dan menafsirkan data siswa
f)      Menyelenggarakan pertemuan staf
g)     Melaksanakan bimbingan kelompok dan konseling individual
h)      Menilai proses dan hasil pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling
i)        Melakukan studi kelayakan
j)        Berkolaborasi dengan guru mata pelaajran
k)      Mengadministrasikan kegiatan program pelayanan bimbingan dan konseling.

Wali Kelas
            Peran dan tanggung jawab wali kelas adalah :
a)      Mengumpulkan data tentang siswa
b)      Mengadakan kegiatan orientasi
c)      Mengobservasi kegiatan siswa di rumah
d)     Meneliti kemajuan dan perkembangan siswa
e)      Bekerja sama dengan konselor dalam mengadakan pemeriksaan
f)       Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan maslah peserta didik.

Guru/Pengajar
            Tugas dan tanggung jawab guru dalam kegiatan ini adalah :
a)      Turut serta aktif dalam membantu melaksanakan kegiatan program BK
b)      Memberikan informasi kepada siswa
c)      Meneliti kesulitan dan kemajuan siswa
d)     Memberikan layanan intruksional
e)      Mengadakan hubungan dengan orang tua siswa
f)       Mengidentifikasi bakat siswa

Petugas Administrasi
            Tugas dan tanggung jawab petugas administrasi dalam kegiatan bimbingan dan konseling adalah :
a)      Mengisi kartu pribadi siswa
b)      Menyimpan catatan-catatan dan data lainnya
c)      Menyelesaikan laporan dan pengumpuilan data tentang siswa
d)     Menyiapkan alat-alat atau formulir-formulir pengumpulan data siswa

1.1.5.      Mekanisme Implementasi Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah

Untuk melaksanakan program bimbingan dan konseling di sekolah, konselor beserta personel sekolah perlu memperhatikan komponen kegiatan sebagai berikut :

a.      Komponen Pemrosesan Data
Kegiatan layanan bimbingan dan konseling di sekolah meliputi beberapa aspek, yaitu : (1) pengumpulan data, (2) pengklasifikasian, (3) penyediaan data yang diperlukan, (4) penyimpanan, (5) penafsiran. Data yang perlu diproses adalah tentang keadaan siswa di sekolah yang meliputi : (1) kemampuan skolastik, (2) cita-cita, (3) hubungan sosial, (4) minat terhadap mata pelajaran, (5) kebiasaan belajar, (6) kesehatan fisik, (7) pekerjaan orang tua, (8) keadaan keluarga.

b.      Komponen Kegiatan Pemberian Informasi
Komponen ini terdiri : (1) pemberian orientasi kehidupan sekolah kepada siswa. (2) pemberian informasi tentang program studi kepada siswa yang dipandang memerlukannya, (3) pemberian informasi jabatan kepada siswa, (4) pemberian informasi pendidikan lanjutan.

c.       Komponen Kegiatan Konseling
Konseling dilakukan terhadap siswa yang mengalami masalah yang sifatnya lebih pribadi. Jika ada masalah yang tidak dapat diatasi oleh petugas yang bersangkutan, perlu di alihtangankan kepada pihak yang lebih ahli.

d.      Komponen Pelaksana
Pelaksana jenis kegiatan tersebut adalah konselor sekolah, konselor bersama guru bidang studi dan juga kepala sekolah sesuai dengan fungsi peranannya masing-masing.

e.       Komponen Metode/Alat
Alat yang dipakai untuk melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan itu adalah: angket kartu pribadi, konseling dan sebagainya.

f.        Komponen Waktu Kegiatan
Jadwal kegiatan layanan dapat dilakukan pada awal tahun pelajaran atau waktu lain tergantung  dari jenis atau macam kegiatan yang akan dilakukan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

g.      Komponen Sumber Data
Data yang diperlukan dapat diperoleh langsung dari siswa yang bersangkutan. Hal ini tergantung atau jenis data yang diperlukan. Semua kegiatan ini dikoordinasikan oleh konselor dan dipertanggungjawabkan kepada kepala sekolah.


1.2. Pengertian Diagnosis Kesulitan Belajar

Dalam proses pembelajaran, tugas guru tidak hanya sekedar menyampaikan atau mentransfer ilmu atau bahan pelajaran kepada peserta didik. Guru sebagai pendidik dituntut untuk bertanggung jawab atas perkembangan peserta didik. Kegiatan memahami kesulitan belajar peserta didik ini dikenal dengan istilah diagnosis kesulitan belajar. Dalam pengertian diagnosis kesulitan belajar terdapat dua istilah yang perlu dipahami terlebih dahulu yaitu istilah diagnosis dan kesulitan belajar. Banyak ahli mengemukakan pendapatnya mengenai pengertian diagnosis antara lain, menurut Harriman dalam bukunya Handbook of Psychological Term, diagnosis adalah suatu analisis terhadap kelainan atau salah penyesuaian dari pola gejala-gejalanya. Jadi diagnosis merupakan proses pemeriksaan terhadap hal-hal yang dipandang tidak beres atau bermasalah.
Sedangkan menurut Webster, diagnosis diartikan sebagai proses menentukan hak menentukan permasalahan kikat kelainan atau ketidakmampuan dengan ujian, dan melalui ujian tersebut dilakukan suatu penelitian yang hati-hati terhadap fakta-fakta yang dijumpai , yang selanjutnya untuk menentukan permasalan yang dihadapi. Maka dapat disimpulkan bahwa diagnosis adalah penentuan jenis masalah atau kelainan dengan meneliti latar belakang penyebabnya atau dengan cara menganalisis gejala-gejala yang tampak. Setelah kita pahami pengertian diagnosis, selanjutnya kita bahas mengenai kesulitan belajar. Kesulitan belajar adalah suatu gejala yang nampak pada peserta didik yang ditandai dengan adanya prestasi belajar yang rendah atau dibawah norma yang telah ditetapkan. bahwa kesulitan belajar itu menunjukkan adanya suatu jarak antara prestasi akademik yang diharapkan dengan prestasi akademik yang dicapai oleh peserta didik (prestasi actual). Blassic dan Jones juga mengatakan bahwa peserta didik yang memiliki intelegensi normal, tetapi menunjukkan satu atau beberapa kekurangan yang penting dalam proses belajar, baik dalam persepsi, ingatan, perhatian ataupun dalam fungsi motoriknya.
Jadi kesulitan belajar yang dialami peserta didik tidak selalu disebabkan oleh intelegensi atau angka kecerdasannya yang rendah. Kesulitan atau hambatan belajar yang dialami oleh peserta didik dapat berasal dari faktor fisiologik, psikologik, instrument, dan lingkungan belajar. Maka dapat disimpulkan bahwa diagnosis kesulitan belajar merupakan proses menentukan masalah atau ketidakmampuan peserta didik dalam belajar dengan meneliti latar belakang penyebabnya dan atau dengan cara menganalisis gejala-gejala kesulitan atau hambatan belajar yang nampak.
Berikut ini akan dikemukakan permasalahan belajar peserta didik menurut Warkitri dkk (1990) sebagai berikut :
1. Kekacauan Belajar (Learning Discorer) yaitu suatu keadaan dimana proses belajar anak terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan.
2. Ketidakmampuan Belajar (Learning Disability) yaitu suatu gejala anak tidak mampu belajar atau selalu menghindari kegiatan belajar dengan berbagai sebab sehingga hasil belajar yang dicapai berada dibawah potensi intelektualnya.
3. Learning Disfunction yaitu kesulitan belajar yang mengacu pada gejala proses belajar yang tidak dapat berfungsi dengan baik, walaupun anak tidak menunjukkan adanya subnormal mental, gangguan alat indera ataupun gangguan psikologis yang lain.
4. Under Achiever, adalah suatu kesulitan belajar yang terjadi pada anak yang memiliki potensi intelektual tergolong di atas normal tetapi prestasi belajar yang dicapai tergolong rendah.
5. Lambat Belajar (Slow Learner) adalah kesulitan belajar yang disebabkan anak sangat lambat dalam proses belajarnya, sehingga setiap melakukan kegiatan belajar membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan anak lain yang memiliki tingkat potensi intelektual yang sama.

1.2.1.            Gejala dan Ciri Kesulitan Belajar

Gejala kesulitan belajar 

Kesulitan atau masalah belajar dapat dikenal berdasarkan gejala yang dimanifestasikan dalam berbagai bentuk perilaku, baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Menurut Warkitri dkk, 1990 : 8.5 – 8.6 (Ebekunt;2009,http://ebekunt.wordpress.com), individu yang mengalami kesulitan belajar menunjukkan gejala sebagai berikut:
a.       Hasil belajar yang dicapai rendah dibawah rata-rata kelompoknya.
b.      Hasil belajar yang dicapai sekarang lebih rendah dibanding sebelumnya.
c.       Hasil belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan.
d.      Lambat dalam melakukan tugas-tugas belajar.
e.       Menunjukkan sikap yang kurang wajar, misalnya masa bodoh dengan proses belajar dan pembelajaran, mendapat nilai kurang tidak menyesal, dst.
f.       Menunjukkan perilaku yang menyimpang dari norma, misalnya membolos, pulang sebelum waktunya, dst.
g.      Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, misalnya mudah tersinggung, suka menyendiri, bertindak agresif, dan sebagainya.
Sedangkan Abu Daud (http://abudaud2010.blogspot.com) menjelaskan bahwa Kesulitan belajar pada dasarnya suatu gejala yang nampak dalam berbagai jenis manifestasi tingkah laku. Gejala kesulitan belajar akan dimanifestasikan baik secara langsung maupun tidak langsung, juga dalam berbagai bentuk tingkah laku. Misalnya saja, sesuai dengan pengertian kesulitan belajar, tingkah laku yang dimanifestasikannya ditandai dengan adanya hambatan-hambatan tertentu. Gejala ini akan tampak dalam aspek motorik, kognitif, konatif (kehendak) dan afektif baik dalam proses maupun hasil belajar yang dicapainya. Contoh sulit dan lambat dalam berkomunikasi.Dari kutipan di atas, dapat dibuat sebuah kesimpulan bahwa gejala-gejala yang menunjukkan individu mengalami kesulitan belajar, yaitu:
1.      Hasil belajar yang dicapai berada dibawah rata-rata kelas, lebih rendah dari hasil belajar sebelumnya, serta tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan.
2.      Individu lambat dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah yang diberikan oleh guru.
3.      Menunjukkan sikap yang masa bodoh, sering bolos ataupun tidak masuk sekolah, serta mudah tersinggung dan menyendiri.

Ciri  kesulitan belajar

Adapun ciri-ciri kesulitan belajar yang dialami oleh siswa seperti berikut ini (Mutiara Endah; 2010, http://mutiaraendah.wordpress.com):
A .Gangguan persepsi visual
1)      Melihat huruf/angka dengan posisi yang berbeda dari yang tertulis, sehingga seringkali terbalik dalam menuliskan kembali
2)      Sering tertinggal huruf dalam menulis
3)      Menuliskan kata dengan urutan yang salah misalnya ibu jadi ubi
4)      Sulit memahami kanan dan kiri
5)      Bingung membedakan antara obyek dengan latar belakang
6)      Sulit mengkoordinasi antara mata (penglihatan) dengan tindakan (tangan, kaki)
B . Gangguan persepsi auditori
1)      Sulit membedakan bunyi: menangkap secara berbeda apa yang didengarnya
2)     Sulit memahami perintah terutama perintah yang diberikan dalam jumlah banyak dan kalimat yang panjang
3)      Bingung dan kacau dengan bunyi yang datang dari berbagai penjuru sehingga sulit mengikuti diskusi karena saat mencoba mendengar sebuah informasi sudah mendapatkan gangguan dari suara lain di sekitarnya
C. Gangguan bahasa
1)      Sulit menangkap dan memahami kalimat yang dikatakan kepadanya
2)      Sulit mengkoordinasikan/mengatakan apa yang sedang dipikirkan
D. Gangguan persepsi –motorik
1)      Kesulitan motorik halus (sulit mewarnai, menggunting, melipat, menempel, menulis rapi, memotong, dll )
2)      Memiliki masalah dalam koordinasi dan disorientasi yang mengakibatkan canggung dan kaku dalam eraknya
E. Hiperaktivitas
1)      Sukar mengontrol aktivitas motorik dan selalu bergerak/menggerakkan sesuatu (tidak bisa diam)
2)      Berpindah-pindah dari satu tugas ke tugas berikutnya tanpa menyelesaikan terlebih dahulu
3)      Impulsif
F. Kacau (distractibility)
1)      Tidak dapat membedakan stimulus yang penting dan tidak penting
2)      Tidak teratur, karena tidak memiliki urutan-urutan dalam proses berpikir
3)      Perhatiannya sering berbeda dengan apa yang sedang dikerjakan (melamun/berhayal saat belajar di kelas)
Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa ciri-ciri kesulitan belajar yang dialami oleh siswa, yaitu:
1.      Dilihat dari pesepsi visualnya, ciri-ciri kesulitan belajar yang dialami oleh siswa seperti pada saat menulis, siswa sering menulis dengan salah satu huruf yang tertinggal atau tidak lengkap.
2.      Dilihat dari persepsi auditori, ciri-cirinya seperti siswa sulit memahami perintah yang disampaikan oleh guru.
3.      Dilihat dari segi bahasa, cirinya seperti siswa sulit memahami kalimat yang disampaikn kepadanya serta sulit mengungkapkan apa yang sedang dipikirkannya.
1.2.2.  Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kesulitan Belajar

Latar belakang terjadinya kesulitan belajar atau ketidakberesan dalam belajar banyak sekali macam ragamnya. Tetapi bila penyebab kesulitan belajar itu dikaitkan dengan faktor-faktor yang berperanan dalam belajar, maka penyebab kesulitan belajar itu dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar yaitu faktor yang berasal dari dalam diri pelajar (faktor internal) yang meliputi: kemampuan intelektual,afeksi seperti perasaan dan percaya diri, motivasi, kematangan untuk belajar, usia, jenis kelamin, kebiasaan belajar, kemampuan mengingat, dan kemampuan pengindraan seperti melihat, mendengarkan, dan merasakan(Fontana, 1981). Sedang faktor yang berasal dari luar pelajar (faktor eksternal) meliputi faktor-faktor yang berkaitan dengan kondisi proses pembelajaran yang meliputi: guru, kualitas pembelajaran, instrumen atau fasilitas pembelajaran baik yang berupa hardware maupun software serta lingkungan, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam.
Menyimak faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar tersebut di atas, maka peserta didik mengalami kesulitan belajar atau ketidakberesan dalam belajar, ditunjukkan oleh hasil belajar yang rendah. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal seperti yang dikemukakan oleh Noehi Nasution. (1992: 215)
1. Rendahnya kemampuan intelektual anak         7. Kebiasaan belajar yang kurang baik
2. Gangguan perasaan atau emosi                         8. Kemampuan mengingat yang rendah
3. Kurangnya motivasi untuk belajar                    9. Terganggunya alat-alat indera
4. Kurang matangnya anak untuk belajar             10. Proses belajar mengajar yang tidak sesuai
5. Usia yang terlampau muda                               11. Tidak adanya dukungan dari lingkungan         belajar.

Untuk lebih lengkapnya,  pandangan ahli yang lain yang berkaitan dengan permasalahan belajar yang dialami peserta didik, baik faktor internal maupun eksternal. Dimyati dan Mudjiono(1994: 228-235) mengemukakan faktor-faktor internal yang mempengaruhi proses belajar sebagai berikut:
1. Sikap terhadap belajar                                 7. Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil kerja
2. Motivasi belajar                                           8. Rasa percaya diri siswa
3. Konsentrasi belajar                                      9. Inteligensi dan keberhasilan belajar
4. Mengolah bahan ajar                                   10. Kebiasaan belajar
5. Menyimpan perolehan hasil belajar 11. Cita-cita siswa

Sedang faktor eksternal yang berpengaruh terhadap proses belajar meliputi:
1. Guru sebagai Pembina siswa belajar           4. Lingkungan sosial siswa disekolah
2. Sarana dan prasarana pembelajaran            5. Kurikulum sekolah
3. Kebijakan penilaian
2.1.3. Prosedur Pelaksanaan Diagnosis Kesulitan Belajar

Guru dalam proses pembelajaran menghadapi peserta didik yang beranekaragam karakteristiknya. Perbedaan peserta didik berkaitan dengan kapasitas intelektual, keterampilan, motivasi, sikap, kemampuan, minat, latar belakang kehidupan keluarganya dan lain-lainnya. Perbedaan ini cenderung berakibat adanya perbedaan dalam belajar bagi setiap peserta didik baik dalam kecepatan belajarnya maupun keberhasilan belajar yang dicapainya.
Langkah-langkah melaksanakan diagnosis kesulitan belajar yaitu :
1. Mengidentifikasi peserta didik yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar.
Dengan cara mengenali latar belakang baik psikologis maupun non psikologis. Kasus kesulitan belajar dapat diketahui melalui :
a. Analisis Perilaku  
Peserta didik yang mengalami kesulitan belajar dapat diketahui melalui observasi atau laporan proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran dapat diketahui :
1) Cepat lambatnya menyelesaikan tugas
2) Kehadiran dan ketekunan dalam proses pembelajaran
3) Peran serta dalam mengerjakan tugas kelompok
4) Kemampuan kerjasama dan penyesuaian sosial
b. Analisis Prestasi Belajar
Dapat dilakukan dengan cara menghimpun dan menganalisis hasil belajar serta menafsirkannya. Dalam menafsirkan hasil belajar peserta didik harus menggunakan norma yaitu Penilaian Acuan Norma (PAN) dan Penilaian Acuan Patokan (PAP)

2. Melokalisasi Letak Kesulitan Belajar
Dapat kita lakukan dengan cara mengetahui dalam mata pelajaran atau bidang studi apa kesulitan itu terjadi, kemudian aspek atau bagian mana kesulitan belajar itu dirasakan oleh peserta didik. Untuk menemukan bidang studi apa peserta didik mengalami kesulitan belajar dapat dilakukan dengan cara membandingkan skor prestasi yang diperoleh peserta didik dengan nilai rata-rata dari masing-masing bidang studi. Sedangkan untuk mengetahui aspek atau bagian mana kesulitan belajar itu dirasakan oleh peserta didik dapat dilakukan dengan memeriksa hasil pekerjaan tes.
3. Menentukan Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
Dapat dilakukan dengan cara meneliti faktor-faktor yang ada pada diri peserta didik (internal) dan faktor-faktor yang berada di luar peserta didik (eksternal) yang menghambat proses belajar dan atau pembelajaran.

4. Memperkirakan Alternatif Bantuan
Langkah yang akan ditempuh dengan cara menjawab beberapa pertanyaan berikut ini:
a. Apakah peserta didik masih mungkin ditolong untuk mengatasi kesulitannya?
b. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengatasi kesulitan peserta didik?
c. Kapan dan dimana pertolongan dapat diberikan kepada peserta didik?
d. Siapa yang dapat memberikan pertolongan?

1.3.            Peranan Guru Dalam Pelaksanaan Bimbingan di Sekolah
Peranan guru dalam bimbingan di sekolah dapat di bedakan menjadi dua, yaitu : (a) tugas dalam layanan bimbingan dalam kelas dan (b) di luar kelas.

a.      Tugas Guru dalam Layanan Bimbingan di kelas
Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) mengemukakan beberapa hal yang harus diperhatikan guru dalam proses belajar-mengajar sesuai dengan fungsinya dan pembimbing, yaitu :
a)      Perlakuan terhdap siswa didasarkan atas keyakinan bahwa sebagai individu, siswa memiliki potensi untuk dikembangkan dan maju serta mampu mengarahkan dirinya sendiri untuk madiri.
b)      Sikap yang positif dan wajar terhadap siswa
c)      Pemahaman siswa secara empatik
d)     Penerimaan siswa apa adanya
e)      Penghargaan terhadap martabat siswa sebagai individu

Abu Ahmadi (1977) mengemukakan peran guru sebagai pembimbing dalam melaksanakan proses belajar-mengajar, sebagai berikut :
a)      Menyediakan kondisi dan kesempatan bagi setiap siswa untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
b)      Membantu memilih jabatan yang cocok, sesuai dengan bakat, kemampuan dan minatnya.
c)      Mengusahakan siswa-siswa agar dapat memahami dirinya, kecakapan-kecakapan sikap, minat, dan pembawaannya.
d)     Mengembangkan sikap-sikap dasar bagi tingkah laku sosial yang baik.
            Di samping tugas-tugas tersebut, guru juga dapat melakukan tugas bimbingan dalam proses pembelajaran seperti berikut :
a)      Melaksanakan kegiatan diagnostic kesulitan belajar.
b)      Memberikan bantuan sesuai dengan kemampuan dan kewenangannya kepada murid dalam memecahkan masalah pribadi.

b.      Tugas Guru dalam Operasional Bimbingan di Luar Kelas
      Tugas-tugas guru dalam layanan bimbingan di luar kelas antara lain :
a)      Memberikan pengajaran perbaikan (remedial teaching)
b)      Memberikan pengayaan dan pengembangan bakat siswa
c)      Melakukan kunjungan rumah (home visit)
d)     Menyelenggarakan kelompok belajar

1.3.1.      Kerjasama Guru dengan Konselor dalam Layanan Bimbingan
            Dalam kegiatan-kegiatan belajar-mengajar sangat diperlukan adanya kerja sama antara guru dengan konselor demi tercapainya tujuan yang diharapkan. Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) mengutip pendapat Miller yang mengatakan bahwa :
a)      Proses belajar menjadi sangat efektif, apabila bahan yang dipelajari dikaitkan langsung dengan tujuan-tujuan pribadi siswa.
b)      Guru yang memahami siswa dan masalah-masalah yang dihadapinya, lebih peka terhadap hal-hal yang dapat memperlancar dan mengganggu kelancaran kelas.
c)      Guru dapat memperhatikan perkembangan masalah atau kesulitan siswa secara lebih nyata.
            Guru juga mempunyai beberapa keterbatasan. Menurut Koestoer Partowisastro (1982) keterbatasan-keterbatasan guru tersebut antara lain :
a)      Guru tidak mungkin lagi menangani masalah-masalah siswa yang bermacam-macam, karena guru tidak terlatih untuk melaksanakan tugas  itu.
b)      Guru sendiri sudah berat tugas mengajarnya, sehingga tidak mungkin lagi di tambah tugas yang banyak untuk memecahkan masalah-masalah siswa.

1.3.2.      Cara Mengatasi Kesulitan Belajar

Peranan guru sangat penting dalam pelaksanaan proses pembelajaran, selain sebagai nara sumber guru juga merupakan pembimbing dan pengayom bagi para murid yang ada dalam suatu kelompok belajar. Hal tersebut sesuai dengan ungkapan T. Rustandy (1996 : 71) yang mengatakan bahwa : Guru memegang peranan sentral dalam proses pembelajaran, memiliki karakter dan kepribadian masing-masing yang tercermin dalam tingkah laku pada waktu pelaksanaan proses pembelajaran. Pola tingkah laku guru dalam proses pembelajaran biasanya ditiru oleh siswa dalam perjalanan hidup sehari-hari, baik di lingkungan keluarga ataupun masyarakat, karena setiap siswa mempunyai keragaman dalam hal kecakapan maupun kepribadian. Keragaman kecakapan dan kepribadian ini mempengaruhi terhadap situasi yang dihadapi dalam proses pembelajaran. Tetapi menurut Brenner (1990) sebenarnya pendidikan anak prasekolah terefleksi dalam alat-alat perlengkapan dan permainan yang tersedia, cara perlakuan guru terhadap anak, adegan dan desain kelas, serta bangunan fisik lainnya yang disediakan untuk anak. (M. Solehuddin, 1997 : 55). Beberapa cara mengatasi kesulitan dalam belajar dapat dilakukan dengan cara belajar yang efektif dan efisien. Cara demikian merupakan problematika yang perlu mendapatkan perhatian cukup serius. Orang tua dan guru kelas kerap kali memberikan saran-saran kepada siswa agar rajin belajar karena rajin adalah pangkal cerdas. Orang cerdas akan mampu mengembangkan dirinya sesuai dengan perkembangan zaman yang serba kompleks.Berikut ini beberapa alternatif dalam kesulitan belajar :
1. Observasi Kelas
Pada tahap ini observasi kelas dapat membantu mengurangi kesulitan dalam tingkat pelajaran, misalnya memeriksa keadaan secara fisik bagaimana kondisi kelas dalam kegiatan belajar, cukup nyaman, segar, sehat dan hidup atau tidak. Kalau suasana kelas sangat nyaman, tenang dan sehat, maka itu semua dapat memotivasi siswa untuk belajar lebih semangat lagi.
2. Pemeriksaan Alat Indera
Dalam hal ini dapat difokuskan pada tingkat kesehatan siswa khusus mengenai alat indera. Diupayakan minimal dalam sebulan sekali pihak sekolah melakukan tes atau pemeriksaan kesehatan di Puskesmas / Dokter, karena tingkat kesehatan yang baik dapat menunjang pelajaran yang baik pula. Maka dari itu, betapa pentingnya alat indera tersebut dapat menstimulasikan bahan pelajaran langsung ke diri individu.
3. Teknik Main Peran
Disini, seorang guru bisa berkunjung ke rumah seorang murid. Di sana seorang guru dapat leluasa melihat, memperhatikan murid berikut semua yang ada di sekitarnya. Di sini guru dapat langsung melakukan wawancara dengan orang tuanya mengenai kepribadian anak, keluarga, ekonomi, pekerjaan dan lain-lain. Selain itu juga, guru bisa melihat keadaan rumah, kondisi dan situasinya dengan masyarakat secara langsung.
4. Tes Diagnostik Kecakapan/Tes IQ/Psikotes
Dalam hal ini seorang guru dapat mengetahui sejauh mana IQ seseorang dapat dilihat dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan praktis dan sederhana. Dengan latihan psikotes dapat diambil beberapa nilai kepribadian siswa secara praktis dari segi dasar, logika dan privasi seseorang.
5. Menyusun Program Perbaikan
Penyusunan program hendaklah dimulai dari segi pengajar dulu. Seorang pengajar harus menjadi seorang yang konsevator, transmitor, transformator, dan organisator. Selanjutnya lengkapilah beberapa alat peraga atau alat yang lainnya yang menunjang pengajaran lebih baik, karena dengan kelengkapan-kelengkapan yang lebih kompleks, motivasi belajarpun akan dengan mudah didapat oleh para siswa. Hendaklah semua itu disadari sepenuhnya oleh para pengajar sehingga tidak ada lagi kendala dan hambatan yang dapat mempengaruhi kegiatan belajar. Selain itu tingkat kedisiplinan yang diterapkan di suatu sekolah dapat menunjang kebaikan dalam proses belajar. Disiplin dalam belajar akan mampu memotivasi kegiatan belajar siswa. Alternatif lain yang dapat diambil guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswanya. Akan tetapi sebelum pilihan tertentu diambil, guru sangat diharapkan untuk terlebih dahulu melakukan beberapa langkah berikut ini :
a. Menganalisis hasil diagnosis, yakni menelaah bagian-bagian masalah dan hubungan antar bagian tersebut untuk memperoleh pengertian yang benar mengenai kesulitan belajar yang dihadapi siswa.
b. Mengidentifikasi dan menentukan bidang kecakapan tertentu yang memerlukan adanya perbaikan.
c. Menyusun program perbaikan.
Dalam menyusun program pengajaran perbaikan diperlukan adanya ketetapan sebagai berikut:
a. Tujuan pengajaran remedial
Contoh dari tujuan pengajaran remedial yaitu siswa dapat memahami kata “tinggi”, “pendek” dan “gemuk” dalam berbagai konteks kalimat.
b. Materi pengajaran remedial
Contoh materi pengajaran remedial yaitu dengan cara lebih khusus dalam mengembangkan kalimat-kalimat yang menggunakan kata-kata seperti di atas.
c. Metode pengajaran remedial
Contoh metode pengajaran remedial yaitu dengan cara siswa mengisi dan mempelajari hal-hal yang dialami oleh siswa tersebut dalam menghadapi kesulitan belajar.
d. Alokasi waktu
Contoh alokasi waktu remedial misalnya waktunya Cuma 60 menit.
e. Teknik evaluasi pengajaran remedial
Contoh teknik evaluasi pengajaran remedial yaitu dengan menggunakan tes isian yang terdiri atas kalimat-kalimat yang harus disempurnakan, contohnya dengan menggunakan kata tinggi, kata pendek, dan kata gemuk.
Selanjutnya untuk memperluas wawasan pengetahuan mengenai alternatif-alternatif atau cara-cara pemecahan masalah kesulitan belajar siswa, guru sangat dianjurkan mempelajari buku-buku khusus mengenai bimbingan dan penyuluhan. Selain itu, guru juga sangat dianjurkan untuk mempertimbangkan penggunaan model-model mengajar tertentu yang dianggap sesuai sebagai alternatif lain atau pendukung cara memecahkan masalah kesulitan belajar siswa.
Keaktifan siswa tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi juga dari segi kejiwaan. Bila hanya fisik anak yang aktif, tetapi fikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini sama halnya dengan siswa tidak belajar, karena siswa tidak merasakan perubahan di dalam dirinya, padahal pada hakekatnya belajar adalah “perubahan” yang terjadi dalam diri seseorang yang telah berakhirnya melakukan aktivitas belajar.
Penerapan sikap dan pembentukan kepribadian pada diri siswa harus dioptimalkan, mengingat keberhasilan suatu proses pembelajaran bukan diukur oleh adanya penambahan dan perubahan pengetahuan serta keterampilan saja, namun nilai sikap harus terakomodasi, sebab dengan perubahan sikap akan menentukan terhadap perubahan kognitif ataupun psikomotor.
Sama halnya dengan belajar, mengajar pun pada hakekatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar. Pada tahap berikutnya mengjar adalah proses memberikan bimbingan, bantuan kepada siswa dalam melakukan proses belajar.
Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah interaksi antara guru dengan peserta didik dan antara peserta didik dengan peserta didik lainnya, serta dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan tingkah laku pada diri peserta didik. Agar proses belajar mengajar tersebut berlangsung secara efektif selain diperlukan alat peraga sebagai pelengkap yang digunakan guru dalam berinteraksi dengan peserta didik diperlukan pula aturan dan tata tertib yang baku agar dalam pelaksanaannya teratur dan tidak menyimpang.

Dari hakikat proses belajar mengajar, pembelajaran merupakan proses komunikasi, maka pembelajaran seyogyanya tidak atraktip melainkan harus demokrasi. Siswa harus menjadi subjek belajar, bukan hanya menjadi pendengar setia atau pencatat yang rajin, tetapi siswa harus aktif dan kreatif dalam berbagai pemecahan masalah. Dengan demikian guru harus dapat memilih dan menentukan pendekatan dan metode yang disesuaikan dengan kemampuannya, kekhasan bahan pelajaran, keadaan sarana dan keadaan siswa.1.1.      Program Bimbingan di Sekolah
Program bimbingan dan konseling merupakan bagian yang terpadu dari keseluruhan program pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, upaya guru pembimbing maupun berbagai aspek yang tercakup merupakan bagian tidak dapat dipisahkan dari seluruh bagian kegiatan yang diarahkan kepada pencapaian tujuan pendidikan di lembaga yang bersangkutan.

1.1.1.      Pengertian Program Bimbingan
Menurut pendapat Hotch dan Costor  yang dikutip oleh Gipson dan Mitchell (1981) program bimbingan dan konseling adalah suatu program yang memberikan layanan khusus yang dimaksudkan untuk membantu individu dalam mengadakan penyesuaian diri. Program bimbingan itu menyangkut dua faktor, yaitu: (1) faktor pelaksana atau orang yang akan menberikan bimbingan, dan (2) faktor-faktor yang berkaitan perlengkapan, metode, bentuk layanan siswa-siswa, dan sebagainya, yang mempunyai kaitan dengan kegiatan bimbingan (Abu Ahmadi, 1997).
Program bimbingan memberikan arah yang jelas dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan efisien dan efektif.Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) menyatakan bahwa program bimbingan yang disusun dengan baik dan rinci akan memberikan banyak keuntungan , seperti :
a)      Memungkinkan para petugas menghemat waktu, usaha, biaya, dan menghindari kesalahan-kesalahan, dan usaha coba-coba yang tidak menguntungkan
b)      Memungkinkan siswa untuk mendapatkan layanan bimbingan secara seimbang dan menyeluruh, baik dalam hal kesempatan ataupun dalam jenis layanan bimbingan yang diperlukan
c)      Memungkinkan setiap petugas mengetahui dan memahami peranannya masing-masing dan mengetahui bagaimana dan dimana mereka harus melakukan upaya secara tetap
d)     Memungkinkan para petugas untuk menghayati pengalaman yang sangat berguna untuk kemajuannya sendiri dan untuk kepentingan siswa yang dibimbinganya.
            Pendapat ini menekankan perlunya rumusan program bimbingan yang jelas dan sistematik. Keberhasilan dalam merumuskan program yang demikian, merupakan titik awal keberhasilan pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling disekolah.


1.1.2.      Langkah-Langkah Penyusunan Program Bimbingan
Dalam penyusunan program bimbingan perlu ditempuh langkah-langkah seperti dikemukakan oleh Miller yang dikutip oleh Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) seperti berikut :
a)            Tahap Persiapan
Langkah ini dilakukan melalui survei untuk menginventarisasi tujuan, kebutuhan dan kemampuan sekolah, serta kesiapan sekolah yang bersangkutan untuk melaksanakan program bimbingan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menentukan langkah awal pelaksanaan program.
b)            Pertemuan-pertemuan permulaan dengan para konselor yang telah ditunjuk oleh pemimpin sekolah.
Tujuan pertemuan ini untuk menyamakan pemikiran tentang perlunya program bimbingan, serta merumuskan arah program yang akan disusun.
c)            Pembentukan panitia sementara untuk merumuskan program bimbingan.
Panitia ini bertugas merumuskan tujuan program bimbingan yang akan disusun, mempersiapkan bagan organisasi dari program tersebut, dan membuat kerangka dasar dari program bimbingan yang akan disusun.
d)           Pembentukan panitia penyelenggara program.
Panitia ini bertugas mempersiapkan program tes, mempersiapkan dan melaksanakan sistem pencatatan, dan melatih para pelaksana program bimbingan untuk melaksanakan kegiatan tersebut.  
e)      Penyusunan program bimbingan dan konseling di sekolah hendaknya dirumuskan dan diinventarisasikan berbagai fasilitas yang ada.
f)       Penyusunan program bimbingan dan konseling hendaknya merumuskan masalah-masalah yang dihadapi.
Di samping rumusan tentang langkah-langkah penyusunan program bimbingan sebagaimana dikemukakan itu, berikut ini dapat pula disajikan langkah-langkah penyusunan program bimbingan yang sederhana, yaitu :
a)      Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan sekolah terutama yang ada kaitannya dengan bimbingan.
Pada kegiatan ini dapat dilakukan pertemuan – pertemuan dengan personel sekolah lainnya guna mendapatkan masukan (input) mengenai berbagai hal yang perlu ditangani oleh konselor.
b)      Setelah data terkumpul perlu dilakukan penentuan urutan prioritas kegiatan yang akan dilakukan, dan sekaligus menyusun konsep program bimbingan yang akan dilakukan dalam kurun waktu tertentu.
Dalam kegiatan ini juga ditentukan personalia yang akan melaksanakan program kegiatan itu serta sasaran dari program tersebut.
c)   Konsep program bimbingan dibahas bersama kepala sekolah dan bila perlu mengundang personel sekolah untuk memperoleh balikan guna penyempurnaan program tersebut.
d)  Penyempurnaan konsep program yang telah di bahas bersama kepala sekolah.
e)   Pelaksanaan program yang telah direncanakan
f)   Evaluasi
   Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui bilamana ada bagian – bagian yang tidak terlaksana dan seterusnya dicari faktor penyebabnya.
g)      Revisi
      Demikian seterusnya, sehingga terwujudlah program bimbingan yang lebih sempurna. Terciptanya program bimbingan yang baik telah merupakan sebagian dari keberhasilan pelaksanaan bimbingan dan konseling itu sendiri.

1.1.3.       Variasi Program Bimbingan menurut jenjang Pendidikan

Layanan bimbingan dan konseling disekolah seharusnya dilaksanakan secara terus – menerus, mulai dari jenjang pendidikan terendah (taman kanank-kanak) sampai jenjang pendidikan tertinggi (perguruan tinggi). Secara ideal kegiatan tersebut seharusnya berkesinambungan. Meskipun demikian layanan bimbingan tersebut mempunyai penekanan- penekanan yang berbeda-beda untuk setiap jenjang pendidikan. Hal ini mengingat kebutuhan dan perkembangan anak untuk setiap jenjang pendidikan juga berbeda.  Winkel (1991) memberikan rambu-rambu yang perlu diperhatikan dalam menyusun program bimbingan di tingakt pendidikan tertentu, yaitu :
a.   Menyusun tujuan pendidikan tertentu,seperti yang telah dirumuskan. Tujuan pendidikan disekolah dasar, jelas berbeda dengan tujuan  pendidikan disekolah menengah pertama,dan seterusnya.
b.   Menyusun tugas-tugas perkembangan dan kebutuhan-kebutuhan peserta didik pada tahap perkembangan tertentu
c.   Menyusun pola dasar yang dipedomani dalam memberikan layanan
d.   Menentukan komponen-komponen bimbingan yang diprioritaskan
e.   Menentukan bentuk bimbingan yang sebaiknya diutamakan, seperti bimbingan kelompok atau bimbingan individual atau bimbingan pribadi, bimbingan akademik atau bimbingan karier, dan sebagainya.
f.    Menentukan tenaga-tenaga bimbingan yang dapat dimanfaatkan, misalnya konselor, guru atau tenaga ahli lainnya.
Berdasarkan rambu – rambu tersebut, program bimbingan untuk masing – masing jenjang pendidikan dapat dirumuskan dengan tepat sesuai dengan karakteristiknya. Selain itu, program bimbingan hendaknya disesuiakan dengan keadaan individu yang akan dilayani.

Pendidikan Taman Kanak-Kanak
Taman kanak – kanak sebenarnya belum termasuk jenjang pendidikan formal dan lebih dikenal dengan pendidikan prasekolah. Pendidikan formal terendah adalah sekolah dasar (SD). Meskipun demikian menurut Winkel(1991) tenaga – tenaga pendidik di taman kanak – kanank juga dituntut untuk memberikan layanan bimbingan. Hal ini, dikuatkan dalam Pedoman Bimbingan dan Penyuluhan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1980 buku III C, dalam rangka pelaksanaan kurikulum taman kanak – kanak 1976.
Layanan bimbingan dan konseling di taman kanak-kanak hendaknya ditekankan pada :
a)      Bimbingan yang berkaitan dengan kemandirian dan keharmonisan dalam menjalin hubungan sosial dengan teman-teman sebayanya.
b)      Bimbingan pribadi,seperti pemupukan disiplin diri dan memahami perintah.
Di samping itu, layanan bimbingan untuk anak  taman kanak-kanak perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan psikologis, seperti pemberian kasih sayang dan perasaan aman.
Guru di taman kanak-kanak perlu membantu anak didik mengembangkan semua dimensi perkembangannya. Guru tidak hanya berperan sebagai pendidik tetapi juga sebagai pembimbing yang dapat memfasilitasi tumbuh kembangnya anak secara optimal. Pemahaman tentang tumbuh kembang anak dengan berbagai permasalahan mungkin dialami anak menjadi aspek penting yang harus dikuasai seorang guru taman kanak-kanak. Artinya, dalam melaksanakan fungsinya, seorang guru perlu memiliki wawasan yang cukup tentang perkembangan anak. Tidak semua anak mengalami perkembangan yang mulus dan lancar, ada anak yang menunjukkan kecenderungan adanya masalah yang berkenaan dengan masalah perkembangan fisik-motorik, intelektual, sosial, emosi maupun bahasa. Bimbingan di taman kanak-kanak merupakan suatu kegiatan yang cukup unik dan juga cukup menantang. Kondisi ini terjadi karena bimbingan bagi anak taman kanak-kanak sangat jauh berbeda dengan bimbingan bagi siswa sekolah lainnya seperti siswa SD, SMP atau SMA. Bimbingan di taman kanak-kanak memiliki karakteristik tersendiri. Hal ini terjadi karena masih terbatasnya pola pikir dan pemahaman anak sehingga pola bimbingan yang diberikan harus disesuaikan dengan pola pikir dan pemahaman anak yang masih sangat sederhana. Kondisi lain yang menyebabkan bimbingan di taman kanak-kanak bersifat unik karena sangat sulit memisahkan kegiatan bimbingan dengan kegiatan pembelajaran..
Guru tidak hanya bertugas menciptakan proses pembelajaran bagi anak tapi guru juga harus mampu berperan sebagai seorang pembimbing. Petugas bimbingan untuk jenjang pendidikan taman kanak-kanak masih sangat jarang, petugas bimbingan lebih banyak berkiprah pada jenjang pendidikan sekolah menengah. Oleh karenanya, tugas bimbingan menjadi tugas lain seorang guru di taman kanak-kanak. Dalam melaksanakan bimbingan, guru juga memiliki keterbatasan lain. Dalam waktu 2 – 2,5 jam pembelajaran di taman kanak-kanak, guru harus mampu melaksanakan kegiatan pengajaran juga bimbingan dan latihan. Keterbatasan peran guru yang merangkap sebagai pengajar dan pembimbing disertai jumlah waktu yang relatif singkat mengharuskan guru memiliki kemampuan tersendiri guna merencanakan dan melaksanakan program dan layanan bimbingannya. Pelaksanaan program dan layanan bimbingan untuk anak taman kanak-kanak sangatlah jauh berbeda dengan pelaksanaan program dan layanan bimbingan pada jenjang sekolah yang lebih tinggi. Selama ini banyak guru yang terjebak pada suatu konsep bimbingan yang keliru. Artinya mereka kurang menyadari adanya kesalahan konsepsi dan praktek bimbingan di taman kanak-kanak. Kesalahan konsep tersebut sudah cukup meluas sehingga seolah-olah sudah dianggap wajar.


Program Bimbingan di Sekolah Dasar
Hingga saat ini pelaksanaan bimbingan disekolah dasar belum dapat terlaksana dengan baik sebagaimana di sekolah menengah. Dalam kurun waktu yang relatif tidak lama di harapkan pelaksanaan kegiatan bimbingan disekolah dasar dapat terwujud, mengingat makin hari, makin bertambah jumlah anak – anak usia sekolah dasar yang memerlukan konsultasi karena mengalami berbagai macam masalah.
Program kegiatan bimbingan dan konseling untuk siswa-siswa sekolah dasar lebih menekankan pada usaha pencapaian tugas-tugas perkembangan mereka antara lain mengatur kegiatan belajarnya dengan bertanggung jawab, dapat berbuat dengan cara-cara yang dapat diterima oleh orang dewasa serta teman-teman sebayanya, mengembangkan kesadaran moral berdasarkan nilai-nilai kehidupan dengan membentuk kata hati (Winkel, 1991). Disamping itu program bimbingan hendaknya mengacu kepada tujuan umum di SD yaitu memiliki sifat-sifat dasar sebagai warga negara yang baik, menikmati kesehatan jasmani dan rohani, memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap dasar yang diperlukan untuk melanjutkan pelajaran, bekerja di masyarakat, dan mengembangkan diri sesuai dengan asas pendidikan seumur hidup. Dengan demikian arah penyusunan program bimbingan di sekolah dasar tidak terlepas dari usaha pencapaian tugas – tugas perkembangan anak – anak usia sekolah dasar.
Berkenaan dengan penyusunan program bimbingan disekolah dasar, Gibson dan Mitchell (1981) mengemukakan beberapa faktor yang harus dipertimbangkan, seperti :
a)      Kegiatan bimbingan di SD hendaknya lebih menekankan pada aktivitas-aktivitas belajar
b)      Di SD masih menggunakan sistem guru kelas sehingga seandainya ada anak yang tidak disenangi guru, maka akan lebih fatal akibatnya
c)      Adanya kecenderungan seorang  anak bergantung kepada teman sebayanya
d)     Minat orang tua dominan mempengaruhi nilai kehidupan anak
e)      Masalah-masalah yang timbul di tingkat SD, tidak terlalu kompleks.

Program Bimbingan di Sekolah Menengah Pertama

Suasana belajar di SMP berbeda dengan kegiatan di sekolah dasar, terutama dalam sistem belajarnya. Belajar disekolah dasar (SD) umumnya diasuh oleh guru kelas, sedangkan di SMP diasuh oleh guru bidang studi. Oleh karena itu, para siswa sekolah menengah pertama dituntut untuk menyesuaikan diri dengan guru yang bervariasi. Siswa dituntut untuk lebih mandiri khusunya dalam belajar. Mereka tidak lagi dapat menuntut bantuan dari orang tua dalam menyelesaikan tugas- tugas sekolah seperti halnya pada saat mereka duduk di SD. Kondisi – kondisi seperti itulah yang menuntut agar program bimbingan dan konseling di SMP berbeda dengan di SD. Program bimbingan di SMP seharusnya lebih bervariasi dan lebih kompleks.
Selain itu, program bimbingan dan konseling untuk sisiwa SMP hendaknya berorientasi kepada pencapaian tugas-tugas perkembangannya. Dalam hal ini, Winkel(1991) mengemukakan tugas – tugas perkembangan untuk siswa/anak pada tingkat SMP antara lain; menerima peranannya sebagai pria atau wanita, memperjuangkan taraf kebebasan yang wajar dari orang tua dan orang – orang dewasa lainnya, menambah bekal pengetahuan dan pemahaman untuk pendidikan lanjutan, serta mengembangkan kata hati sesuai dengan nilai- nilai kehidupan.
Hambatan dari pencapaian tugas – tugas perkembangan tersebut antara lain; kurang kepercayaan diri, kurangnya kepekaan perasaan, sering timbulnya kegelisahan, dan kurangnya semangat kerja keras. Dengan adanya kenyataan yang dialami oleh anak- anak tersebut, program bimbingan hendaknya diarahkan atau ditekankan pada penanggulangan masalah itu sehingga mereka dapat mencapai tugas - tugas perkembangannya dengan baik.
 Secara garis besar program bimbingan dan konseling di SMP hendaknya berorientasi kepada :
a)            Bimbingan belajar, karena cara belajar di SMP berbeda dengan di SD
b)      Bimbingan tentang hubungan muda – mudi, karena pada usia ini mereka mulai mengenal hubungan cinta kasih
c)      Pada usia ini mereka mulai membentuk kelompok sebaya (peer group), maka program bimbingan hendaknya juga menangani masalah – masalah yang berkaitan dengan hubungan sosial
d)     Bimbingan yang berorientasi pada tugas-tugas perkembangan anak usia 12-15 tahun
e)       Bimbingan karier baik yang menyangkut pemahaman tentang dunia pendidikan atau pekerjaan.



Program Bimbingan di Sekolah Menengah Atas

Program bimbingan dan konseling di SMA hendaknya lebih lengkap dan luas cakupannya dibandingkan dengan program layanan di jenjang pendidikan dibawahnya. Pada jenjang pendidikan di SMA para siswa berada dalam masa remaja. Usia mereka berada pada masa transisi. Kehidupan kekanak-kanaknya sudah ditinggalkan, namun kehidupan sebagai orang dewasa belum mapan. Dengan demikian, mereka berada di daerah marginal yaitu daerah kabur. Akibatnya mereka kehilangan identitas, dan berusaha mencari identitas kembali dengan berbagai cara dan gayanya. Kadang-kadang pola berpikir, berperasaan, dan perilakunya menyimpang dari pola kehidupan anak – anak ataupun orang dewasa.
Disamping itu, mereka dituntut untuk mencapai tugas-tugas perkembangan yang dituntut dari mereka. Cole(1959) mengemukakan beberapa tugas-tugas perkembangan pada usia remaja (siswa SMA) yaitu bertujuan untuk mencapai:1) kematangan emosional, 2) kemantapan minat terhadap lawan jenis, 3) kematangan sosial, 4) kebebasan diri dari kontrol orang tua, 5) kematangan intelektual, 6) kematangan dalam pemilihan pekerjaan, 7) efisiensi penggunaan waktu luang, 8) kematangan dalam memahami falsafah hidup, dan 9) kematngan dalam kemampuan mengidentifikasi diri. Dengan demikian, program bimbingan dan konseling di SMA hendaknya dapat mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi siswa, sehingga mereka dapat mencapai tugas-tugas perkembangan dengan baik. Oleh sebab itu, program bimbingan di SMA berorientasi pada :
a)      Hubungan muda-mudi / hubungan sosial
b)      Pemberian informasi pendidikan dan jabatan
c)      Bimbingan cara belajar

Program Bimbingan di Perguruan Tinggi

Tugas – tugas perkembangan pada usia dewasa menuntut seseorang untuk lebih mandiri, dan berdisiplin diri. Mereka dituntut untuk mampu mengembangkan sikap membina ilmu demi kemajuan bangsanya. Mereka hendaknya mampu mengembangkan kepribadiannya sesuai dengan potensi-potensi yang dimiliki dan mampu merencanakan masa depan sesuai dengan keadaan dirinya.
Oleh sebab itu, arah program bimbingan di perguruan tinggi sedikit berbeda dengan program yang ada dilembaga pendidikan yang lebih rendah (sekolah). Hal ini disebabkan karena adanya hal-hal yang lebih spesifik dalam perkembangan diri mahasiswa. Pola berpikirnya sudah lebih matang dan mereka berusaha mencurahkan segala tenaga dan pikirannya untuk memecahkan berbagai masalah (ekonomi), pekerjaan tuntutan akademik, dan masalah pernikahan.
Disamping itu, mahasiswa juga dituntut untuk menyesuaikan diri dengan pola kehidupan kampus dan di luar kampus. Pola kehidupan kampus lebih menekankan kepada aspek akademik, seperti cara belajar mandiri, cara mengatur waktu, menimbulkan motivasi belajar, memilih program studi dan menjalin hubungan sosial. Masalah – masalah diluar kampus yang mungkin timbul adalah masalah biaya pendidikan, fasilitas belajar, tempat tinggal, makanan yang bergizi, dan sebagainya.
Efektivitas dan efesiensi program bimbingan dapat terwujud bila diarahkan kepada masalah-masalah sebagaimana digambarkan diatas. Oleh sebab itu, program bimbingan di perguruan tinggi hendaknya berorientasi kepada :
a)      Bimbingan belajar di perguruan tinggi atau bimbingan yang bersifat akademik
b)      Hubungan sosial dan hubungan muda-mudi.

1.1.4.      Tenaga Bimbingan di Sekolah Beserta Fungsi dan Peranannya
            Layanan bimbingan dan konseling merupakan bagian yang integral dari keseluruhan proses pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah menjadi tanggung jawab bersama antara personel sekolah (Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya 1985). Dengan demikian, diperlukan adanya keterpaduan dan kebersamaan di antara personel sekolah dalam pelaksanaan bimbingan.
  Kepala Sekolah
            Dalam pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah, kepala sekolah mempunyai tugas sebagai berikut :
a)      Membuat rencana atau program sekolah secara menyeluruh
b)      Mendelegasikan tanggung jawab tertentu dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling
c)      Mengawasi pelaksanaan program
d)     Melengkapi dan menyediakan kebutuhan fasilitas bimbingan dan konseling
e)      Mempertanggungjawabkan program tersebut baik di dalam maupun di luar sekolah
f)       Mengadakan hubungan dengan lembaga-lembaga dalam rangka kerjasama pelaksanaan bimbingan.

 Konselor
              Peran dan tugas konselor di sekolah dalam kegiatan bimbingan dan konseling adalah :
a)      Menyusun program bimbingan dan konseling bersama kepala sekolah
b)      Bertanggung jawab terhadap jalannya program
c)      Memberikan laporan kegiatan kepada kepala sekolah
d)     Menerima dan mengklasifikasikan informasi pendidikan
e)     Menganalisis dan menafsirkan data siswa
f)      Menyelenggarakan pertemuan staf
g)     Melaksanakan bimbingan kelompok dan konseling individual
h)      Menilai proses dan hasil pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling
i)        Melakukan studi kelayakan
j)        Berkolaborasi dengan guru mata pelaajran
k)      Mengadministrasikan kegiatan program pelayanan bimbingan dan konseling.

Wali Kelas
            Peran dan tanggung jawab wali kelas adalah :
a)      Mengumpulkan data tentang siswa
b)      Mengadakan kegiatan orientasi
c)      Mengobservasi kegiatan siswa di rumah
d)     Meneliti kemajuan dan perkembangan siswa
e)      Bekerja sama dengan konselor dalam mengadakan pemeriksaan
f)       Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan maslah peserta didik.

Guru/Pengajar
            Tugas dan tanggung jawab guru dalam kegiatan ini adalah :
a)      Turut serta aktif dalam membantu melaksanakan kegiatan program BK
b)      Memberikan informasi kepada siswa
c)      Meneliti kesulitan dan kemajuan siswa
d)     Memberikan layanan intruksional
e)      Mengadakan hubungan dengan orang tua siswa
f)       Mengidentifikasi bakat siswa

Petugas Administrasi
            Tugas dan tanggung jawab petugas administrasi dalam kegiatan bimbingan dan konseling adalah :
a)      Mengisi kartu pribadi siswa
b)      Menyimpan catatan-catatan dan data lainnya
c)      Menyelesaikan laporan dan pengumpuilan data tentang siswa
d)     Menyiapkan alat-alat atau formulir-formulir pengumpulan data siswa

1.1.5.      Mekanisme Implementasi Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah

Untuk melaksanakan program bimbingan dan konseling di sekolah, konselor beserta personel sekolah perlu memperhatikan komponen kegiatan sebagai berikut :

a.      Komponen Pemrosesan Data
Kegiatan layanan bimbingan dan konseling di sekolah meliputi beberapa aspek, yaitu : (1) pengumpulan data, (2) pengklasifikasian, (3) penyediaan data yang diperlukan, (4) penyimpanan, (5) penafsiran. Data yang perlu diproses adalah tentang keadaan siswa di sekolah yang meliputi : (1) kemampuan skolastik, (2) cita-cita, (3) hubungan sosial, (4) minat terhadap mata pelajaran, (5) kebiasaan belajar, (6) kesehatan fisik, (7) pekerjaan orang tua, (8) keadaan keluarga.

b.      Komponen Kegiatan Pemberian Informasi
Komponen ini terdiri : (1) pemberian orientasi kehidupan sekolah kepada siswa. (2) pemberian informasi tentang program studi kepada siswa yang dipandang memerlukannya, (3) pemberian informasi jabatan kepada siswa, (4) pemberian informasi pendidikan lanjutan.

c.       Komponen Kegiatan Konseling
Konseling dilakukan terhadap siswa yang mengalami masalah yang sifatnya lebih pribadi. Jika ada masalah yang tidak dapat diatasi oleh petugas yang bersangkutan, perlu di alihtangankan kepada pihak yang lebih ahli.

d.      Komponen Pelaksana
Pelaksana jenis kegiatan tersebut adalah konselor sekolah, konselor bersama guru bidang studi dan juga kepala sekolah sesuai dengan fungsi peranannya masing-masing.

e.       Komponen Metode/Alat
Alat yang dipakai untuk melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan itu adalah: angket kartu pribadi, konseling dan sebagainya.

f.        Komponen Waktu Kegiatan
Jadwal kegiatan layanan dapat dilakukan pada awal tahun pelajaran atau waktu lain tergantung  dari jenis atau macam kegiatan yang akan dilakukan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

g.      Komponen Sumber Data
Data yang diperlukan dapat diperoleh langsung dari siswa yang bersangkutan. Hal ini tergantung atau jenis data yang diperlukan. Semua kegiatan ini dikoordinasikan oleh konselor dan dipertanggungjawabkan kepada kepala sekolah.


1.2. Pengertian Diagnosis Kesulitan Belajar

Dalam proses pembelajaran, tugas guru tidak hanya sekedar menyampaikan atau mentransfer ilmu atau bahan pelajaran kepada peserta didik. Guru sebagai pendidik dituntut untuk bertanggung jawab atas perkembangan peserta didik. Kegiatan memahami kesulitan belajar peserta didik ini dikenal dengan istilah diagnosis kesulitan belajar. Dalam pengertian diagnosis kesulitan belajar terdapat dua istilah yang perlu dipahami terlebih dahulu yaitu istilah diagnosis dan kesulitan belajar. Banyak ahli mengemukakan pendapatnya mengenai pengertian diagnosis antara lain, menurut Harriman dalam bukunya Handbook of Psychological Term, diagnosis adalah suatu analisis terhadap kelainan atau salah penyesuaian dari pola gejala-gejalanya. Jadi diagnosis merupakan proses pemeriksaan terhadap hal-hal yang dipandang tidak beres atau bermasalah.
Sedangkan menurut Webster, diagnosis diartikan sebagai proses menentukan hak menentukan permasalahan kikat kelainan atau ketidakmampuan dengan ujian, dan melalui ujian tersebut dilakukan suatu penelitian yang hati-hati terhadap fakta-fakta yang dijumpai , yang selanjutnya untuk menentukan permasalan yang dihadapi. Maka dapat disimpulkan bahwa diagnosis adalah penentuan jenis masalah atau kelainan dengan meneliti latar belakang penyebabnya atau dengan cara menganalisis gejala-gejala yang tampak. Setelah kita pahami pengertian diagnosis, selanjutnya kita bahas mengenai kesulitan belajar. Kesulitan belajar adalah suatu gejala yang nampak pada peserta didik yang ditandai dengan adanya prestasi belajar yang rendah atau dibawah norma yang telah ditetapkan. bahwa kesulitan belajar itu menunjukkan adanya suatu jarak antara prestasi akademik yang diharapkan dengan prestasi akademik yang dicapai oleh peserta didik (prestasi actual). Blassic dan Jones juga mengatakan bahwa peserta didik yang memiliki intelegensi normal, tetapi menunjukkan satu atau beberapa kekurangan yang penting dalam proses belajar, baik dalam persepsi, ingatan, perhatian ataupun dalam fungsi motoriknya.
Jadi kesulitan belajar yang dialami peserta didik tidak selalu disebabkan oleh intelegensi atau angka kecerdasannya yang rendah. Kesulitan atau hambatan belajar yang dialami oleh peserta didik dapat berasal dari faktor fisiologik, psikologik, instrument, dan lingkungan belajar. Maka dapat disimpulkan bahwa diagnosis kesulitan belajar merupakan proses menentukan masalah atau ketidakmampuan peserta didik dalam belajar dengan meneliti latar belakang penyebabnya dan atau dengan cara menganalisis gejala-gejala kesulitan atau hambatan belajar yang nampak.
Berikut ini akan dikemukakan permasalahan belajar peserta didik menurut Warkitri dkk (1990) sebagai berikut :
1. Kekacauan Belajar (Learning Discorer) yaitu suatu keadaan dimana proses belajar anak terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan.
2. Ketidakmampuan Belajar (Learning Disability) yaitu suatu gejala anak tidak mampu belajar atau selalu menghindari kegiatan belajar dengan berbagai sebab sehingga hasil belajar yang dicapai berada dibawah potensi intelektualnya.
3. Learning Disfunction yaitu kesulitan belajar yang mengacu pada gejala proses belajar yang tidak dapat berfungsi dengan baik, walaupun anak tidak menunjukkan adanya subnormal mental, gangguan alat indera ataupun gangguan psikologis yang lain.
4. Under Achiever, adalah suatu kesulitan belajar yang terjadi pada anak yang memiliki potensi intelektual tergolong di atas normal tetapi prestasi belajar yang dicapai tergolong rendah.
5. Lambat Belajar (Slow Learner) adalah kesulitan belajar yang disebabkan anak sangat lambat dalam proses belajarnya, sehingga setiap melakukan kegiatan belajar membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan anak lain yang memiliki tingkat potensi intelektual yang sama.

1.2.1.            Gejala dan Ciri Kesulitan Belajar

Gejala kesulitan belajar 

Kesulitan atau masalah belajar dapat dikenal berdasarkan gejala yang dimanifestasikan dalam berbagai bentuk perilaku, baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Menurut Warkitri dkk, 1990 : 8.5 – 8.6 (Ebekunt;2009,http://ebekunt.wordpress.com), individu yang mengalami kesulitan belajar menunjukkan gejala sebagai berikut:
a.       Hasil belajar yang dicapai rendah dibawah rata-rata kelompoknya.
b.      Hasil belajar yang dicapai sekarang lebih rendah dibanding sebelumnya.
c.       Hasil belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan.
d.      Lambat dalam melakukan tugas-tugas belajar.
e.       Menunjukkan sikap yang kurang wajar, misalnya masa bodoh dengan proses belajar dan pembelajaran, mendapat nilai kurang tidak menyesal, dst.
f.       Menunjukkan perilaku yang menyimpang dari norma, misalnya membolos, pulang sebelum waktunya, dst.
g.      Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, misalnya mudah tersinggung, suka menyendiri, bertindak agresif, dan sebagainya.
Sedangkan Abu Daud (http://abudaud2010.blogspot.com) menjelaskan bahwa Kesulitan belajar pada dasarnya suatu gejala yang nampak dalam berbagai jenis manifestasi tingkah laku. Gejala kesulitan belajar akan dimanifestasikan baik secara langsung maupun tidak langsung, juga dalam berbagai bentuk tingkah laku. Misalnya saja, sesuai dengan pengertian kesulitan belajar, tingkah laku yang dimanifestasikannya ditandai dengan adanya hambatan-hambatan tertentu. Gejala ini akan tampak dalam aspek motorik, kognitif, konatif (kehendak) dan afektif baik dalam proses maupun hasil belajar yang dicapainya. Contoh sulit dan lambat dalam berkomunikasi.Dari kutipan di atas, dapat dibuat sebuah kesimpulan bahwa gejala-gejala yang menunjukkan individu mengalami kesulitan belajar, yaitu:
1.      Hasil belajar yang dicapai berada dibawah rata-rata kelas, lebih rendah dari hasil belajar sebelumnya, serta tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan.
2.      Individu lambat dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah yang diberikan oleh guru.
3.      Menunjukkan sikap yang masa bodoh, sering bolos ataupun tidak masuk sekolah, serta mudah tersinggung dan menyendiri.

Ciri  kesulitan belajar

Adapun ciri-ciri kesulitan belajar yang dialami oleh siswa seperti berikut ini (Mutiara Endah; 2010, http://mutiaraendah.wordpress.com):
A .Gangguan persepsi visual
1)      Melihat huruf/angka dengan posisi yang berbeda dari yang tertulis, sehingga seringkali terbalik dalam menuliskan kembali
2)      Sering tertinggal huruf dalam menulis
3)      Menuliskan kata dengan urutan yang salah misalnya ibu jadi ubi
4)      Sulit memahami kanan dan kiri
5)      Bingung membedakan antara obyek dengan latar belakang
6)      Sulit mengkoordinasi antara mata (penglihatan) dengan tindakan (tangan, kaki)
B . Gangguan persepsi auditori
1)      Sulit membedakan bunyi: menangkap secara berbeda apa yang didengarnya
2)     Sulit memahami perintah terutama perintah yang diberikan dalam jumlah banyak dan kalimat yang panjang
3)      Bingung dan kacau dengan bunyi yang datang dari berbagai penjuru sehingga sulit mengikuti diskusi karena saat mencoba mendengar sebuah informasi sudah mendapatkan gangguan dari suara lain di sekitarnya
C. Gangguan bahasa
1)      Sulit menangkap dan memahami kalimat yang dikatakan kepadanya
2)      Sulit mengkoordinasikan/mengatakan apa yang sedang dipikirkan
D. Gangguan persepsi –motorik
1)      Kesulitan motorik halus (sulit mewarnai, menggunting, melipat, menempel, menulis rapi, memotong, dll )
2)      Memiliki masalah dalam koordinasi dan disorientasi yang mengakibatkan canggung dan kaku dalam eraknya
E. Hiperaktivitas
1)      Sukar mengontrol aktivitas motorik dan selalu bergerak/menggerakkan sesuatu (tidak bisa diam)
2)      Berpindah-pindah dari satu tugas ke tugas berikutnya tanpa menyelesaikan terlebih dahulu
3)      Impulsif
F. Kacau (distractibility)
1)      Tidak dapat membedakan stimulus yang penting dan tidak penting
2)      Tidak teratur, karena tidak memiliki urutan-urutan dalam proses berpikir
3)      Perhatiannya sering berbeda dengan apa yang sedang dikerjakan (melamun/berhayal saat belajar di kelas)
Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa ciri-ciri kesulitan belajar yang dialami oleh siswa, yaitu:
1.      Dilihat dari pesepsi visualnya, ciri-ciri kesulitan belajar yang dialami oleh siswa seperti pada saat menulis, siswa sering menulis dengan salah satu huruf yang tertinggal atau tidak lengkap.
2.      Dilihat dari persepsi auditori, ciri-cirinya seperti siswa sulit memahami perintah yang disampaikan oleh guru.
3.      Dilihat dari segi bahasa, cirinya seperti siswa sulit memahami kalimat yang disampaikn kepadanya serta sulit mengungkapkan apa yang sedang dipikirkannya.
1.2.2.  Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kesulitan Belajar

Latar belakang terjadinya kesulitan belajar atau ketidakberesan dalam belajar banyak sekali macam ragamnya. Tetapi bila penyebab kesulitan belajar itu dikaitkan dengan faktor-faktor yang berperanan dalam belajar, maka penyebab kesulitan belajar itu dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar yaitu faktor yang berasal dari dalam diri pelajar (faktor internal) yang meliputi: kemampuan intelektual,afeksi seperti perasaan dan percaya diri, motivasi, kematangan untuk belajar, usia, jenis kelamin, kebiasaan belajar, kemampuan mengingat, dan kemampuan pengindraan seperti melihat, mendengarkan, dan merasakan(Fontana, 1981). Sedang faktor yang berasal dari luar pelajar (faktor eksternal) meliputi faktor-faktor yang berkaitan dengan kondisi proses pembelajaran yang meliputi: guru, kualitas pembelajaran, instrumen atau fasilitas pembelajaran baik yang berupa hardware maupun software serta lingkungan, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam.
Menyimak faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar tersebut di atas, maka peserta didik mengalami kesulitan belajar atau ketidakberesan dalam belajar, ditunjukkan oleh hasil belajar yang rendah. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal seperti yang dikemukakan oleh Noehi Nasution. (1992: 215)
1. Rendahnya kemampuan intelektual anak         7. Kebiasaan belajar yang kurang baik
2. Gangguan perasaan atau emosi                         8. Kemampuan mengingat yang rendah
3. Kurangnya motivasi untuk belajar                    9. Terganggunya alat-alat indera
4. Kurang matangnya anak untuk belajar             10. Proses belajar mengajar yang tidak sesuai
5. Usia yang terlampau muda                               11. Tidak adanya dukungan dari lingkungan         belajar.

Untuk lebih lengkapnya,  pandangan ahli yang lain yang berkaitan dengan permasalahan belajar yang dialami peserta didik, baik faktor internal maupun eksternal. Dimyati dan Mudjiono(1994: 228-235) mengemukakan faktor-faktor internal yang mempengaruhi proses belajar sebagai berikut:
1. Sikap terhadap belajar                                 7. Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil kerja
2. Motivasi belajar                                           8. Rasa percaya diri siswa
3. Konsentrasi belajar                                      9. Inteligensi dan keberhasilan belajar
4. Mengolah bahan ajar                                   10. Kebiasaan belajar
5. Menyimpan perolehan hasil belajar 11. Cita-cita siswa

Sedang faktor eksternal yang berpengaruh terhadap proses belajar meliputi:
1. Guru sebagai Pembina siswa belajar           4. Lingkungan sosial siswa disekolah
2. Sarana dan prasarana pembelajaran            5. Kurikulum sekolah
3. Kebijakan penilaian
2.1.3. Prosedur Pelaksanaan Diagnosis Kesulitan Belajar

Guru dalam proses pembelajaran menghadapi peserta didik yang beranekaragam karakteristiknya. Perbedaan peserta didik berkaitan dengan kapasitas intelektual, keterampilan, motivasi, sikap, kemampuan, minat, latar belakang kehidupan keluarganya dan lain-lainnya. Perbedaan ini cenderung berakibat adanya perbedaan dalam belajar bagi setiap peserta didik baik dalam kecepatan belajarnya maupun keberhasilan belajar yang dicapainya.
Langkah-langkah melaksanakan diagnosis kesulitan belajar yaitu :
1. Mengidentifikasi peserta didik yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar.
Dengan cara mengenali latar belakang baik psikologis maupun non psikologis. Kasus kesulitan belajar dapat diketahui melalui :
a. Analisis Perilaku  
Peserta didik yang mengalami kesulitan belajar dapat diketahui melalui observasi atau laporan proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran dapat diketahui :
1) Cepat lambatnya menyelesaikan tugas
2) Kehadiran dan ketekunan dalam proses pembelajaran
3) Peran serta dalam mengerjakan tugas kelompok
4) Kemampuan kerjasama dan penyesuaian sosial
b. Analisis Prestasi Belajar
Dapat dilakukan dengan cara menghimpun dan menganalisis hasil belajar serta menafsirkannya. Dalam menafsirkan hasil belajar peserta didik harus menggunakan norma yaitu Penilaian Acuan Norma (PAN) dan Penilaian Acuan Patokan (PAP)

2. Melokalisasi Letak Kesulitan Belajar
Dapat kita lakukan dengan cara mengetahui dalam mata pelajaran atau bidang studi apa kesulitan itu terjadi, kemudian aspek atau bagian mana kesulitan belajar itu dirasakan oleh peserta didik. Untuk menemukan bidang studi apa peserta didik mengalami kesulitan belajar dapat dilakukan dengan cara membandingkan skor prestasi yang diperoleh peserta didik dengan nilai rata-rata dari masing-masing bidang studi. Sedangkan untuk mengetahui aspek atau bagian mana kesulitan belajar itu dirasakan oleh peserta didik dapat dilakukan dengan memeriksa hasil pekerjaan tes.
3. Menentukan Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
Dapat dilakukan dengan cara meneliti faktor-faktor yang ada pada diri peserta didik (internal) dan faktor-faktor yang berada di luar peserta didik (eksternal) yang menghambat proses belajar dan atau pembelajaran.

4. Memperkirakan Alternatif Bantuan
Langkah yang akan ditempuh dengan cara menjawab beberapa pertanyaan berikut ini:
a. Apakah peserta didik masih mungkin ditolong untuk mengatasi kesulitannya?
b. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengatasi kesulitan peserta didik?
c. Kapan dan dimana pertolongan dapat diberikan kepada peserta didik?
d. Siapa yang dapat memberikan pertolongan?

1.3.            Peranan Guru Dalam Pelaksanaan Bimbingan di Sekolah
Peranan guru dalam bimbingan di sekolah dapat di bedakan menjadi dua, yaitu : (a) tugas dalam layanan bimbingan dalam kelas dan (b) di luar kelas.

a.      Tugas Guru dalam Layanan Bimbingan di kelas
Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) mengemukakan beberapa hal yang harus diperhatikan guru dalam proses belajar-mengajar sesuai dengan fungsinya dan pembimbing, yaitu :
a)      Perlakuan terhdap siswa didasarkan atas keyakinan bahwa sebagai individu, siswa memiliki potensi untuk dikembangkan dan maju serta mampu mengarahkan dirinya sendiri untuk madiri.
b)      Sikap yang positif dan wajar terhadap siswa
c)      Pemahaman siswa secara empatik
d)     Penerimaan siswa apa adanya
e)      Penghargaan terhadap martabat siswa sebagai individu

Abu Ahmadi (1977) mengemukakan peran guru sebagai pembimbing dalam melaksanakan proses belajar-mengajar, sebagai berikut :
a)      Menyediakan kondisi dan kesempatan bagi setiap siswa untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
b)      Membantu memilih jabatan yang cocok, sesuai dengan bakat, kemampuan dan minatnya.
c)      Mengusahakan siswa-siswa agar dapat memahami dirinya, kecakapan-kecakapan sikap, minat, dan pembawaannya.
d)     Mengembangkan sikap-sikap dasar bagi tingkah laku sosial yang baik.
            Di samping tugas-tugas tersebut, guru juga dapat melakukan tugas bimbingan dalam proses pembelajaran seperti berikut :
a)      Melaksanakan kegiatan diagnostic kesulitan belajar.
b)      Memberikan bantuan sesuai dengan kemampuan dan kewenangannya kepada murid dalam memecahkan masalah pribadi.

b.      Tugas Guru dalam Operasional Bimbingan di Luar Kelas
      Tugas-tugas guru dalam layanan bimbingan di luar kelas antara lain :
a)      Memberikan pengajaran perbaikan (remedial teaching)
b)      Memberikan pengayaan dan pengembangan bakat siswa
c)      Melakukan kunjungan rumah (home visit)
d)     Menyelenggarakan kelompok belajar

1.3.1.      Kerjasama Guru dengan Konselor dalam Layanan Bimbingan
            Dalam kegiatan-kegiatan belajar-mengajar sangat diperlukan adanya kerja sama antara guru dengan konselor demi tercapainya tujuan yang diharapkan. Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) mengutip pendapat Miller yang mengatakan bahwa :
a)      Proses belajar menjadi sangat efektif, apabila bahan yang dipelajari dikaitkan langsung dengan tujuan-tujuan pribadi siswa.
b)      Guru yang memahami siswa dan masalah-masalah yang dihadapinya, lebih peka terhadap hal-hal yang dapat memperlancar dan mengganggu kelancaran kelas.
c)      Guru dapat memperhatikan perkembangan masalah atau kesulitan siswa secara lebih nyata.
            Guru juga mempunyai beberapa keterbatasan. Menurut Koestoer Partowisastro (1982) keterbatasan-keterbatasan guru tersebut antara lain :
a)      Guru tidak mungkin lagi menangani masalah-masalah siswa yang bermacam-macam, karena guru tidak terlatih untuk melaksanakan tugas  itu.
b)      Guru sendiri sudah berat tugas mengajarnya, sehingga tidak mungkin lagi di tambah tugas yang banyak untuk memecahkan masalah-masalah siswa.

1.3.2.      Cara Mengatasi Kesulitan Belajar

Peranan guru sangat penting dalam pelaksanaan proses pembelajaran, selain sebagai nara sumber guru juga merupakan pembimbing dan pengayom bagi para murid yang ada dalam suatu kelompok belajar. Hal tersebut sesuai dengan ungkapan T. Rustandy (1996 : 71) yang mengatakan bahwa : Guru memegang peranan sentral dalam proses pembelajaran, memiliki karakter dan kepribadian masing-masing yang tercermin dalam tingkah laku pada waktu pelaksanaan proses pembelajaran. Pola tingkah laku guru dalam proses pembelajaran biasanya ditiru oleh siswa dalam perjalanan hidup sehari-hari, baik di lingkungan keluarga ataupun masyarakat, karena setiap siswa mempunyai keragaman dalam hal kecakapan maupun kepribadian. Keragaman kecakapan dan kepribadian ini mempengaruhi terhadap situasi yang dihadapi dalam proses pembelajaran. Tetapi menurut Brenner (1990) sebenarnya pendidikan anak prasekolah terefleksi dalam alat-alat perlengkapan dan permainan yang tersedia, cara perlakuan guru terhadap anak, adegan dan desain kelas, serta bangunan fisik lainnya yang disediakan untuk anak. (M. Solehuddin, 1997 : 55). Beberapa cara mengatasi kesulitan dalam belajar dapat dilakukan dengan cara belajar yang efektif dan efisien. Cara demikian merupakan problematika yang perlu mendapatkan perhatian cukup serius. Orang tua dan guru kelas kerap kali memberikan saran-saran kepada siswa agar rajin belajar karena rajin adalah pangkal cerdas. Orang cerdas akan mampu mengembangkan dirinya sesuai dengan perkembangan zaman yang serba kompleks.Berikut ini beberapa alternatif dalam kesulitan belajar :
1. Observasi Kelas
Pada tahap ini observasi kelas dapat membantu mengurangi kesulitan dalam tingkat pelajaran, misalnya memeriksa keadaan secara fisik bagaimana kondisi kelas dalam kegiatan belajar, cukup nyaman, segar, sehat dan hidup atau tidak. Kalau suasana kelas sangat nyaman, tenang dan sehat, maka itu semua dapat memotivasi siswa untuk belajar lebih semangat lagi.
2. Pemeriksaan Alat Indera
Dalam hal ini dapat difokuskan pada tingkat kesehatan siswa khusus mengenai alat indera. Diupayakan minimal dalam sebulan sekali pihak sekolah melakukan tes atau pemeriksaan kesehatan di Puskesmas / Dokter, karena tingkat kesehatan yang baik dapat menunjang pelajaran yang baik pula. Maka dari itu, betapa pentingnya alat indera tersebut dapat menstimulasikan bahan pelajaran langsung ke diri individu.
3. Teknik Main Peran
Disini, seorang guru bisa berkunjung ke rumah seorang murid. Di sana seorang guru dapat leluasa melihat, memperhatikan murid berikut semua yang ada di sekitarnya. Di sini guru dapat langsung melakukan wawancara dengan orang tuanya mengenai kepribadian anak, keluarga, ekonomi, pekerjaan dan lain-lain. Selain itu juga, guru bisa melihat keadaan rumah, kondisi dan situasinya dengan masyarakat secara langsung.
4. Tes Diagnostik Kecakapan/Tes IQ/Psikotes
Dalam hal ini seorang guru dapat mengetahui sejauh mana IQ seseorang dapat dilihat dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan praktis dan sederhana. Dengan latihan psikotes dapat diambil beberapa nilai kepribadian siswa secara praktis dari segi dasar, logika dan privasi seseorang.
5. Menyusun Program Perbaikan
Penyusunan program hendaklah dimulai dari segi pengajar dulu. Seorang pengajar harus menjadi seorang yang konsevator, transmitor, transformator, dan organisator. Selanjutnya lengkapilah beberapa alat peraga atau alat yang lainnya yang menunjang pengajaran lebih baik, karena dengan kelengkapan-kelengkapan yang lebih kompleks, motivasi belajarpun akan dengan mudah didapat oleh para siswa. Hendaklah semua itu disadari sepenuhnya oleh para pengajar sehingga tidak ada lagi kendala dan hambatan yang dapat mempengaruhi kegiatan belajar. Selain itu tingkat kedisiplinan yang diterapkan di suatu sekolah dapat menunjang kebaikan dalam proses belajar. Disiplin dalam belajar akan mampu memotivasi kegiatan belajar siswa. Alternatif lain yang dapat diambil guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswanya. Akan tetapi sebelum pilihan tertentu diambil, guru sangat diharapkan untuk terlebih dahulu melakukan beberapa langkah berikut ini :
a. Menganalisis hasil diagnosis, yakni menelaah bagian-bagian masalah dan hubungan antar bagian tersebut untuk memperoleh pengertian yang benar mengenai kesulitan belajar yang dihadapi siswa.
b. Mengidentifikasi dan menentukan bidang kecakapan tertentu yang memerlukan adanya perbaikan.
c. Menyusun program perbaikan.
Dalam menyusun program pengajaran perbaikan diperlukan adanya ketetapan sebagai berikut:
a. Tujuan pengajaran remedial
Contoh dari tujuan pengajaran remedial yaitu siswa dapat memahami kata “tinggi”, “pendek” dan “gemuk” dalam berbagai konteks kalimat.
b. Materi pengajaran remedial
Contoh materi pengajaran remedial yaitu dengan cara lebih khusus dalam mengembangkan kalimat-kalimat yang menggunakan kata-kata seperti di atas.
c. Metode pengajaran remedial
Contoh metode pengajaran remedial yaitu dengan cara siswa mengisi dan mempelajari hal-hal yang dialami oleh siswa tersebut dalam menghadapi kesulitan belajar.
d. Alokasi waktu
Contoh alokasi waktu remedial misalnya waktunya Cuma 60 menit.
e. Teknik evaluasi pengajaran remedial
Contoh teknik evaluasi pengajaran remedial yaitu dengan menggunakan tes isian yang terdiri atas kalimat-kalimat yang harus disempurnakan, contohnya dengan menggunakan kata tinggi, kata pendek, dan kata gemuk.
Selanjutnya untuk memperluas wawasan pengetahuan mengenai alternatif-alternatif atau cara-cara pemecahan masalah kesulitan belajar siswa, guru sangat dianjurkan mempelajari buku-buku khusus mengenai bimbingan dan penyuluhan. Selain itu, guru juga sangat dianjurkan untuk mempertimbangkan penggunaan model-model mengajar tertentu yang dianggap sesuai sebagai alternatif lain atau pendukung cara memecahkan masalah kesulitan belajar siswa.
Keaktifan siswa tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi juga dari segi kejiwaan. Bila hanya fisik anak yang aktif, tetapi fikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini sama halnya dengan siswa tidak belajar, karena siswa tidak merasakan perubahan di dalam dirinya, padahal pada hakekatnya belajar adalah “perubahan” yang terjadi dalam diri seseorang yang telah berakhirnya melakukan aktivitas belajar.
Penerapan sikap dan pembentukan kepribadian pada diri siswa harus dioptimalkan, mengingat keberhasilan suatu proses pembelajaran bukan diukur oleh adanya penambahan dan perubahan pengetahuan serta keterampilan saja, namun nilai sikap harus terakomodasi, sebab dengan perubahan sikap akan menentukan terhadap perubahan kognitif ataupun psikomotor.
Sama halnya dengan belajar, mengajar pun pada hakekatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar. Pada tahap berikutnya mengjar adalah proses memberikan bimbingan, bantuan kepada siswa dalam melakukan proses belajar.
Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah interaksi antara guru dengan peserta didik dan antara peserta didik dengan peserta didik lainnya, serta dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan tingkah laku pada diri peserta didik. Agar proses belajar mengajar tersebut berlangsung secara efektif selain diperlukan alat peraga sebagai pelengkap yang digunakan guru dalam berinteraksi dengan peserta didik diperlukan pula aturan dan tata tertib yang baku agar dalam pelaksanaannya teratur dan tidak menyimpang.
Dari hakikat proses belajar mengajar, pembelajaran merupakan proses komunikasi, maka pembelajaran seyogyanya tidak atraktip melainkan harus demokrasi. Siswa harus menjadi subjek belajar, bukan hanya menjadi pendengar setia atau pencatat yang rajin, tetapi siswa harus aktif dan kreatif dalam berbagai pemecahan masalah. Dengan demikian guru harus dapat memilih dan menentukan pendekatan dan metode yang disesuaikan dengan kemampuannya, kekhasan bahan pelajaran, keadaan sarana dan keadaan siswa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar